
"Bagaimana saksi, sah?"
"Sah!" ucap para saksi yang hadir dalam acara pernikahan itu serentak. Adelle menunduk disela-sela doa nya, dia melirik sang suami, menyenggol kaki Bima dengan kakinya namun suaminya itu bergeming. Okelah, untuk sekarang Adelle mengalah, dia tidak akan menggangu suami brondong miliknya, namun nanti, dia tidak akan segan-segan untuk membuat Bima bertekuk lutut dan memohon padanya.
"Alhamdulillah!"
Semua orang terlihat pernikahan Bima dan Adelle berjalan dengan lancar. Sebenarnya ini adalah acara super dadakan, semuanya di siapkan dalam waktu kurang dari satu Minggu, jika Brian dan Byan dulu hanya menggunakan beberapa jasa WO yang berbeda, pernikahan Bima ini menggunakan belasan WO terbaik di kota itu.
"Om!"
"Iya Baby!"
"Byan penasaran, pertandingan malam ini menurut Om siapa yang akan menang?" tanya Byan sembari menatap sepasang pengantin yang sedang melakukan pemotretan dengan beberapa keluarga dari pihak mempelai perempuan.
"Menurut mu siapa yang akan menang?" bisik Brian membuat Byan refleks menoleh. Wanita hamil itu memincing kan matanya. Melihat wajah mesum sang suami refleks dia menutup mata dengan kedua tangannya, kejadian malam pertama mereka berdua tiba-tiba terlintas begitu saja.
"Apa kau sudah memiliki jawaban nya?" tanya Brian menaik turunkan alisnya.
Byan mengangguk, namun kemudian dia menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?" tanya Brian merasa agak sedikit heran.
"Ya gak papa, tapi kan Byan sama Kak Adelle itu beda jauh Om. Om lihat saja, dari tadi yang terlihat agresif itu Kak Adelle bukan Kak Bima, Kak Bima ini jenis kucing apa sebenarnya, biasanya laki-laki kan suka kalau di sentuh-sentuh perempuan, tapi kenapa ya Kak Bima seperti biasa aja. Apa jangan-jangan dia impoten!"
"Hush!" Brian membekap mulut istrinya, dia celingukan melihat area sekitar, bisa gawat jika ada orang yang mendengar dan menyebarkan gosip tidak jelas bisa hancur nama keluarga besarnya.
"Baby, Bima itu normal. Kalau di tanya dia kucing jenis apa aku kurang tahu, mungkin aja kucing pemalu, terlihat tidak tertarik di depan orang namun akan menerkam sampai habis saat tidak ada siapapun."
"Akh, Byan mengerti. Jadi masih 50:50 ya siapa yang menang dan yang kalah ini." Brian mengangguk, senyum mengembang di bibirnya, dapat, Brian merasa sangat gemas mendengar celotehan Byan. Percakapan konyol seperti ini yang selalu membuat Brian merasa lebih dan lebih sayang kepada Byan, wanita yang mengandung anak-anaknya ini seolah tahu kapan dia harus berbicara serius, kapan dia harus bercanda, namun jika di lihat dari wajah datarnya, Brian berpikir jika Byan ini sedang serius.
"Ngobrolin apa bumil? Serius amat!"
Byan menoleh, segerombolan orang datang dan duduk di antara kursi yang ada di meja bundar yang ada di ballroom.
__ADS_1
"Ada aja, kamu gak harus tahu, kerja aja yang rajin biar bisa nyusul aku sama Tania."
Dita menggeleng kan kepalanya. "Ogah akh, aku mau pacaran dulu, repot nanti kalau punya bayi, masa anak kecil gendong anak kecil."
Anandita terkekeh melihat wajah kesal Byan. Sahabat sekaligus adik iparnya itu ternyata sadar jika dirinya sedang membicarakan Byan.
"Ini rekor Dit, jangan sembarangan. Awas aja kalau nanti kamu pengen ketemu sama anak-anak gue, gak gue kasih. Mana boleh dia punya bibi bar-bar kayak gini, bisa tercemar otak anak-anak gue nanti."
Haris tertawa mendengar celotehan adiknya, sedangkan Anandita mendengus sambil menatap tajam Haris.
"Eumh seneng ya liat istri di omongin begitu, seneng?"
