
Sepulang sekolah, Brian kembali menjemput Byan. Hari itu langit sudah terlihat tak secerah pagi hari. Awan jingga yang berasal dari sinar matahari membuat susana kala itu terlihat sangat hangat dan indah. Byan keluar dari gerbang sekolah. Dia celingukan mencari mobil suaminya. Dan ketika dia melihat mobil Brian. Dia langsung masuk ke dalam mobil itu.
"Assalamualaikum."
Byan membuka pintu mobil lalu mengucapkan salam, namun ketika ia ingin duduk, Byan malah di buat heran lantaran di mobil itu tidak ada siapa-siapa.
"Om Dito, Om Brian ke mana?" Tanya Byan kepada orang kepercayaan suaminya. Dito memiringkan tubuhnya melirik ke arah Byan. "Tuan muda sedang ada rapat di sebuah restoran di dekat sini Nona, jadi beliau menyuruh saya untuk menjemput Anda dan mengantar Anda pulang."
Byan langsung menggelengkan kepalanya. "Byan gak mau pulang dulu Om, Byan mau ketemu sama Om Brian. Boleh ya kalau Byan ikut ke sana. Byan janji, Byan gak akan nakal Om."
"Tapi Nona muda di sana juga ada,-"
"Aku tahu, ular itu pasti akan mengikuti Om Brian kemanapun Om Brian pergi. Aku tetep mau ke sana."
"Akh, baiklah Nona."
Byan tersenyum sembari menatap jalanan yang dia lewati. Jujur saja, dia sangat merindukan suaminya sampai dia pikir dia akan mati kalau tidak bertemu dengan suaminya saat ini juga. Byan tahu mungkin suaminya sedang berdekatan dengan wanita lain, namun Byan tidak perduli, yang penting dia bisa bertemu suaminya.
*Inget cinta gak selamanya indah Dek! ðŸ¤
Beberapa menit kemudian, Byan dan Dito sampai di depan sebuah restoran mewah yang ada di kota itu. Dito membukakan pintu mobil untuk Byan, dan Byan pun turun. Dia masih mengenakan seragam SMA namun bersyukur nya tadi Byan membawa sweater rajut, jadi dia bisa menutupi seragam sekolah bagian atasnya.
"Masuk Nona!"
__ADS_1
Dito menyerahkan kuci mobilnya pada petugas parkir lalu membawa Byan masuk ke dalam restoran mewah tersebut. Byan sedikit terperangah melihat betapa mewah dan megahnya restoran itu. Dito membawa Byan ke sebuah meja lalu menarik salah satu kursi dan meminta Byan untuk duduk.
"Nona muda, sepertinya rapat baru akan selesai 20 menit lagi, Nona mau saya pesankan sesuatu?" Tanya Dito.
Byan mengibaskan tangannya meminta Dito untuk lebih mendekat. "Di sini ada ice cream sama cake cokelat gak? Byan pengen itu."
Dito tersenyum mendengar bisikan Byan. Dia mengangguk lalu memanggil seorang pelayan. "Tolong bawakan cake coklat paling sepesial dengan ice cream juga air putih ya!"
Pelayan itu mengangguk sembari menuliskan pesanan yang di minta oleh Dito. Dito hanya berdiri di samping Byan dan tidak mau duduk. Byan yang melihat itu bingung. Dia menarik ujung jas yang Dito kenakan membuat orang yang memakai jas itu menunduk melihat ke arahnya.
"Kenapa tidak pergi ke tempat rapat?"
Dito menggeleng. "Tidak Nona, saya di perintahkan untuk menjaga Nona oleh Tuan muda."
Dito tersenyum namun dengan segera menggelengkan kepalanya. Dia merasa tidak enak kalau harus melakukan ini. Dito tahu Byan ini sangat baik dan tidak pernah membeda-bedakan status. Tapi ya tetap saja, hati kecil Dito selalu mengatakan untuk tidak terlalu menikmati kebaikan yang di berikan oleh Byan dan suaminya.
"Wah, pesanan Byan sudah sampai Om!" Byan bertepuk tangan heboh melihat cake cokelat juga es krim yang sedang di sajikan oleh pelayan di restoran tersebut.
Dito mengangguk lalu mempersilahkan Byan untuk makan. Dito melirik jam di pergelangan tangannya. Dia juga melirik ke arah ruang VVIP di restoran tersebut. Dia ingin menunggu Brian sampai dia keluar, namun entah kenapa dia malah ke belet buang air kecil.
"Nona, saya ke toilet sebentar ya, Nona jangan ke mana-mana."
Byan mengangguk beberapa kali namun perhatian nya pada cake cokelat dan es krim tidak teralihkan. Dito pergi dengan langkah yang lebar. Dia harus segera menuntaskan hajatnya agar dia bisa cepat kembali.
__ADS_1
Byan sedang asyik memakan es krim, namun, saat itu tiba-tiba saja seorang lelaki dewasa datang lalu duduk di depan Byan. "Om kok udah balik lagi?" Tanya Byan tanpa menoleh.
"Lagi apa gadis kecil, aku boleh duduk di sini kan?" tanya laki-laki itu membuat Byan yang sedang fokus makan ice cream mendongak. Dia mengerutkan keningnya melihat orang yang tidak dia kenal sedang duduk sembari tersenyum ke arahnya.
"Nona, kita bisa kenalan gak?"
Laki-laki itu mengulurkan tangannya, namun Byan malah menatap tangan itu, sesekali dia juga melirik kanan kiri, mencari seseorang yang mungkin saja dia kenal. Nihil, tidak ada siapapun di sana. Byan ingin menolak ajakan orang ini, namun dia tidak tahu bagaimana cara menolaknya.
"Om, maaf, saya masih ada wudhu. Saya Byan Om!" Byan berucap sedikit gugup karena takut orang itu tersinggung.
"Akh, iya." Laki-laki itu menarik tangannya kembali sembari menggosokkan tangannya di atas jins yang dia kenakan.
"Kalau gitu, boleh gak saya minta nomornya Nona cantik ini, barangkali Nona butuh temen, saya ini temen yang enak untuk di ajak curhat."
Byan semakin bingung dengan orang yang ada di depannya ini. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Byan merasa laki-laki ini aneh dan senyuman di wajahnya sangat menakutkan. Tiba-tiba saja Byan kembali teringat pada kejadian satu bulan yang lalu saat dia hampir di lecehkan. Senyuman orang ini benar-benar persis seperti senyuman orang yang waktu itu. Tangan Byan bergetar, laki-laki itu mengunci tatapan Byan membuat Byan semakin ketakutan.
"Maaf Om, Byan harus pergi."
Byan menyambar tas yang ada di atas meja buru-buru. Dia ingin cepat-cepat berlari namun laki-laki itu mencekal pergelangan tangannya. Hati Byan kembali bergemuruh. gejolak di dalam hatinya semakin tidak terkendali. "Om, tolong lepaskan tangan Byan."
"Dito sialan!"
To Be Continued.
__ADS_1