Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Suite Room


__ADS_3

Brian memiringkan tubuhnya menumpu kepala dengan tangan. Dia terus memperhatikan Byan tanpa berkedip. Matanya memanas. Tiba-tiba saja, buliran air mata meluncur dari sudut matanya.


Buru-buru Brian mengusap air mata ketika melihat Byan membuka matanya. Namun sepertinya dia kalah cepat karena nyatanya. Gadis itu menautkan kening sembari menatapnya dalam.


"Om nangis?" tanya Byan. Detik berikutnya tubuh mungil itu sudah berada di atas tubuh Brian. Menatap wajah suaminya lama, jemarinya terulur mengusap air mata yang masih mengalir di pipi sang suami.


"Kenapa menangis, harusnya Byan yang nangis. Om udah besar. Kenapa sedih? Gak seneng Byan pulang?" suara lirih Byan membuat air mata Brian kian mengalir dengan deras.


Kebahagiaan di dalam hatinya begitu membuncah saat dia melihat Byan berbaring di sampingnya. Namun ketika Byan mengucapkan kalimat lirih itu, Brian merasa sangat hancur. 4 tahun dia lewati tanpa gadis ini, mana mungkin dia tidak senang ketika Byan pulang.


"Aku tidak akan pernah membiarkan kau pergi lagi By! Jangan berbicara seperti itu."


Brian menggulingkan Byan. Mendekap gadis itu erat dengan tubuh bergetar menahan tangis.


"Kenapa Om tega meninggalkan Byan di negara asing itu? Om tahu, Byan hampir menyerah. Byan sangat merindukan Om, tapi untuk sekedar mendengar suara Om saja Byan gak bisa. Kenapa Om tega."


Kini mereka berdua sama-sama menangis. Meluapkan kerinduan yang teramat sangat menyiksa.


"Aku tidak benar-benar meninggalkan mu By. Apa kau tidak tahu, siapa yang memberikan mu teh jahe di pagi hari ketika kau datang bulan, siapa yang mengusap perut mu 4 tahun ke belakang, kau benar-benar tidak tahu? Apa kau juga tidak menyadari kedatangan ku saat kau sakit? Aku menemui mu semalaman saat kau demam, kau juga tidak tahu?"


Byan bergeming. Dia tidak mengerti apa yang Brian maksud. Beberapa detik mencerna, pada akhirnya Byan membekap mulutnya dengan mata membulat.


"Wangi pinus dengan sentuhan Citrus itu ...."


Brian mengangguk. "Aku selalu berada di sisi mu By. Tidak mungkin aku meninggalkan mu. Dalam satu bulan, aku bisa menemui mu 1 sampai dua kali. Namun aku melakukan itu saat kau sedang tidur. Pemilik asrama sudah bekerja sama dengan ku sejak awal. Begitupun dengan Navisa."


Byan terlihat menggelengkan kepalanya. "Tapi kenapa Om melakukan itu. Byan pikir, Om benar-benar menelantarkan Byan."


Brian tersenyum. Kembali merengkuh tubuh Byan, membawa gadis itu masuk ke dalam dekapannya. "Aku melakukan itu karena aku tahu, menahan rindu itu berat By. Aku sengaja membuatmu kesal agar kau bisa bertahan di sana."


"Tapi Om hampir membuat Byan gila. Tadinya Byan ingin berpisah saja. Tapi Byan juga tidak bisa. Byan sayang sama Om."


Brian menganggukkan kepalanya. Mengecup pucuk kepala Byan berkali-kali. "Jangan berpikir untuk pergi dariku By. Apapun alasannya, aku tidak akan pernah membiarkan mu pergi. Sekarang tidurlah sebentar. Nanti aku akan membangunkanmu."


...----------------...

__ADS_1


Byan mulai mengerejapkan matanya perlahan. Dia sangat lelah sampai tidur seperti bangkai. Perjalanan dari Prancis ke Indonesia, belum lagi kegiatan panasnya dengan sang suami. Byan menangkup kedua pipinya yang terasa sangat panas. Dia kembali teringat dengan apa yang telah dia lakukan dengan suaminya. Byan tidak menyangka, jika dirinya mampu melakukan hal-hal yang sebelumnya belum pernah dia lakukan.


Namun, beberapa menit kemudian, Byan mengerutkan kening. Menarik selimut dan langsung duduk mundur sampai dia terbentur senderan ranjang.


"Sudah bangun?"


Tanya Brian membuat Byan langsung menoleh. Dia mengusap dadanya dengan napas lega. Syukurlah, dia pikir dia ada di mana. Kenapa sekarang dia malah ada di kamar luas nan besar seperti ini.


"Kita ada di mana Om?"


Brian berjalan mendekati Byan, kedua tangannya dia selipkan di punggung juga di lekukan lutut gadis itu.


