
Bian tidak mau turun dari pangkuan suaminya. Dia malah semakin nyaman bersandar pada dada bidang Brian dengan jemari yang mengusap-usap leher Bian gemas. Brian yang diperlakukan seperti itu menggeram dalam hati. Napasnya sesak, apalagi sesuatu yang ada di bawah sana, pengap juga semakin sakit.
"Bian hentikan!" ucap Brian dengan suara yang tertahan. Aldi dan Bima melirik Brian untuk sesaat. Mereka berdua mengulum senyum melihat wajah Brian yang sudah memerah padam.
Bian tidak memperdulikan geraman suaminya. Dia malah semakin asyik berselancar. Bahkan kini jemari tangannya kian bergerak ke leher bagian depan sang suami. Tangan itu dengan tidak sopan nya menyentuh dan mengelus jakun Brian yang terlihat sangat menggemaskan. Semakin Brian menaik turunkan jakunnya, Bian semakin di buat gemas dan ingin melahap jakun itu saat ini juga.
Cup!
Bian sedikit mengangkat tubuhnya lalu mengecup jakun Brian lembut. Bola mata Brian seperti ingin melompat. Tubuhnya gemetar, tubuh bagian intinya semakin nyeri seolah memaksa dia untuk melakukan pelepasan saat itu juga.
Settttt!
__ADS_1
Brukkkkk!
Brian menahan pergelangan tangan Bian dan memojokan gadis itu di jok mobil. Tubuh kekarnya mengukung tubuh mungil Bian membuat gadis itu tidak bisa bergerak melawan.
Bima meneguk saliva melihat adegan yang sangat luar biasa itu. Sedangkan Aldi, dia mengepalkan kedua tangannya berusaha untuk tidak cemburu. Aldi tahu mereka sudah resmi menjadi sepasang suami istri, tapi bisakah untuk tidak bermesraan di depan matanya? Aldi bukan patung, dia juga bukan pohon pisang yang memiliki jantung tapi tidak memiliki hati. Aldi manusia normal yang bisa broken heart juga bisa merah melihat gadis yang dia cintai malah bermesraan dengan orang lain, meskipun itu bukan orang lain namun siaminya sendiri. Namun tetap saja. Aldi merasa sakit hati.
Brian menatap bola mata Bian lekat. Gadis itu mengerejapkan matanya lucu. Brian yang tadi ingin menerkam gadis itu mendadak luluh melihat wajah polos yang di tunjukan oleh istrinya. Sudah satu bulan lebih Brian tidak menyentuh bibir Bian, alasannya adalah karena gadis itu terus menolak dengan dalih, dia tidak akan mau di cium oleh Brian, kecuali dia yang mencium Brian duluan.
"Sepertinya kau tidak sakit Boncel, kenapa kau harus berbohong?" Tanya Brian sembari merapikan pakaian yang dia kenakan. Bian tersenyum. Dia duduk lalu menyilangkan kedua kakinya. "Bian sengaja melakukannya Om."
Brian melotot menatap Bian, dia ingin menyela namun Bian meletakan telapak tangannya di depan bibir Brian.
__ADS_1
"Dengar Om, Bian tidak akan kalah dari pelakor itu. Bian akan membuat dia pergi dari kehidupan Om. Kak Bima, Aldi, Ibu dan Ayah juga ada di pihak Bian. Kalian tidak akan pernah bisa melawan kami."
Brian semakin tercengang mendengar perkataan istrinya. "Maksudnya, Ibu tahu kalau aku punya pacar?" Tanya Brian.
Bian mengangguk mantap. "Tentu saja, tadinya Ibu sangat marah karena takut Bian terluka. Tapi, Bian udah bilang sama Ibu, kalau Bian akan melawan pelakor itu dengan usaha Bian sendiri. Kalau di drama Korea, istri sah selalu kalah dari pelakor, tapi Bian gak mau seperti itu. Bian maunya Bian yang menang."
Bima dan Aldi mengangguk setuju. Bian semakin tersenyum puas. Sementara Brian, dia memijit pelipisnya merasa pusing menghadapi keluarganya yang lebih membela Bian daripada dirinya.
"Sepertinya aku ini hanya anak pungut," ucap Brian dengan suara yang lesu.
To Be Continued.
__ADS_1