
Brian menoleh saat Dito menghampiri nya. Dito semakin di buat penasaran lantaran Brian, pria arogan itu memeluknya dan menepuk-nepuk punggungnya. Pria itu bahkan tidak memperdulikan tatapan beberapa orang yang melihat keanehan dirinya. Seorang pria memeluk pria lain mesra, apa mereka sudah gila.
"Om Brian, jadi ini alasan kenapa Om udah gak sayang lagi sama Byan?"
Dito membulatkan matanya, buru-buru dia mendorong tubuh Brian hingga pria itu pun kini berbalik menatap wanita cantik yang kini sedang menatapnya dengan tatapan membunuh. Pria itu berlari menghampiri Byan, berlutut di depan kursi roda istrinya, dan mengecup punggung tangan istrinya berkali-kali.
"Terima kasih Sayang, terima kasih karena kau sudah baik-baik saja, aku pikir aku akan kehilangan dirimu. Maafkan aku."
Byan menautkan alisnya, melirik kerumunan orang-orang. Kepalanya terangguk tak kala dia melihat seorang wanita yang sedang hamil besar di angkut oleh para medis. Suaminya pasti salah paham, dia berpikir jika wanita hamil itu adalah dirinya. Pantas saja dia sangat emosional. Bahkan sampai memeluk Dito, padahal dia belum pernah melihat Brian bersentuhan sedekat itu dengan orang lain.
"Om!" Byan mengusap kepala suaminya. Sebenarnya Byan merasa agak aneh, sejak dia hamil, Brian mejadi sangat sensitif, terlebih setelah kejadian dimana dia dan bayinya hampir kehilangan nyawa karena hipotermia. Pria yang dingin dan arogan ini menjadi sangat mudah menangis dan akan sangat panik ketika dia tidak bisa melihat Byan untuk suatu waktu.
"Byan gak papa. Tadi Byan ke toilet sebentar, tapi pas Byan balik ke toko, Om udah gak ada."
Brian mendongak, menatap istrinya lekat. "Kau tidak marah lagi?" tanya Brian dengan wajah sedihnya.
Byan mengangguk lalu menggeleng. "Byan tadi memang sedikit kesal, tapi sekarang Byan udah gak papa kok." Wanita itu berujar dengan senyum di bibirnya. Dia bertingkah seolah-olah tidak ada hal apapun yang terjadi.
"Sebaiknya kita pulang sekarang Tuan Muda, orang-orang mulai berkerumun ke arah kita."
Brian menetap Dito tidak suka, Byan yang melihat itu menarik tangan suaminya, menggelengkan kepala seolah mengatakan jika Dito tidak salah dan mereka memang harus segera pergi.
Brian pun menurut. Dia beranjak dari duduknya, mengecup bibir istrinya sekilas, lalu kembali ke belakang sang istri dan mendorong kursi itu menuju salah satu lift yanga kan membawa mereka ke basement. Terlihat beberapa orang yang merasa kecewa karena mereka kehilangan tontonan mereka, ya sikap pria yang seperti itu membuat mereka seperti sedang menonton sebuah drama, di mana seorang laki-laki gagah, tampan dan juga memiliki paras yang rupawan bersikap sangat lembut kepada istrinya yang sedang hamil besar, siapa yang ingin melewatkan kesempatan untuk melihat drama di real live seperti itu.
"Wanita itu sangat beruntung," ucap seseorang dengan senyum di bibirnya.
...----------------...
__ADS_1
Brian tergelak saat melihat puluhan paper bag berjejer memenuhi tempat tidurnya, pantas saja Byan tidak menolak saat di ajak pulang, ternyata dia memang sudah mengambil barang sebanyak ini. Brian tidak mempermasalahkan berapa banyak uang yang keluar, namun, mereka butuh waktu berapa jam untuk membereskan ini semua.
"Om!" pekikan dari walk in closet membuat Brian tersadar dari keterkejutannya. Dia berjalan menuju arah suara yang tadi.
"Ada apa Baby?"
Byan tersenyum sumringah, dengan langkah yang tertata, Byan menarik lengan suaminya, memperlihatkan sebuah objek yang sangat dia sukai.
"Sepatunya cantik kan Om?" tanya Byan menatap sepasang sepatu yang terpajang di dalam lemari kaca khusus di ruangan itu. "Byan gak sabar, kalau nanti anak kita perempuan, Byan bakal kasih pinjem sepatu Byan ini, dia pasti akan sangat cantik."
