Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Takut Belut


__ADS_3

Hayooooo keluarkan bunga dan kemenyan yang kalian punya. 🔥🔥🔥🔥


Happy Reading Guys.... 🤗


Dari pagi sampai siang Brian kesulitan untuk fokus pada pekerjaannya, gara-gara Byan yang menggodanya tadi malam, Brian terus kepikiran dan sangat sulit untuk melupakan lekuk tubuh gadis itu. Kemolekan tubuhnya membuat kepala Brian panas sampai ke ubun-ubun. Sebenarnya bisa saja Brian memaksa Byan untuk melayaninya. Toh, Byan sudah jadi istrinya dan sudah mejadi kewajiban Byan untuk memberikan haknya pada Brian.


Namun, Brian tidak bisa egois, dia tahu istrinya itu masih sangat polos dan tidak tahu apa-apa tentang masalah seperti ini. Seperti tadi malam. Gadis itu meringkuk ketakutan karena melihat Brian mengeluarkan si Beto.


Flashback on


"By, aku menginginkan mu!"


Brian berbisik dengan suara yang serak setengah tertahan. Tangannya sudah bergerak meraba wajah Byan turun ke bibir, ke leher dan berhenti pada seutas tali yang bertengger di bahu mulus istrinya. Brian meloloskan tali spaghetti itu hingga dua balon air yang begitu menggodanya terpang-pang dengan jelas di depan mata. Byan ingin menutup dadanya menggunakan kedua tangan namun Brian dengan sigap menahan kedua tangan Byan di atas kepala gadis itu.


Brian mulai melakukan aksinya. Sementara Byan, gadis itu menggeliat kegelian juga merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Dia bergerak semakin gelisah saat bibir hangat nan seksi milik suaminya terus turun mengecupi setiap bagian tubuhnya. Brian menggeram dengan suara yang serak. Melihat Byan yang sudah terbuai dengan sentuhan lembut yang dia lakukan, Brian mulai melucuti semua pakaiannya hingga yang tersisa adalah boxer ketat yang menonjolkan sesuatu.

__ADS_1


Dengan sedikit kesadaran yang Byan miliki, gadis itu berusaha untuk membuka mata. Pada awalnya dia tersenyum dengan pipi yang memerah, melihat wajah tapan suaminya, dada bidang serta roti sobek yang mendamba untuk di sentuh, membuat Byan memunculkan pikiran-pikiran kotor yang belum pernah dia pikirkan sebelumnya. Matanya terus turun, ke pusar dan ketika Brian melepaskan kain terakhir di tubuhnya, mata Byan melotot.


"Akhhhhhh!"


Sontak Byan langsung menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut itu. Brian kebingungan. Dia berusaha menarik selimut yang menutupi tubuh istrinya, namun selimut itu malah di cekalnya kuat.


"Om jangan Om, itu, Byan takut Om. Kenapa itu besar sekali."


Brian menurunkan pandangannya. Dia menatap si Beto dengan tatapan nyalang. Gadis ini sudah pernah menyentuhnya, namun kenapa saat dia melihatnya dia malah seperti melihat hantu.


"Bukannya kamu sudah pernah melihat ini, kenapa takut?"


Brian menarik napas panjang. Sepertinya ini memang bukan waktunya untuk melakukan ini dengan Byan. Meskipun sulit, Brian kembali mengenakan pakaiannya lalu berbaring di samping Byan.


"Aku sudah berpakaian. Sekarang turunkan selimutnya!"

__ADS_1


Byan menurunkan selimut itu sampai di bawah mata. Dia menolehkan kepalanya melihat Brian dari atas sampai bawah. Ya, laki-laki itu sudah kembali mengenakan pakaiannya.


"Kenapa?" tanya Brian ketus. Sebenarnya ini bukan salah Byan, namun entah kenapa dia merasa dipermainkan oleh bocah kecil ini.


"Om marah?"


"Heum! Sebenarnya siapa yang mengajarimu mengenakan pakaian seperti ini boncel?"


"Eumm, itu, Dita, Dita yang menyuruh Byan mengenakan pakaian kurang bahan ini. Dita bilang ini cara satu-satunya supaya Om tidak berpaling kepada wanita lain. Byan gak mau Om pergi menemui tante-tante itu lagi. Byan maunya Om sama Byan aja."


Brian memejamkan mata lalu menggeser tubuhnya memeluk gadis kecil yang begitu menggemaskan ini. Brian terharu mendengar apa yang Byan katakan. Ternyata bukan dia saja yang takut kehilangan gadis ini, tapi gadis ini juga takut kehilangan dirinya.


"Jangan lakukan hal seperti ini lagi. Mulai besok pakai saja piyama yang biasa kau pakai. Setelah kau tahu apa kegunaan lingerie, baru kau boleh memakai nya di depanku."


Byan mengangguk. Dia hendak membuka selimutnya, namun Brian malah menahan tangan Byan. Dia tidak mau melihat sesuatu yang bisa membuatnya kesakitan. Lebih baik Byan tidur di bawah selimut saja.

__ADS_1


"*Sepertinya aku harus menunggu lebih lama lagi. Haruskah aku menunggu sampai kau lulus By?"


To Be Continued*.


__ADS_2