
Pagi harinya Byan kembali beraktivitas seperti biasa. Matanya masih sembab namun Byan tidak mempermasalahkan itu. Gadis itu sudah cantik dengan seragam sekolahnya, rambut panjangnya dia kepang dua. Dia selalu menyelesaikan penampilannya sebelum Brian selsai mandi. Ya, Byan selalu bangun lebih dulu dan bergegas memakai seragam. Byan menyambar tote bag yang ada di atas meja belajarnya. Dia tidak menghiraukan Brian yang kala itu baru keluar dari dalam kamar mandi.
Brian menatap punggung Byan dengan sedikit heran. Byan memang selalu bangun lebih awal darinya. Namun gadis itu tidak pernah mengacuhkannya seperti ini. Mulut kecilnya seperti burung pipit yang berkicau di pagi hari. Entah itu menanyakan kegiatan Brian atau sekedar basa-basi. Brian mengangkat kedua bahunya acuh lalu berjalan masuk ke dalam walk in closed.
****
Pagi itu keluarga Nugroho sarapan pagi dengan anggota yang lengkap. Biasanya selalu ada saja yang tidak bisa ikut sarapan bersama, kalau tidak Bima ya Brian, namun pagi ini mereka sudah duduk di meja makan dengan anteng.
Brian kembali melirik Byan, wajahnya masih sama. Ditekuk dan tidak cerah seperti biasanya. Apakah perbuatannya semalam benar-benar bisa merubah sifat gadis itu? Tidak mungkin bukan?
"Ibu, Ayah, Byan boleh meminta sesuatu tidak?" Byan menatap kedua mertuanya sembari tersenyum.
"Mau minta apa Sayang, katakan saja!" Anjani menjawab.
"Byan ingin belajar nyetir mobil Bu."
"Boleh-boleh saja. Nanti di ajari Aldi saja bagaimana?"
Aldi menarik sudut bibirnya mendengar perkataan Anjani. Aldi tentu saja akan dengan suka rela mengajari gadis yang ada di sampingnya. Bukankah selama ini itu yang dia inginkan? Terus berdekatan dengan Byan dan bisa bersama dengan gadis itu sepanjang waktu.
"Byan tidak mau di ajar oleh Aldi Bu, Byan mau di ajar oleh Om Brian."
"Uhukkkk!" Brian yang kala itu sedang mengunyah makanan tiba-tiba tersedak. Buru-buru dia mengambil air lalu meminumnya.
"Byan mau Om Brian yang mengajari Byan. Dan lagi, Byan mau mulai hari ini, Om Brian yang mengantar jemput Byan sekolah."
Brian semakin melongo mendengar penuturan Byan. Bisa-bisanya bocah itu meminta hal seperti itu. Ke kantor saja Brian terkadang harus menggunakan supir, lha sekarang dia yang harus jadi supir?
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu. Biarkan Brian saja yang mengantarmu sekolah." Anjani berucap dengan senyum di wajahnya. Anjani merasa ini lebih baik karena dia merasa dengan begini Byan dan Brian akan semakin dekat. Anjani tentu saja tahu kalau sepasang suami istri itu masih terlihat sangat canggung.
Aldi mendadak murung. Wajah sedihnya tidak bisa dia sembunyikan. Baru saja dia terbang ke awang-awang, sekarang dia sudah jatuh ke dasar jurang. Sungguh malang sekali nasibnya.
"Brian gak bisa Bu, Brian kan harus bekerja. Brian juga gak mungkin bisa jemput Byan di sekolah. Brian pulang jam 5 sore. Sedangkan Byan pulang jam 4."
"Kamu gak usah khawatir Brian, mulai sekarang jam masuk kantor kamu Ayah rubah. Kamu masuk satu jam lebih awal dan pulang satu jam lebih cepat."
Brian merasa dongkol mendengar keputusan Nugroho. Bisa-bisanya ayahnya melakukan ini demi bocah ingusan itu. Padahal Nugroho adalah atasan yang sangat disiplin. Sekarang dia malah memberikan kelonggaran kepada Brian. Brian memang sudah menjabat sebagai CEO di perusahaan ayahnya. Namun ayahnya masih sering membantunya dan menangani hal-hal yang belum bisa Brian tangani.
