
Di sebuah sekolah kanak-kanak di kota tersebut, terlihat beberapa anak laki-laki dan perempuan sedang mengerumuni Ameera dan Ammar. Mereka setiap hari selalu seperti ini. Menanyakan keberadaan ibu dua anak kembar itu yang katanya sudah sembuh. Agak miris sebenarnya, kenapa anak-anak di bawah umur seperti ini sudah berani melakukan hal yang jelas-jelas kurang baik. Padahal, Ammar dan Ameera tidak pernah melakukan itu pada orang lain. Mereka ini tipe anak pendiam dan tidak terlalu banyak bergaul dengan yang lain karena mereka sadar jika anak-anak lain selalu mengucilkan mereka.
Meskipun ada beberapa anak yang memang mau berteman dengan Ammar dan Ameera, kedua bocah itu merasa jika hal seperti itu tidak perlu. Bermain dengan satu sama lain saja sudah cukup. Ameera punya Ammar, dan Ammar punya Ameera. Apalagi yang mereka butuhkan.
"Kalian pembohong. Kalian bilang ibu kalian akan datang suatu hari, tapi mana, buktinya, sampai sekarang pun tidak ada."
"Iya, Ammal sama Ameela ini telnyata seolang penipu. Kalian hanya mengucapkan omong kosong saja."
"Yakkk, apa yang kalian katakan!"
Tiba-tiba seorang guru wanita datang menghampiri kerumunan anak-anak kecil tersebut. Ameera terlihat sangat cuek dan dingin. Gadis kecil itu memiliki sifat yang sama seperti ayahnya, sedangkan Ammar, dia cenderung lebih menuruni gen sang ibu.
"Kalian tidak boleh mengatakan hal seperti itu. Siapa yang sudah mengajari kalian heumm! Ibu gak suka ya kalau kalian nakal seperti ini."
Guru tersebut memberi peringatan dengan mengacungkan jari telunjuknya. Dia sebenarnya merasa sangat jengkel menghadapi anak-anak ini, meskipun mereka .asuh anak-anak, namun apa yang mereka lakukan ini tidak dapat di benarkan.
"Ammar! Ameera!"
Semua orang menoleh ke arah sumber suara.
"Mommy!"
Ammar dan Ameera langsung berlari ke arah ibunya. Semua orang yang ada di sana nampak terpukau, wanita yang di panggil Mommy oleh Ammar dan Ameera ternyata masih semuda itu, dia sangat cantik meskipun saat ini, dia masih duduk di atas kursi roda.
Beberapa ibu-ibu yang baru datang hendak menjemput anak mereka menyenggol lengan guru tersebut. "Siapa gadis cantik itu?"
"Dia ibunya Ammar dan Ameera!" ucap sang guru tanpa mengalihkan perhatiannya dari Byan.
"Eishhh, jangan bercanda. Apa orang itu menikah dengan gadis kecil, kenapa dia terlihat masih sangat muda. Jangan-jangan!"
"Hushhhh!" Guru tersebut menepis pemikiran kotor para ibu-ibu. "Jangan asal bicara. Pak Brian itu orang terpandang. Tidak mungkin dia memiliki kelainan menjijikan seperti itu. Lagipula kalau tidak salah, ibu Ammar sama Ameera memang masih muda, sekitar 25 atau 26 tahun."
__ADS_1
"Tapi seperti baru masuk usia 20han. Mangkanya saya kaget."
"Enggak lah Bu."
***
"Ammar, Ameera, bagaimana sekolahnya Nak? Kalian baik kan? Gak nakal?"
Ameera dan Ammar mengangguk bersamaan. "Ammal sama Ameela baik dong Mommy. Kan kita sudah janji sama Mommy kalau kita akan jadi anak penulut bial Mommy cepat pulang."
Byan mendongak. Dia menatap suaminya sembari tersenyum. Brian pun ikut membalas senyuman sang istri. Akhirnya, hari ini pun tiba. Hari di mana Brian bisa melihat Ameera dan Ammar di jemput oleh ibu mereka. Selama bertahun-tahun kedua bocah itu hidup tanpa di dampingi seorang ibu, dan kini Byan sudah kembali. Itu artinya mereka bisa melakukan hal-hal menyenangkan yang belum pernah Ammar dan Ameera lakukan sebelumnya.
