
Keesokan harinya, Byan bangun masih dengan rambut kusut juga piyama hello Kitty kesukaannya. Dia memeluk Brian dari belakang, pria itu sudah rapih mengenakan setelan jas juga rambut yang dia sugar ke atas, wangi tubuhnya mampu membuat Byan menempel 24 jam tanpa beranjak. Brian tersenyum di depan cermin yang ada di meja rias. Dia berbalik, kemudian menatap istrinya lekat.
"Datang bulan nya baru datang tadi subuh kan? Nanti malam aku belikan es krim ya? Hari ini aku ada meeting dengan klien dari luar. Gak papa kan aku tinggal?"
Byan mengangguk lesu. Ya mau bagaimana lagi, dia tidak mungkin menahan suaminya untuk tetap tinggal di rumah.
"Om gak pulang terlalu malem kan? Byan hari ini gak ada jadwal main, sepertinya Byan ikut main sama kak Bima dan Aldi saja. Boleh gak?"
Brian berpikir untuk sejenak. Dia ingin mengatakan tidak boleh, namun Byan pasti akan sangat kecewa. Belum lagi hari ini dia datang bulan, bisa bahaya kalau sampai dia ngamuk lagi.
"Oke, aku biarkan kamu pergi, tapi ingat, selalu aktifkan ponsel mu, dan apapun yang kau lakukan, kau harus laporan padaku!"
"Siap Bos!" Byan memberikan hormat dengan semangat 45.
"Ya sudah, aku pergi dulu. Ada teh camomile di dalam tumbler, minum itu sebelum dingin. Ingat! Jaga diri baik-baik!" Brian mengecup seluruh permukaan wajah istrinya tanpa ada yang terlewat.
"Hmm. Om juga hati-hati. Jangan lupa sarapan!"
"Iya Sayang!" kembali bibir itu mendaratkan kecupan di kening Byan.
"Sudah sana pergi! Nanti Om telat!" ingat Byan mendorong tubuh suaminya.
"Ingat kabarin aku terus!" Brian mengingatkan Byan sekali lagi.
"Iya bawel!"
****
Brian menghembuskan napas kasar beberapa kali. Dito yang melihat itu merasa agak kurang nyaman. Dia melirik Brian dari kaca spion, dengan keberanian yang dia miliki, dia mencoba untuk bertanya kepada banteng yang kini sedang gelisah itu.
"Tuan Muda, Tuan baik-baik saja kan?" tanya Dito hati-hati.
Kembali helaan napas itu terdengar. "Aku menyesal memberikan ijin kepada Byan untuk keluar bersama adik-adik ku Dit, masih mending kalau mereka ngajak Byan main, kalau mereka ngajak Byan ke tepat tongkrongan mereka gimana?"
Dito mengerti sekarang, dia tahu, hanya Byan lah yang mampu membuat orang bengis, dingin dan jutek seperti Brian kalang kabut.
"Begini saja Tuan, bodyguard Nona kecil kan masih bisa di hubungi, hubungi mereka saja lagi, atau Tuan bisa pantau Nona Kecil dari GPS tracker yang Tuan pasang di ponsel Nona kecil waktu itu."
Senyum lebar tersungging di bibir Brian. Laki-laki itu seolah keluar dari labirin kegelisahan yang sejak tadi membuatnya tidak nyaman.
"Aku akan memantau nya dari GPS saja Dit, percuma mempekerjakan bodyguard bodoh seperti mereka. Toh ada Aldi dan Bima yang akan menjaga Byan."
Dito mengangguk. Dia tidak memiliki kekuasaan untuk berbicara saat ini.
****
__ADS_1
Di tempat lain, Aldi dan Bima sedang ketakutan, lutut mereka lemas dan bergetar. Bibir mereka tak henti-hentinya menggunakan kalimat-kalimat doa seakan mereka sedang berada di tepian jurang.
"Kalian siap?" tanya Byan dengan wajah bahagia nya.
"Sebentar By, kenapa gak aku aja yang nyetir?" tanya Bima memohon pengampunan sekali lagi.
"No, big no, Byan bilang, Byan yang akan menjadi sopir kalian hari ini. Kalian gak usah khawatir. Byan belajar di sirkuit balap. Jadi semuanya aman terkendali."
Bima menghela napas berat. Wajahnya sudah sangat pucat begitupun degan Aldi, dia memegang sit belt nya sekuat tenaga.
"Pelan-pelan By!" ucap Aldi gemetaran.
"Siap Bos!"
