
Navisa melangkah masuk ke dalam rumah dengan langkah yang gontai. Dia tidak memperdulikan teriakan dari ibunya yang sekarang masih menggedor pintu kamar. Wanita itu malah menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang, membenamkan wajahnya di antara tumpukan bantal untuk meredam Isak tangis yang tidak bisa dia tahan.
Rendy, pria itu telah membuat Navisa jatuh cinta namun malah menjatuhkan nya dengan cara seperti ini. Bertahun-tahun Navisa meyakinkan hatinya untuk menerima cinta dari Rendy, namun Rendy malah membuatnya sakit hati seperti ini. Navisa tahu mungkin Rendy tidak ada maksud jahat padanya, namun sudah beberapa lama sejak mereka bersama, kenapa Rendy tidak menceritakan segalanya, apa yang coba Rendy sembunyikan darinya.
Drtzzzzz ....
Drtzzzzz ....
Navisa tidak memperdulikan getaran ponselnya, mengambil ponsel itu dari dalam tasnya, lalu melemparnya sembarangan arah.
"Na!" Navisa!"
Ibu Navisa masih terus memanggil nama anaknya, namun orang yang di panggil malah menutup telinganya dengan bantal, oh sungguh, Navisa sedang tidak ingin di ganggu, dia butuh ketenangan. Navisa butuh menata hatinya untuk beberapa waktu.
"Ibu, Ibu pergi saja! Navisa tidak apa-apa!"
Berteriak agar ibunya tidak lagi menggedor pintu dan meneriakkan namanya.
Sementara di tempat lain, Rendy terus bergerak gelisah, mondar mandir tak tentu arah sembari terus menghubungi nomor Navisa. Wanita itu tidak mau mengangkat panggilan nya. Dan semakin kesalahannya lagi, ponsel Navisa malah mati.
"Ya Allah Na, aku tidak bermaksud mempermainkan mu. Aku hanya belum siap mengatakan semuanya, aku sudah nyaman dengan identitas palsuku. Maafkan aku Na!"
Rendy meninju tembok yang ada didepannya beberapa kali, semua karyawan di bengkel tersebut melihat Rendy dengan tatapan aneh.
"Si Bos lagi galau kan? Watir nya Euy, (Kasihan ya ) Si Bos teh da baru sekali ini bawa cewek ke bengkel, tapi dia malah di campakkan seperti itu."
"Iya, banyak uang juga gak menjamin ya, padahal si Bos teh ganteng deuih!"
Para karyawan di bengkel Rendy malah sibuk bergosip, mereka sama sekali tidak memperdulikan Rendy yang saat ini sedang resah, gundah gulana.
...----------------...
Keesokan harinya, Byan membantu Brian untuk memakaikan pria itu pakaian semi formal, hari ini Brian hanya ingin menemui seorang klien yang sudah lama dia kenal, jadi dia tidak perlu berpakaian rapi seperti ketika dia akan menghadiri rapat.
"Aku sudah bilang aku gak mau kerja By!"
Brian memeluk Byan sembari menunduk menumpukkan dagunya di bahu sang istri. Pria itu bertingkah seperti seorang bocah yang sedang merengek pada ibunya.
"Om, ini cuma sebentar, hari ini Byan juga ada janji sama Kak Bima, Byan harus nyoba game online yang Kak Bima dan teman-temannya buat. Nanti Om jemput Byan di sana ya!"
__ADS_1
Brian langsung menarik kepalanya, menatap Byan dengan tatapan yang tajam, namun Byan malah terkekeh sambil mencubit hidung suaminya.
"Jangan pasang ekspresi konyol seperti itu, Byan tidak takut, Om malah terlihat sangat lucu."
Brian mengerutkan bibir nya tidak suka, dia kembali memeluk Byan, namun istrinya itu malah mendorongnya menjauh.
"Aku masih kangen By ikh. Kenapa gak mau aku peluk?" Kembali nada suara manjanya keluar. Byan semakin di buat gemas dengan tingkah sang suami yang lebih sering berubah-ubah sekarang.
"Kita belum berpisah, kenapa sudah bilang kangen? Kita berangkat sekarang ya!"
Byan menyambar tasnya lalu menggandeng Brian agar suaminya itu mau keluar dari kamar. Jika Byan tidak berinisiatif untuk membawa Brian pergi, mungkin laki-laki itu tidak akan pergi sampai kapanpun.
"Udah siap By?" tanya Bima yang memang sudah menunggu Byan di lantai bawah.