"Kita ada di hotel By. Aku sengaja membawa mu ke sini. Sebelum bertemu dengan semua orang. Aku ingin menikmati waktuku bersama mu. Sebelum kita puas. Kita tidak akan pulang."


Brian menurunkan Byan di bawah shower. Tersenyum, mengecup seluruh permukaan wajah Byan dan berbisik. "Sudah hampir jam 4 sore. Mandilah, masih ada waktu untuk shalat."


Deg!


Byan menatap suaminya lekat. Benarkah yang dia dengar, Brian baru saja mengingatkan dia untuk beribadah? Apakah suaminya sudah berubah?


Wajah Brian langsung memerah ketika tangan Byan terkalung di lehernya. Gadis itu mendekapnya erat membuat tubuh mereka berdua menempel dengan sempurna. Helow, si Beto sudah menunjukkan gelagat tidak biasa, ya Byan masih belum mengenakan apa-apa. Di tambah Brian yang hanya mengenakan kaos hitam tipis membuat kulit dadanya bisa merasakan rusuk Byan yang menonjol.


"Makasih Om."


"For what?" tanya Brian bingung.


Byan malah menggelengkan kepalanya.


"Sudah, Om pergi saja! Byan mau mandi."


Dengan tidak beradab nya Byan mengusir Byan dari sana. Padahal, tadi dia sudah menggoda Brian hingga belut listriknya meronta-ronta. Istrinya ini benar-benar belum berubah. Dia tetap tidak terlalu peka terhadap hewan mematikan peliharaan Brian.


"Dengarkan aku Beto. Kau tahu, kita sudah lama tidak bertemu gadis merah jambu itu. Pastikan sengatan mu kuat hingga kita berhasil meminggrasikan para kecebong agar wanita kejam itu tidak akan pergi meninggalkan kita."


Brian sudah seperti orang bodoh karena berbicara dengan hewan peliharaannya sendiri. Dia melirik pintu kamar mandi sekilas sebelum dia kembali ke kamar.

__ADS_1


...----------------...


Selesai shalat Ashar Byan celingukan mencari sosok suami yang lagi-lagi menghilang dari pandangannya. Langkah kakinya terlihat agak tergesa. Tidak mungkin Brian meninggalkan Byan di sini sendiri kan.


"Om!" panggil Byan melihat suaminya sedang berdiri, menyalakan lilin dengan pemantik api di tangannya.


"Sudah selesai?" ujar Brian dengan senyum di bibirnya. Matanya berbinar melihat Byan mengenakan baju dinas yang telah dia siapkan. Kain sutra berwarna hitam di atas paha membuat kaki gadis itu terlihat lebih jenjang.


"Kemarilah!"


Brian menuntun Bryan untuk duduk di sebuah kursi pada meja bulat kecil yang sudah di hias sedemikian rupa. Letak meja yang ada di dekat jendela kaca membuat mereka bisa melihat pemandangan langit sore berwarna jingga kala itu. Kaca suit room di sana adalah kaca satu arah. Mereka bisa melihat suasana luar. Namun orang luar tidak mungkin bisa. Apalagi suit room ini terletak di lantai paling atas.


"Ini maksudnya apa Om? Cake dan semua makanan ini?"


Brian mengangguk. "Selamat datang kembali istriku. Ini adalah sambutan sederhana yang bisa aku lakukan untuk mu."


Brian beranjak dari kursinya. Berjalan perlahan ke sisi Byan. Lalu berjongkok dengan menumpukkan satu kakinya.


"By, aku tahu, aku mungkin bukan suami yang sempurna. Aku bukan imam yang bisa kau banggakan, tapi aku akan berusaha. Aku akan berusaha untuk melakukan yang terbaik agar kau nyaman bersama ku. Byan Anandita Putri, will you marry me?"


Deg!


Kotak beludru hitam terbuka di depan wajah Byan sebuah cincin berlian terlihat sangat berkilau. Mata Byan berkaca-kaca. Dia melirik cincin itu sekilas lalu kembali menatap suaminya.


"Yes, I will Om Brian. Byan mau jadi istri Om!"


Brian tersenyum. Dia mengambil cincin dari kotak itu dan menyematkan cincinnya di jari manis Byan. Syukurlah, gadis ini akan benar-benar jadi istrinya yang sah. Dia akan segera mendapatkan hak paten seluruhnya.


"I love u By. I love u."


Byan mengangguk dalam pelukan suaminya. Tetes air mata kebahagiaan kembali muncul. Semoga setelah ini, hubungan mereka semakin kuat hingga tidak akan ada orang yang bisa memisahkan mereka kecuali maut.


To Be Continued.


Huhuy. Bentar lagi ada hajatan Guys. Siapin amplop yang gede ya. 🤣🤣🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2