"Mommy, ayo kita pulang! Ameera mau nunjukin sesuatu sama Mommy!"
Byan mengangguk. Mereka pun memutuskan untuk pulang, sebelum itu, Byan sedikit membungkuk pada guru-guru dan juga pada orang tua murid. Mereka semua membalas sapaan Byan, membungkuk sembari tersenyum ramah.
"Aku sangat menyukainya. Selain cantik, dia juga sangat ramah!"
***
Selama di perjalanan, Ameera dan Ammar tak henti-hentinya mengoceh. Mereka berdua terus bercerita tentang apapun yang sudah mereka lakukan belakangan ini. Bahkan cerita mereka yang mengganggu Aldi pun tak luput.
Byan dan Brian terkekeh. Aldi pasti sangat tertekan karena memiliki keponakan yang aktif seperti Ammar dan Ameera. "Lain kali, jangan sungkan untuk mengganggu Om Aldi, Mommy rasa, sebentar lagi Om Aldi akan pergi dari rumah Nenek dan Kakek."
Ameera dan Ammar menatap Byan dengan tatapan bingung mereka.
"Kenapa Om Aldi pelgi Mommy, Om Aldi malah ya sama Ammal, Ammal gak akan nakal lagi deh, nanti kalau Ammal gak punya temen main kan Ammal kesepian."
Byan mengacak rambut Ammar gemas. "Tidak seperti itu sayang, cepat atau lambat Om Aldi memang akan pergi. Dia akan segera menikah dengan Tante Navisa."
Ammar dan Ameera langsung berbinar saat mendengar nama Navisa di sebutkan. "Tante Navisa sama Om Aldi mau nikah Mommy?"
__ADS_1
Byan menganggukkan kepalanya yakin.
"Horeeee!" "Holeeeee!"
Ammar dan Ameera terlihat sangat bahagia sampai mereka mengangkat kedua tangannya seperti orang yang baru saja memenangkan perlombaan.
"Kenapa kalian sangat gembira mendengar nama Tante Navisa hmm?"
Brian melirik sang istri sekilas, mengulas sebuah senyum hangat. "Maaf aku tidak memberitahu mu. Sebenarnya Navisa berhenti bekerja di butik dan lebih memilih untuk menjadi pengasuh Ammar dan Ameera. Aku sudah beberapa kali melarangnya, namun teman mu itu tidak mendengarkan. Dia bilang, dia senang berdekatan dengan Ammar dan Ameera karena dia merasa, jika dia melakukan itu, kau terasa ada didekatnya."
Byan membekap mulutnya dengan mata berkaca-kaca. Apalagi ini, setelah melepaskan Rendy demi dirinya, sekarang Navisa juga meninggalkan dunia kerjanya, padahal Navisa memiliki cita-cita yang besar untuk menjadi seorang desainer.
"Wanita itu memang bodoh. Dia meninggalkan segalanya demi aku, tapi kenapa, apa yang membuat dia melakukan semua itu?"
Brian mengidikan bahunya. Dia juga tidak tahu, dia hanya berpikir jika Navisa ini sangat tolol dan bodoh. Tapi Brian juga sangat berterima kasih. Daripada membiarkan kedua anaknya di urus orang lain, Brian lebih suka jika Ammar dan Ameera di urus oleh Navisa dan Aldi.
"Tante Navisa itu sangat baik Mommy, kadang dia sampai ketiduran pas nemenin kita main. Om Aldi yang selalu menjaga Tante Navisa. Mangkanya, Ammar sama Ameera seneng kalau mereka menikah. Itu artinya, Om sama Tante bisa tinggal satu rumah. Mereka juga bisa tidur satu kamar."
Byan membulatkan matanya mendengar penuturan dari Ameera. Anak sekecil ini sudah tahu apa arti sebuah pernikahan. Bagaimana mungkin.
"Ameera sayang, kamu tahu orang menikah itu seperti apa?"
Ameera menganggukkan kepalanya. "Tahu, kan Daddy yang bilang."
Uhukkkk
Brian yang saat itu sedang meneguk air di dalam botol tiba-tiba tersedak. Dia melirik sang istri, tersenyum penuh arti sembari mengibaskan tangannya.
"Omm Briannn!"
"Aku tidak mengatakan hal yang tidak-tidak By!"
__ADS_1
To Be Continued.