
Semakin berisi, semakin merunduk. Itulah pepatah yang pas di sematkan untuk seorang Byan Anandita Putri. Semua orang tahu, Byan adalah gadis yang sederhana dan tidak banyak tingkah. Bahkan setelah menikah dan memiliki keluarga kaya raya, dia sama sekali tidak berubah, malah, semakin hari dia semakin dewasa dan semakin bijak dan pandai ketika menghadapi sesuatu. Tingginya ilmu yang dia miliki tak lantas membuatnya sombong. Dia masih Byan yang dulu, Byan yang ceria, Byan yang polos namun dengan sisi dewasanya.
Hari ini, produk kecantikan yang Byan buat secara resmi akan mulai di kenalkan kepada khalayak umum. Meskipun serangkaian skincare ini pada awalnya hanya di buat series untuk laki-laki, namun setelah banyak melakukan riset, Byan memutuskan untuk membuat series perempuan dan anak-anak remaja.
"Selamat Bu Byan, produk yang Anda buat kini telah resmi di kenalkan pada publik, semoga semuanya lancar dan kita semua bisa mendapatkan hasil yang maksimal."
Byan tersenyum saat menjabat salah satu tangan investor di perusahaan itu, wanita hamil ini tidak banyak bicara, dia hanya akan mengatakan terima kasih. Atas ijin dari Tuhan, dengan kerja keras semua tim nya, produk ini bisa launching di waktu yang sudah mereka tetapkan.
Brian yang berdiri di samping istrinya merasa sangat bangga kepada sang istri. Gadis kecilnya semakin lama berubah menjadi wanita yang hebat.
"Selamat Baby!" ucap Brian menatap mata sang istri lekat.
Byan mengangguk, meminta suaminya untuk menunduk dan membisikkan sesuatu. "Byan ingin pipis Om!"
Satu kalimat yang Byan ucapkan membuat Brian sedikit membola, dia lupa kalau kehamilan istrinya semakin besar, oleh karena itu, dia kan lebih sering ke toilet di banding sebelumnya.
"Kenapa tidak bilang dari tadi?" tanya Brian menuntun sang istri menuju toilet yang ada di perusahaan, mereka memang mengadakan acara peluncuran produk baru di perusahaan miliknya.
"Sudah Om tunggu di sini saja, masa Om mau ikut ke toilet sih, Byan bisa sendiri, tunggu saja di sini!"
Brian mau tidak mau menurut tat kala istrinya meminta Brian untuk menunggu di depan toilet. Beberapa karyawan wanita terkejut ketika keluar dari toilet dan mendapati Brian sedang berdiri di depan toilet itu sambil melihat ke arah dalam.
"Apa di dalam ada Bu Byan ya, kenapa Tuan muda ada di sini?" bisik seorang karyawan wanita pada temannya.
"Entahlah, tapi kalau yang berdiri di sana adalah orang lain, aku pasti akan menghajarnya, kau lihat bagaimana gelagat Tuan Muda, dia terus menengok ke arah dalam, seperti seseorang yang hendak mengintip."
Sudah 10 menit berlalu, Brian kian bergerak gelisah, istrinya masih belum keluar, apa dia kesulitan, apa dia baik-baik saja? Brian malah semakin bingung saat arloji di pergelangan tangannya terus bergerak namun Byan tak kunjung keluar.
__ADS_1
"Apa yang sedang kau lakukan di dalam By? Apa kau sedang bersemedi?"
Brian melangkahkan maju namun kembali mengurungkan niatnya, dia bingung, dia ingin masuk namun dia takut di amuk orang-orang yang sedang menggunakan toilet. Sekalipun dia memiliki kekuasaan, rasanya tidak pantas jika dia melakukan hal seperti ini.
"Oke, kita tunggu sebentar lagi!" gumam Brian pada dirinya sendiri, namun setelah lima menit menunggu nyatanya Byan masih belum keluar juga.
"Taun!" panggil seseorang kepada Brian, laki-laki itu menoleh, tanpa basa-basi, dia langsung mendekati Agnes yang terlihat bingung karena melihat Brian berdiri di depan toilet wanita.