Haris menggelengkan kepalanya. "Enggak, gak kayak gitu sayang, aku hanya tersenyum karena melihat itu!" tunjuk Haris pada sepasang pengantin di atas pelaminan. Haris sangat bersyukur karena dia mendapat pengalihan.
"What? Apa yang sedang mereka lakukan?" ucap Navisa ketika melihat Adelle sedang melepas paksa jas yang Bima kenakan.
"Langsung ke kamar aja woy!" Tania berteriak membuat semua tamu undangan ikut berteriak heboh.
"Aku sudah bilang lepas dulu jasnya, kita Poto tanpa jas sialan itu, kau terlalu tampan Sayang, aku tidak suka menjadikan mu sebagai bahan tontonnan."
"Jangan gulung lengan kemeja mu seperti ini, bukannya lebih baik, kau malah lebih tampan, lihat urat-urat di lengan juga di tangan mu ini, jangan salah sangka, semua perempuan yang ada di sini, aku jamin, banyak di antara mereka adalah tipe wanita yang suka bakso urat."
Lagi dan lagi kening pria itu berkerut. Sebenarnya apa maksud istrinya, dia tidak tahu arti dari perkataan sang istri, bakso urat, bakso urat apa.
"Sebenarnya apa yang kau inginkan Kak?"
Adelle, melongo. "No, jangan panggil aku Kakak, panggil aku sayang. Kalau kau melanggar, maka kesepakatan kita untuk mengembangkan perusahaan mu itu batal."
Bima mengangguk, dia tidak bisa melawan lagi jika sudah di ancam seperti ini.
"Mereka itu sangat lucu ya!" ucap Navisa tanpa mengalihkan tatapannya dari Bima dan Adelle.
Randy tersenyum, menggenggam tangan Navisa yang ada di bawah meja. Gadis itu menoleh, dia ikut tersenyum saat melihat lesung pipi kekasihnya begitu menonjol.
__ADS_1
"Jangan seperti ini. Jantung ku tidak kuat!" ucap Navisa menunduk menahan malu. Bahkan setelah mereka resmi bertunangan dan akan segera menikah, sikap Navisa masih sama, dia masih sangat malu-malu.
"Kalian tahu tidak, aku ada kabar mencengangkan," ucap Anandita melirik Navisa dan Randy sekilas.
Semua orang mulai mendekat kan kepala mereka menunggu gosip yang akan di sebarkan oleh Anandita. Wanita itu tersenyum. Seringai muncul di bibirnya. "Apa kalian tahu seberapa gilanya Randy pada si kalem kita?"
Semua orang menggeleng. Apalagi Brian, dia memang sudah lama mengenal Randy, tapi baru kali ini dia melihat Randy memiliki kekasih dan langsung menjalin hubungan yang serius.
"Aku pernah melihat, sebuah foto di ponsel Navisa. Kalian tahu itu foto apa?" Anandita kembali berbisik. Semua orang menggelengkan kepalanya lagi.
"Rendy memajang ban dalam motor Navisa di dinding kamarnya."
Kalimat terakhir Anandita sengaja dia kencangkan suaranya agar orang yang sedang di bicarakan paham. Navisa terkejut bukan main. Wanita itu menunduk semakin dalam karena malu.
"Wooohhhhhh!"
"Tapi Kak Rendy untuk apa majang ban dalam motor di kamar, terus hubungan nya sama Navisa itu apa?" tanya Byan dengan wajah polosnya.
"Dasar Bunny, kau tidak tahu kalau Rendy mulai suka sama si kalem pas ban motornya bocor, Navisa pikir ban itu di buang Kak Rendy, ternyata malah di tambal dan dipajang di kamarnya."
"Oooooh, kalau kayak gini aku mengerti," ucap Byan, Tania pun ikut mengangguk.
"Heumm, itu gak ada apa-apanya dong, kalau saja kalian tahu apa bukti cinta Kak Brian yang di abadikan oleh Ibu, kalian pasti akan lebih tercengang."
Brian melotot menatap Aldi yang kini ikut berkumpul dengan mereka. "Aldi!" gumam Brian.
Aldi malah tertawa, dia menatap Brian dan Byan bergantian.
"Bukti cinta nya apa Aldi, bilang dong jangan setengah-setengah kayak gitu." Anandita menodong Aldi tidak sabaran.
"Iya, jangan bikin penasaran!" ucap Tania ikut nimbrung.
"Jadi ...
__ADS_1
To Be Continued.