Dalam hitungan detik mobil mewah berwarna merah itu melesat dengan kecepatan yang tidak pelan. Aldi dan Bima semakin ketakutan. Mereka yang duduk di jok belakang sudah pucat seperti mayat, sedangkan orang yang menyetir malah terlihat sangat bahagia.
"By, pelan- peeeeelaann!" Seperti gerakan slow motion, Bima dan Aldi terpelanting ke arah kanan saat Byan membelokan mobilnya ke kiri. Kenapa mendadak ada tikungan tajam ketika Byan yang menyetir.
"Aku pandai kan?" tanya Byan dengan bangganya. Aldi dan Bima sudah tidak bisa mengatakan apa-apa.
"Ekh anak ayam!"
Kitttttttt!
Brukkkkk!
"Anjir By, Lo mau bikin kita koit hah?" Aldi berteriak karena lagi-lagi dia di buat sport jantung.
"Maaf, ada induk ayam lagi nyebrangin anak mereka. Kan kasian kalau Byan gak berhenti."
"Berhenti sih berhenti maemunah, tapi jangan kayak gini juga bego!"
Aldi sudah kehilangan semua kesabarannya. Dia sudah di buat seperti orang mau mati, namun Byan malah menunjukkan wajah polos tak berdosa nya.
Brommmm!
Brukkkkk!
"Byan, kamu!" Bima ikut berteriak ketika lagi-lagi gadis itu menginjak gas nya tiba-tiba sampai Aldi dan Bima kembali terjerembab ke jok belakang.
30 menit kemudian, mereka akhirnya sampai di depan sebuah cafe yang sudah di padati banyak pengunjung.
Mobil merah itu berhenti dan terparkir dengan apik di depan cafe. Bima dan Aldi langsung turun sembari membekap mulut mereka dan berlari mencari toilet. Mereka berdua memuntahkan semua isi perutnya sampai semua cairan di lambung mereka habis.
"Gadis itu benar-benar menyiksaku," gumam Bima dengan tubuh yang sudah lemas seperti jelly.
__ADS_1
"Kak Brian harus bertanggung jawab," ucap Aldi dengan wajah dongkolnya.
Sementara di luar cafe. Gadis itu sedang melakukan video call dengan suaminya. Dia tersenyum sembari melambaikan tangan kepada Brian beberapa kali.
"Om sudah sarapan belum?" tanya Byan.
"Aku tadi makan sandwich dari Dito."
Byan mengangguk mengiyakan.
"Aldi sama Bima mana By, kenapa kamu sendirian?" terlihat raut wajah cemas di sebrang panggilan.
"Mereka sedang ke toilet sepertinya. Mabok perjalanan kali. Malu-malu in ikh, tahu gitu Byan tadi bawa keresek untuk mereka."
Brian menautkan kedua alisnya. Bima dan Aldi mabok perjalanan, itu sangat tidak mungkin, mereka berdua sangat suka berkendara.
"Om udah dulu ya, nanti Byan telepon Om lagi. Selamat bekerja. Byan pergi dulu. Assalamualaikum!"
"Ekh, wa'alaikumssalam."
Tut!
Byan langsung menutup teleponnya secara sepihak.
"Kak Bima, Aldi, kalian gak papa kan?" Byan bertanya karena sedikit khawatir.
"Mana ada kita baik-baik saja. Kita hampir mati tahu."
Bima mengangguk. "Lagian kamu bawa mobil edan begitu, siapa yang gak mabok."
Byan tersenyum. Dia merangkul lengan Bima dan Aldi bersamaan. "Maaf, lain kali, Byan akan lebih slow bawa mobilnya."
Bima dan Aldi saling tatap. Mata mereka membola mendengar kata lain kali.
"No!" ucap Aldi dan Bima bersamaan.
"Jangan pernah berpikir kita akan ikut dalam mobil yang kamu sopiri, kita masih mau hidup," ucap Aldi bergidik ngeri.
"Ini yang pertama dan yang terakhir," ujar Bima merebut kunci mobilnya dari tangan Byan.
"Ikh, kirain kalian suka Byan yang bawa mobil. Ya sudah kalau gitu, nanti Byan ajak Om Brian dan Om Dito saja."
Aldi dan Bima bernapas lega. "Semoga kau merasakan apa yang kami rasakan Kak, bocah ini benar-benar membuat ku kehabisan akal."
To Be Continued.
__ADS_1
Selamat pagi Guys ... selamat menghalu dan selamat beraktifitas!"♥️