Brian terkekeh, sungguh, istrinya ini selalu membuat dia ingin tertawa, mereka memang belum tahu jenis kelamin anak-anak mereka karena mereka sengaja untuk tidak mengetahuinya lebih dulu, namun yang membuat Brian heran adalah, Byan mengatakan jika dia akan meminjamkan sepatutnya, lahir saja belum, butuh berapa belas tahun lagi supaya sepatu mungil itu bisa di pakai anaknya.
"Kenapa tidak berikan saja, kan sepatu mu banyak, masa sama anak cuma ngasih pinjem!" canda Brian mengikuti alur yang istrinya buat.
"Enak aja, gak bisa lah, sepatu ini sangat berharga untuk Byan, meskipun harus melewati beberapa drama dulu untuk mendapatkan sepatu ini, tapi Byan seneng karena Byan semakin tahu kalau Om bener-bener sayang sama Byan."
...----------------...
Di sebuah apartemen di kota Jakarta, seorang wanita cantik keluar dari dalam kamar mengendap-endap, wangi masakan yang menyeruak Indra penciumannya membuat dia tergiring dan berjalan mengikuti aroma wangi tersebut. Matanya berbinar menatap punggung kokoh nan tegap sang suami yang sedang sibuk di pantry.
"Kau sedang apa suamiku?" gumam Adelle menelusup kan kedua tangannya di perut sang suami, kembali aroma wangi itu menusuk indra penciumannya.
Pria itu mengulum senyum, menguap lembut punggung tangan Adelle dan kembali fokus pada masakan nya.
"Aku sedang membuat pasta, kau suka tidak?"
Adelle mengangguk di punggung Bima, wanita itu langsung menggeser tubuhnya hendak mengambil alih apa yang sedang Bima lakukan.
__ADS_1
"Aku saja yang lanjutkan, kau pasti masih lelah!" ucap Adelle menyentuh punggung tangan suaminya.
Bima menggeleng, melepaskan tangan Adelle paksa, perlahan, dia menarik tangan Adelle, menuntun wanita itu untuk menjauh dari meja kompor, Bima menelusup kan tangannya di antara ketiak Adelle, memangku tubuh ramping itu lalu mendudukkan Adelle di atas meja pantry.
"Tunggu di sini, masakannya sudah hampir selesai. Aku akan memberikannya padamu jika makanan nya sudah matang."
Adelle mengangguk, sembari menggoyangkan kakinya, dia menunduk mengecup bibir Bima sekilas.
"Pergilah!" titah Adelle mengibaskan tangannya, Bima tersenyum, dia berbalik dan kembali melihat masakan nya. Adelle tersipu, dia menyentuh wajahnya yang terasa sangat panas, memang benar kata orang, cinta itu bisa membuat kita gila, bahkan Adelle yang terkenal dingin dan tegas saat di kantor, meluruhkan cap-cap itu dari dirinya. Entah kenapa, ketika bersama dengan Bima, dia tidak bisa mengontrol dirinya untuk tidak bersikap manja. Meskipun Bima lima tahun lebih muda darinya, namun Adelle selalu merasa jika Bima itu adalah suami pengertian yang bisa mengimbangi juga mengayomi dirinya.
"Pastanya sudah matang." Bima memindahkan pasta itu ke dalam sebuah piring mengambil garpu dan berjalan mendekati Adelle.
"Buka mulutmu! "ucap Bima ketika dia menyodorkan sesuap pasta untuk sang istri.
Adele tersenyum sumringah, tentu saja dia membuka mulutnya, beberapa kali dia mengangguk-anggukan kepalanya merasakan pasta buatan sang suami, rasanya sangat gurih, asinnya pas, dan ada sedikit rasa manis di sana, mungkin inilah yang dinamakan pasta rasa cinta.
"Wooohhhhhhhhh, ini sangat enak Sayang!" puji Adelle dengan mata yang berbinar. "Kau memang pandai." Lanjutnya lagi.
Bima menggelengkan kepalanya, "kau tidak akan tahu, bagaimana ceritanya sampai aku bisa mahir memasak seperti ini."
"Maksudmu?" tanya Adelle tidak mengerti.
"Ini semua karena Byan."
To Be Continued.
Follow IG Author ya. Nanti Author follback. @anita_hisyam Thank you Yeorobun. Saranghae. 😘😘😘
__ADS_1