"Heum, tinggal berangkat."
"Ya udah ayo!"
Bima menarik tangan Byan, namun Brian malah menepis tangan Bima dari tangan istrinya.
"Jangan sentuh istriku Bima!"
"Aku akan mengantar nya lebih dulu," ucap Byan tanpa suara. Bima mengangguk, dia mengepalkan tangannya dan meninju bayangan Brian.
"Dasar Banteng Bucin!"
Setelah memastikan Brian masuk dan duduk dengan tenang di dalam mobil, Byan menutup pintu mobilnya, meminta Dito untuk menjalankan mobil namun pintu kaca mobil bagian belakang kembali di turunkan oleh Brian.
"By, aku gak mau kerja. Ikut aja bareng kamu sama Bima ya!"
Brian menarik ujung lengan baju yang Byan kenakan, Byan mengerilingkan matanya merasa agak sedikit kesal dengan tingkah manja Brian padanya. Bukannya Byan tidak suka, hanya saja Ayah Nugroho sudah mewanti-wanti Byan kalau pertemuan Brian dengan klien mereka hari ini sangatlah penting.
"Sudah Om!"
Brian berbicara dengan gigi yang saling beradu, dia melakukan itu karena dia tidak ingin terlihat marah oleh Brian, melepaskan tangan Brian paksa, hingga, pria itu semakin mengerucutkan bibirnya tidak suka.
"Jalan Om Dito!"
Byan melambangkan tangan pada sang suami. Memberikan playing kiss sebelum dia benar-benar menghembuskan napas lega.
__ADS_1
"Akhirnya banteng manja itu pergi!"
"Masuk By!"
Bima membuka pintu penumpang dari dalam. Byan mengangguk dan masuk ke dalam mobil adik iparnya. Sepanjang perjalanan, Byan terus mengetikan sesuatu di ponselnya, dia terlihat agak kesal, namun wajahnya terus menyunggingkan senyum.
"Apa banteng pemarah itu masih menghubungi mu?"
"Hmm. Dia itu sangat lucu Kak, masa, dia bilang kalau dia ingin melompat dari mobil dan berlari menemui ku. Ada-ada aja."
Bima menggelengkan kepalanya. Sungguh, dia tidak menyangka pria dingin, bengis juga pemarah seperti Brian bisa luluh di depan seorang wanita.
"Cinta itu mengerikan By."
Byan mengangkat kedua bahunya. "Kau tidak akan mengerti karena kau belum mengalami nya Kak, nanti, setelah kau menemukan tambatan hatimu, aku yakin kau akan lebih bucin dari banteng milikku."
Bima bergidik ngeri. Jangan sampai itu terjadi padanya, apa kata dunia jika seorang Bima Cahyo Nugroho takluk di depan seorang wanita.
"Kita sampai By!"
"Terima kasih!" ucap Byan saat Bima membukakan pintu untuknya, mengulurkan tangan, juga melindungi kepala Byan agar tidak terbentur pada pinggiran pintu mobil.
Byan menatap sebuah gedung kecil di depannya dengan tatapan kagum. Ya, meskipun gedung ini tidak besar, namun ornamen juga desain interior gedung itu terlihat sangat cantik dari luar.
"Wah, kantornya bagus banget Kak. Apalagi bagian itu!" Byan menunjuk salah satu sudut bangunan yang terlihat full color. "Lucu banget Kak. Kalau Byan kerja dalam suasana kayak gini pasti nyaman banget."
Byan melangkahkan kakinya dengan riang menuju kantor Bima, wanita itu seperti terhipnotis hingga dia tidak sadar jika orang-orang yang ada di dalam perusahaan itu sedang menatapnya kagum sekaligus bingung.
Sementara di tempat lain, Brian terus mondar mandir ke kamar kecil karena tidak tahan mencium bau parfum kliennya. Dia sudah mencoba untuk menahan diri supaya tidak mual, namun ketika dia duduk dan kliennya mulai membuka mulut, mual itu kembali muncul dan ...."
"Hueekkk!"
Brian menutup mulutnya kembali berlari ke arah toilet. Dito mengucapkan maaf berulang kali karena merasa tidak nyaman dengan situasi saat ini.
"Kalau bos Anda tidak sehat, seharusnya dia tidak usah datang."
Klien itu terlihat sangat kesal lantaran pembicaraan nya selalu di potong dengan bunyi huekkk dari Brian.
To Be Continued.
__ADS_1