"Udah kamu ikut aja apa kata Ayah. Lagipula Byan itu istri kamu Nak. Mau sampai kapan kamu ngerepotin adik kamu."
"Aldi gak repot kok Bu." Aldi menjawab tanpa di minta.
"Shut! Jangan membantah Aldi!" Aldi pun kembali menunduk menikmati sarapannya yang mulai terasa tidak enak.
Dalam hati Byan bersorak gembira. Dalam hati dia tertawa melihat wajah tertekan Brian. Brian harus mendapatkan apa yang harus dia dapatkan. Brian harus menerima hukuman darinya bagaimana pun caranya.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau duduk di belakang, kau pikir aku ini sopir mu apa?"
"Jangan membentak Byan Om. Apa Om tidak punya hati nurani sama sekali? Hati Om sudah di gigit anjing atau bagaimana? Setelah Om melecehkan Byan, Om mau lepas tanggung jawab gitu? Om laki-laki atau bukan?"
Byan yang sejak tadi menahan amarnya menatap Brian dengan mata yang berkaca-kaca. Dia marah namun juga menahan tangis. Meskipun Byan tahu kalau Brian itu suaminya, namun hubungan mereka tidak sedekat itu sampai Brian bisa menggrayangi tubuhnya sesuka hati.
Brian mendengus. Dia mengepalkan tangannya di udara seolah-olah dia ingin memukul Byan. Gemeretak gigi Brian tak lantas membuat Byan takut. Entah kenapa sejak semalam dia tidak bisa menahan emosinya.
"Jalan Om! Kau mau aku terlambat?" Byan menyeru seperti seorang bos. Brian menghembusnya napas kasar. Mau tidak mau dia melajukan mobil itu meski dalam hati dia ingin memakan gadis itu hidup-hidup.
__ADS_1
"Jangan turunkan Byan di depan sekolah. Turunkan saja Byan di depan gerbang. Byan gak mau temen-temennya Byan tahu kalau yang mengantar Byan adalah seorang Om-om yang cocok untuk jadi Daddy Byan."
Brian mencoba untuk sabar dan tidak terpancing oleh Byan. Dia tahu gadis itu memang suka asal nyeplos.
"Apakah mulut mu itu tidak bisa mengatakan hal-hal yang baik? Kenapa kau terus menghinaku seperti ini kecambah, kau pikir kau siapa bisa berbicara seenaknya seperti itu?"
Byan tidak menjawab. Tangannya terulur untuk membuka pintu mobil. Namun sebelum dia berhasil membuka pintunya, Byan teringat sesuatu.
"Hari ini Byan pulang agak siang sekitar jam 3 sore. Sebelum Byan keluar dari kelas, Byan ingin mobil Om sudah sampai di depan gerbang lebih dulu."
Brian mendengus. Byan benar-benar memperlakukannya seperti seorang pembantu, Brian tidak menjawab. Dia memilih untuk diam tanpa mau menyahuti permintaan istrinya.
Setelah Byan keluar, Brian langsung melajukan mobilnya dengan sangat cepat. Dia harus meninggalkan Byan segera kalau dia tidak ingin kecambah itu terus memperlakukannya seperti seorang pelayan.
"Cih, anak baru, berangkat sama Om yang mana lagi ni ya? Kayaknya tiap hari ganti Om-om. Pantesan aja barang-barangnya bagus. Ternyata dia menjual diri untuk mendapat itu semua."
Byan menghampiri orang yang baru saja mengatainya. Byan menatap orang itu tajam. Namun bukannya takut, orang itu malah maju semakin dekat. Byan yang sudah tidak tahan langsung menjambak rambut siswi itu tanpa ampun.
"Kalau tidak tahu apa-apa jangan asal bicara." Byan dengan susah payah melawan gadis yang kini sedang menarik rambutnya kasar.
Di saat Byan dan siswi lain berkelahi, siswa dan siswi yang lain malah menyoraki mereka dan meminta siswi yang tadi berbicara sembarangan untuk terus semangat.
Brukkkkk!
Gadis itu jatuh terduduk di atas trotoar. Byan tersenyum mengejek. Namun meskipun begitu, Byan tetap menyodorkan tangannya untuk membantu teman sekolahnya.
"Byan!"
__ADS_1
"Byan!"
To Be Continued