"Agnes, tolong saya! Byan, sudah 20 menit yang lalu dia masuk ke toilet, namun dia masih belum keluar sampai sekarang, tolong lihat dia! Saya takut terjadi sesuatu padanya."
Agnes mengangguk mengerti. Dia berjalan dengan tergesa menuju toilet, mengetuk setiap bilik yang ada di sana untuk mencari Byan. Beberapa pintu sudah terbuka, Byan tidak ada di sana, dan tinggal satu pintu yang belum dia ketuk. Pintu itu terkunci dari dalam, Agnes bisa melihat sepasang kaki dari bawah celah bilik toilet. Dia sangat yakin jika sepasang kaki itu milik Byan, namun kenapa dia tidak menjawab saat Agnes memanggilnya bahkan menggedor bilik tersebut. Sepasang kaki itu masih anteng dan tidak menunjukkan reaksi apapun.
"Ini gawat!" Agnes kembali keluar dari dalam toilet.
"Bagaimana?" tanya Brian semakin khawatir karena istrinya tak juga keluar, orang yang di suruh mencari Byan pun malah keluar tanpa wanita itu.
"Anu Tuan, sepertinya terjadi sesuatu dengan Bu Byan."
"Jika ada yang masih di dalam toilet, aku minta kalian keluar sekarang juga!"
Beberapa wanita itu berhamburan keluar. Orang yang ada di dalam bilik pun keluar dengan tergesa.
"Bu Byan ada di bilik itu!" tunjuk Agnes pada bilik yang ada di tengah-tengah.
Brian mendekat, mengetuk bilik itu beberapa kali, namun dia tidak mendapatkan jawaban apapun dari dalam, hening sangat hening.
"Baby! Aku akan mendongkrak pintunya jika kau tak kunjung menjawab."
__ADS_1
Beberapa detik Brian menunggu respon dari sang istri, namun ternyata hasilnya masih sama, dia tidak mendapatkan jawaban apapun.
"Mundur!" ucap Brian pada Agnes, wanita itupun mundur. Kini dia sama paniknya dengan Brian, kedua orang itu memiliki pemikiran yang tidak baik.
Brakkkkk!
Dalam satu kali dobrakan, pintu toilet terbuka.
"Anjir! Gue lagi ngeden!" Seorang wanita di dalam bilik lain membekap mulutnya, dia bukan tidak mendengar teriakkan dari Brian yang menyuruhnya untuk keluar, namun dia tidak bisa melakukan itu karena dia sedang berada di ujung tanduk.
"Baby!" Brian sedikit memekik melihat istrinya terkulai di atas kloset. Agnes tak kalah terkejutnya dengan Brian. Sepasang matanya membola melihat Byan terkulai tak berdaya.
To Be Continued.
Hai Guys. Maaf Author telat update. ðŸ˜
Ooiya, Author bawa salah satu cerita temen Author yang menyesakkan dada. Kalian bisa mampir ke sana ya, siapa tahu klop sama kalian. Sambil nunggu bab selanjutnya update. 🤗
"Apa-apaan ini?" tanya Naqi dengan nada meninggi. "Kamu sakit?" tanya Naqi lagi. Awalnya Naqi memang mengira bahwa Cyra sakit, biasanya kalo sakit kangker, ia akan botak karena menjalani pengobatan.
Cyra menggeleng. "Aku sehat, aku mengalami kelainan genetik, sehingga aku berbeda dari yang lain, Aku botak tidak memiliki rambut." lirih Cyra tidak berani menatap Naqi.
Otomatis Naqi terkejut dan kecewa dengan penuturan Cyra dan keluarganya.
"jadi kamu dan keluargamu sengaja menggunakan hijab itu untuk menjebakku?" tanya Naqi dengan membentak Cyra.
__ADS_1
Cyra mengangguk lemah, meskipun semua rencana adalah ide dari papahnya, tetapi secara tidak langsung Cyra juga menyetujuinya dan memanfaatkan pernikahanya supaya Cyra bisa bebas dari rumahnya.
"Sekarang kamu puas, sudah membuat aku terjebak dengan kebohongan kalian," Naqi membentak lagi dan akan melayangkan tanganya hendak menampar Cyra, tetapi Naqi menahanya sehingga tamparanya tidak sampai mengenai wajah Cyra.