
Byan tertunduk di sebuah pusara dengan tanah yang masih sangat merah. Tangannya terus mengusap dan juga menepuk gundukan itu dengan sangat hati-hati.
"Ayah, berbahagialah di sana. Byan yakin, Allah sudah mengampuni semua dosa-dosa Ayah. Maaf Byan datang di waktu yang kurang tepat. Semoga kelak kita bisa bertemu lagi. Byan janji, Byan akan jadi ibu yang baik untuk cucu-cucu Ayah. Byan akan membesarkan mereka dengan cinta dan kasih sayang yang Byan miliki. Terima kasih untuk segalanya Ayah."
Byan mengecup nisan yang bertuliskan nama Anthony cukup lama. Setelah di rasanya cukup, Byan menoleh ke samping tubuhnya. Di sana, Ameera dan Ammar berdiri menatap dirinya lekat.
"Beri penghormatan terakhir pada Kakek kalian Nak!"
Ameera dan Ammar mengangguk. Mereka membungkuk cukup dalam. Brian ikut melakukan hal yang sama. Semua orang sudah pergi dari sana. Hanya tinggal mereka yang masih menunggui pusara tersebut.
"Sayang, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu!"
Byan menautkan kedua alisnya.
"Ikut saja, nanti kau juga akan tahu."
Byan mengangguk, dia melirik batu nisan itu sekali lagi. "Byan pergi dulu Ayah. Selamat tinggal."
Byan berdiri saat Brian berjongkok dan membatunya membersihkan sisa-sisa tanah di lutut dan juga di area bajunya.
"Kita pergi sekarang!" ucap Brian pada istri dan juga anak-anaknya.
...----------------...
Di sinilah mereka berdiri sekarang, di depan sebuah bangunan dengan lahan yang cukup luas, tidak, bukan cukup luas, tapi ini sangat luas. Byan menatap anak-anak kecil yang sedang bermain bola di lapangan yang ada di samping bangunan tersebut. Byan menoleh, menaikan satu alisnya meminta penjelasan kepada Brian.
__ADS_1
Brian mengangguk, namun sebelum dia menjawab, dia berjongkok dan meminta Ameera juga Ammar untuk pergi bermain. "Daddy mau bilang sesuatu dulu sama Mommy. Sekarang kalian pergi bermain dulu ya!"
"Siap Bos!"
Ameera dan Ammar memberikan hormat kepada Brian lalu berlari menemui teman-temannya.
Brian menuntun Byan untuk masuk ke area panti asuhan tersebut, tempat ini lebih cocok di sebut sebuah yayasan karena ukuran dan tempatnya yang sangat besar, meskipun agak jauh dari perkotaan. Namun udaranya masih sangat sejuk dan sangat nyaman.
"Duduklah sebentar!"
Brian mendudukkan sang istri di kursi taman tersebut, sementara dia, pergi sebentar menuju mobilnya. Saat kembali, Brian sedikit berlari membawa sebuah map dan juga album foto.
"Apa kau sudah siap?"
"Ini adalah panti asuhan Cahaya Bunda. Panti asuhan yang didirikan oleh ayah kandung mu atas namamu."
Deg!
Byan menatap suaminya tanpa ekspresi. Brian mengerti akan keterkejutan sang istri. Dia mengusap surai hitam panjang itu lembut. "Lihat pelan-pelan. Aku tahu ini sangat mendadak, namun sebenarnya, panti asuhan ini sudah di bangun sejak 3 tahun yang lalu, tepat setelah 1 tahun kau berbaring di ruang ICU. Anthony sering mendatangi ku dan mengatakan akan mengalihkan semua asetnya atas namamu. Aku menolaknya, aku rasa, aku juga bisa memberikan semua itu padamu. Namun karena dia terus memaksa. Aku menawarkan hal ini padanya. Aku berpikir, semua kekayaannya akan lebih berguna jika di infak kan di jalan yang benar. Aku mengatakan cita-cita terbesar mu. Dan hebatnya, setelah mendengar itu dia langsung bergegas membangun panti asuhan ini."
