
"Kau tidak perlu takut, aku bukan orang jahat aku lihat kau sedang bermasalah dengan motormu jika boleh aku akan membantumu."
Navisa Masih diam mematung memperhatikan pria di hadapannya dari atas sampai bawah, memang jika dilihat dari penampilannya pria ini tidak terlihat seperti pria brengsek, namun siapa yang tahu penampilan selalu bisa menutupi jati diri orang yang sesungguhnya.
"Aku Rendy! " Pria itu mengulurkan tangannya di hadapan Navisa.
Dengan tangan yang agak bergetar Navisa menerima uluran tangan Rendy. "Aku Navisa," ucapnya sedikit gugup karena masih takut.
"Ah, Navisa, nama yang cantik sama seperti orangnya."
Pipi Navisa bersama merah, jujur saja baru kali ini dia mendapatkan pujian dari lawan jenis. Sebenarnya Navisa bukan tipe gadis yang tidak disukai laki-laki, hanya saja dia sedikit menutup diri karena takut terjerumus pada pergaulan bebas, oleh karena itu setiap kali ada yang mengajaknya untuk berkenalan atau berteman dia selalu menghindar.
"Ban motornya kempes ya!" Rendy memperhatikan ban belakang motor Navisa yang lumer.
"Iya Kak. Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba ban motor ini pecah padahal di rumah aku sudah memeriksanya dan semuanya baik-baik saja mungkin memang aku lagi sial hari ini."
Rendy tersenyum, dia memperhatikan area sekitar untuk melihat barangkali ada bengkel di sekitar sana, namun sepertinya bengkel yang mereka harapkan tidak ada.
"Begini saja, kalau kau mau, aku ada seorang teman yang memiliki bengkel di sekitar sini aku akan menyuruh mereka untuk membawa ban dalam yang baru, kita nggak mungkin mendorong motornya dari sini bukan? Jika pun harus diderek, aku tidak membawa tali."
Navisa mengangguk, dia tidak memiliki pilihan lain, mau tidak mau dia memang harus menunggu bantuan agar dia bisa pulang menggunakan motor kesayangannya.
Di sini masih agak panas, bagaimana jika kita menunggu di mobilku saja Navisa?"
Navisa awalnya agak ragu, namun sore itu memang matahari masih ada di atas, daripada dia gosong lebih baik dia menerima tawaran Rendy.
Setelah ada di dalam mobil, keheningan menyelimuti mereka berdua. Navisa yang memang jarang berbicara apalagi dengan orang yang baru dia kenal membuat Rendy kesulitan untuk memulai percakapan, jujur saja Rendy adalah orang yang sangat suka berbicara, namun jika lawannya diam terus seperti Navisa, dia juga sedikit kesulitan karena Navisa hanya akan menjawab pertanyaannya seadanya.
"Apa kau masih sekolah?" tanya Rendy.
__ADS_1
Navisa menggeleng kemudian mengangguk, membuat Rendy yang melihat itu mengerutkan keningnya bingung.
"Maksudku, aku sudah tidak sekolah tapi aku juga masih belum lulus, intinya aku masih menjadi seorang murid karena aku masih menunggu surat kelulusan dari sekolah."
"Aku mengerti, pantas saja kau terlihat masih sangat muda."
"Ngomong-ngomong, rumah kamu di mana, siapa tahu kita adalah tetangga yang tidak tahu jika selama ini rumah kita berdekatan."
Navisa sedikit terkekeh, dia menggelengkan kepalanya, tidak mungkin Navisa dengan laki-laki ini bertetangga, melihat mobilnya saja Navisa sudah tahu jika Rendy adalah anak orang kaya atau mungkin dia memang sudah memiliki usaha sendiri atau bagaimana Navisa tidak tahu, hanya saja sudah pasti dia bukan tetangga Navisa karena rumah Navisa berada di perumahan yang biasa saja.
"Jangan bercanda Kak, aku ini bukan orang kelas atas seperti Kakak, aku hanya anak seorang pegawai negeri."
"Loh, memangnya kenapa jika kau bukan orang dari kalangan atas, aku juga bukan orang seperti itu. Jika kau mengira aku adalah orang kaya karena mobil ini, kau salah, aku itu hanya pekerja di sebuah bengkel temanku, mobil ini adalah mobil miliknya, aku hanya meminjamnya karena ada suatu urusan yang mendesak," ucap Rendy berbohong.
