
Brian keluar dari rumah dengan pakaian yang sangat rapi. Dia terlihat sangat tampan. Selain tampan tentunya sangat wangi. Laki-laki itu masuk ke dalam mobil dan langsung melesat pergi setelah penjaga rumah membukakan gerbang untuknya. Malam ini dia berniat untuk bersenang-senang dengan Sisil. Meskipun dia sudah tidak pernah tidur dengan wanita itu karena bayangan Bian yang terus menghantuinya, namun untuk sekedar menemaninya melakukan hal lain, Brian masih bisa melakukannya. Melakukan sesuatu yang tidak bisa dia lakukan dengan Bian.
Mobil Brian berhenti di sebuah rumah kost minimalis di kota itu. Dia menatap ke lantai atas lalu tersenyum tipis ketika Sisil melambaikan tangannya kepada Brian. Buru-buru Brian naik ke lantai atas dan langsung di sambut pelukan juga ciuman hangat dari Sisil.
"Kenapa sangat lama?" Rengek Sisil dengan manjanya. Brian menarik ujung bibirnya. "Aku ada beberapa urusan yang harus di selesaikan."
Sisil mengangguk. Dia menuntun Brian untuk masuk ke dalam kamarnya. Sisil sudah menyiapkan makan alam untuk Brian. Dia juga menyiapkan alkohol dan wine yang biasa mereka minum jika mereka pergi ke club malam.
"Aku sudah menyiapkan semua ini untuk mu Sayang. Kau harus makan yang banyak ya!"
Brian mengangguk. Dia duduk dan mulai melahap makanan buatan Sisil dengan sangat lahap. Sisil memang selalu seperti ini, dia selalu bisa membuat Brian nyaman dengan segala perhatian yang dia berikan.
"Aku akan mengambil air minum dulu," ucap Sisil sembari mengecup pipi Brian.
"Heum." Hanya itu yang keluar dari mulut Brian yang penuh dengan makanan.
Sisil berjalan menuju pantry kecil yang ada di kamarnya. Dia mendekati pintu kulkas hendak mengambil sesuatu, namun matanya membulat ketika dia melihat bungkus makanan di samping wastafel. Buru-buru dia mengambil bungkusan itu dan membuangnya ke tong sampah.
__ADS_1
"Untung aja gak ketauan. Bisa gawat kalau Brian tahu gue gak bisa masak."
Sisil mengambil air dingin dari kulkas dan kembali berjalan mendekati Brian. Dia duduk sembari tersenyum manis dan menuangkan air ke dalam gelas.
"Sayang, sebenarnya aku ingin meminjam uang. Boleh tidak?" tanya Sisil dengan wajah memelas. "Ibu sedang sakit di kampung, aku butuh uang itu untuk biaya pengobatan Ibu."
Brian menghentikan acara makannya lalu beralih menatap Sisil. "Kamu gak usah minjem. Nanti aku transfer. Kamu butuh berapa?"
"10 juta."
Brian sedikit terkejut namun dia tetap mengeluarkan ponselnya.
"Terima kasih Sayang!" Ucap Sisil mengecup bibir Brian lalu mulai mengeksplor bibir yang tidak tebal juga tidak tipis itu dengan bibir seksinya. Tidak ada yang terlewat. Sisil sangat menikmati ini, selain kaya dan banyak uang, Brian juga sangat tampan, jadi siapa yang bisa menolak lelaki seperti ini.
Sisil menciumi Brian semakin rakus. Kedua tangannya mulai bergerak menyentuh dada Brian membuka kacung baju yang di kenakan laki-laki itu satu persatu. Namun ketika tangannya hendak menyentuh deretan roti sobek milik Brian, laki-laki itu mencekal tangan Sisil dan melepaskan tautan mereka. Dia mendorong tubuh Sisil dan mengambil ponsel yang ada di atas meja.
"Halo Aldi, ada apa?"
__ADS_1
"Mbak Bian Kak, dia sakit."
Brian langsung berdiri dan merapikan pakaiannya. "Aku harus pergi Sisil."
Belum sempat Sisil menyela, laki-laki itu sudah melesat pergi dan menghilang di balik pintu. Sisil menatap sedih pintu itu, namun detik berikutnya, dia tersenyum ketika melihat ponselnya.
"Gak papa Sisil. Yang penting kamu udah dapat 10 juta, besok kamu bisa have fun sama temen-temen kamu."
Brian menjalankan mobilnya seperti orang kesetanan. Perkataan Aldi yang ambigu membuat Brian sangat khawatir. Sebenarnya ini bukan salah Aldi, karena nyatanya dialah yang tidak menanyakan Bian sakit apa. Seingatnya ketika tadi dia hendak pergi, Bian masih tidur dengan nyenyak. Dia baik-baik saja dan tidak menunjukkan tanda-tanda apapun.
"Sialan!" Umpat Brian pada mobil yang berhenti di depan mobilnya. Brian memencet klakson beberapa kali, namun mobil-mobil itu tidak mau melaju.
****
Ketika sampai kembali di rumah, Brian langsung masuk tanpa mengucapkan salam atau apa. Dia langsung berlari menuju lantai atas lalu membuka pintu kamarnya sedikit brutal.
"Bian!" Brian bersuara sedikit terengah-engah. Keringat besar bercucuran di pelipisnya. Keningnya bertaut ketika dia melihat Bian sedang berbaring di atas ranjang dengan Aldi dan Bima di sampingnya.
__ADS_1
To Be Continued.
Like sama komentarnya jangan lupa ya. 🤗🤗🤗