Byan kembali menitikkan air matanya. Kenapa dia harus mengetahui ini setelah Anthony pergi. Bahkan, karena Byan belum sempat meminta maaf padanya, Byan merasa sangat bersalah.
"Jangan seperti itu, dia ikhlas memberikan semua ini untuk mu. Mungkin, dengan cara ini, dia bisa pergi dengan tenang tanpa beban."
"Sekarang bukalah album itu!"
__ADS_1
Byan mengangguk, dia mengusap buliran bening di sudut matanya. Lembar pertama, foto tersebut memperlihatkan Anthony dan juga para pekerja proyek. Foto kedua, berisi foto peresmian panti asuhan tersebut. Dan foto ketiga, Byan kembali menitikkan air mata. Rasa haru dan juga sedih bercampur menjadi satu.
Semua orang yang ada di foto tersebut sedang memegang sebuah Banner bertuliskan. "Terima kasih Ibu Peri, panti ini sangat berarti untuk kami. Lekas sembuh agar kami bisa bertemu dengan penyelamat hidup kami."
Brian merengkuh tubuh bergetar istrinya. Wanita itu menangis semakin menjadi. Menumpahkan segala perasaannya dalam tangisan tak berujung. Ayahnya melakukan semua ini untuk dia, padahal dia belum pernah berbuat baik pada ayahnya.
"Allah akan membalas setiap kebaikan yang Anthony lakukan."
Byan mengangguk, semakin lama, tangisannya semakin melemah. Brian melepaskan dekapannya. Menjauhkan tubuh sang istri dan mengusap air mata di pipi istrinya lembut.
"Pergilah! Temui anak-anak itu dan bermain dengan mereka. Mereka pasti akan sangat senang bertemu dengan mu."
Brian mengambil maf dan juga album foto dari pangkuan Byan. Setelah membantu sang istri merapikan pakaiannya, Brian pun ikut berdiri. Dia hanya memperhatikan Byan yang mulai berlari. Istrinya sudah lebih baik. Iya, Byan mungkin melihat air mata, namun dia yakin, keputusan Anthony ini adalah keputusan yang sangat tepat. Dengan ini, meskipun Anthony sudah tiada, namun Byan tidak akan pernah melupakannya.
"Selamat jalan Ayah, tugas mu sudah selesai. Iringi aku agar aku bisa merawat dan membahagiakan wanita yang paling berharga dalam hidup kita. Terima kasih karena telah memberikan ku wanita sebaik dan secantik Byan."
The End....
Selamat semuanya. Kalian berhasil mengikuti cerita ini sampai habis. Maaf jika karya Author masih banyak kekurangannya. Terima kasih untuk semua dukungan yang telah kalian berikan. Author sangat bangga dan sangat terharu memiliki kalian semua. Bab 1 dan bab 2 sudah Author perbaiki. Author mohon maaf yang sebesar-besarnya jika dalam novel ini banyak kekeliruan. Yang bisa Author perbaiki sudah Author perbaiki. Jujur, komen jahat itu bikin Author down. Apalagi yang ngasih bintang satu dan tidak menyertakan penjelasan kenapa dia kecewa. Ini memang hak, tapi alangkah baiknya jika memang seperti itu, berikan masukan agar Author bisa membuat novel yang lebih baik lagi. Intinya terima kasih. Untuk dukungan dari kalian, baik buruk Author terima karena itu memang resiko. π₯Ίππ
Tadinya Author sempat mikir untuk berhenti nulis, tapi no, mental Author masih bisa bertahan. Terima kasih.
Kalau kangen, mampir ke Fi** ya. Di sana Author juga ada karya romance komedi. Judulnya Dokter Genius VS Bidan Desa. Gak kalah seru kok Guys. Dan gak ada benci jadi cinta, karena kisah Arya dan Ayunda terjadi karena cinta pertama. Cus kepoin. Jangan lupa komen ya.
Btw, sekali lagi Author ucapkan terima kasih. Kalian ini sangat berharga untuk Author. Jangan tinggalin Author ya. Follow IG Author. @anita_hisyam . Terima kasih semuanya.
__ADS_1