Navisa mengangguk-anggukkan kepalanya. Beberapa saat kemudian, sebuah mobil berhenti di belakang mobil Rendy. Rendy melihat ke arah belakang dari kaca spionnya lalu dia mengajak Navisa untuk turun.
Aku benar-benar berterima kasih kepadamu Kak, aku janji lain kali aku akan mentraktir Kakak makan. Sekarang aku harus pulang karena orang tuaku pasti akan mencariku jika aku pulang terlalu sore."
Rendy mengiyakan meskipun sebenarnya dia masih sangat enggan berpisah dengan Navisa, gadis ini sangat berbeda dengan gadis-gadis yang sebelumnya dia temui, Navisa sangat kalem lemah lembut juga tutur katanya sangat terjaga, dari apa yang Rendy lihat, sepertinya Navisa adalah gadis baik-baik yang sangat dijaga oleh keluarganya.
"Baiklah, pergilah! hati-hati, tapi tunggu! Bolehkah aku meminta nomor ponselmu?" tanya Rendy ragu-ragu, dia takut gadis itu menolak karena sejak awal dia tahu jika Navisa membuat dinding pembatas antara mereka.
Navisa berpikir untuk sejenak, jika dia menolak, dia tidak tahu kapan dia akan bisa bertemu dengan laki-laki ini lagi, sedangkan dia sudah berjanji akan mentraktirnya makan suatu hari nanti, kalau dia tidak bertukar nomor telepon sudah pasti dia akan terikat janji itu entah sampai kapan.
"Boleh Kak, ucap Navisa mengeluarkan ponselnya.
Rendy bersorak heboh di dalam hati. sepertinya dia lebih maju satu langkah.
Navisa pergi mengendarai motornya dengan senyum yang mengembang, pertemuan pertamanya dengan Rendy meninggalkan kesan yang luar biasa untuk Navisa.
__ADS_1
"Sepertinya kita pernah bertemu, tapi di mana ya?" Navisa berusaha berpikir, namun otaknya heng. Dia tidak menemukan apapun.
Sementara Rendy dia masih memutar-muter ponselnya dengan senyum yang mengembang, bahkan pegawai bengkel yang tadi membantu Navisa mengganti ban motornya terlihat bingung.
"Bos, sebenarnya Bos itu kenapa? Ada yang salah atau bos salah minum obat? Kenapa Bos malah tersenyum-senyum di pinggir jalan seperti orang gila?" tanya pegawai bengkel itu dengan santainya.
"Jangan asal bicara kau Epul. Jika kau tidak pernah menyukai seorang wanita, maka diam saja, menjelaskan seperti apapun juga kau tidak akan mengerti."
Rendy meninggalkan Saepul yang masih mematung di tempatnya sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, bosnya ini benar-benar sangat aneh, memang kalau menyukai seorang wanita rasanya seperti apa, gara-gara bosnya mengatakan itu Saepul menjadi sangat penasaran.
"Bos tunggu! Bos Rendy! Bos Rendy! Tunggu. Ini uang yang tadi gadis itu berikan Bos, ridho menyodorkan dua lembar uang merah kepada Rendy.
"Sudahlah, kau ambil saja uang itu, hari ini bilang kepada semua karyawan kalau mereka bisa pulang lebih awal dan di akhir minggu aku akan memberikan mereka bonus, satu lagi, ban yang tadi kau ambil dari gadis itu tolong cuci sampai bersih! Kau tambal yang bocornya dan kirim ke rumahku dalam keadaan mengembang.
"Untuk apa Bos?" tanya Saepul lagi.
"Tidak usah banyak bertanya dan lakukan saja apa yang aku suruh kepadamu! Jika tidak, maka minggu ini kau sendiri yang tidak akan mendapatkan bonus dariku."
Oalah tong ambek-ambekan (jangan marah-marah) att Bos. Ya sudah, nanti saya kirim bannya ke rumah Bos. Free ongkir!"
"Thank you Pul!"
"Sami-Sami Bos!"
(Sama-sama)
Randy mulai melakukan mobilnya. Namun di saat sedang menyetir, tiba-tiba dia terperanjat. "Gadis itu, bukankah dia!...."
To Be Continued.
__ADS_1