Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Tekad Sisil


__ADS_3

"Sayang!" Sisil memanggil dengan suara yang dia buat seseksih mungkin.


Brian menoleh. Dia menatap Sisil dari atas sampai bawah. Brian memundurkan kursinya. Mengetukkan jarinya di atas bibir lalu tersenyum. "Ternyata masih cantik Byan ke mana-mana," Gunanya dalam hati. Brian kembali duduk seperti semula, dia tidak terlalu berminat kepada Sisil. Wanita itu mengerutkan dahinya. "Sayang, kamu gak kangen sama aku?" Sisil turun dari atas meja lalu duduk di atas pangkuan Brian. Brian yang merasa risih menyingkirkan tubuh Sisil sampai Sisil hampir saja terjatuh.


"Pergi Sisil, aku sedang tidak mood."


"Haaah." Sisil menghembuskan napasnya kasar. Seperti inikah sikap Brian, habis manis sepah di buang? Yang benar saja, dia sudah menyerahkan segalanya untuk Brian, namun laki-laki itu dengan santainya mengatakan kalau dia sedang tidak mood. Brian pikir Sisil ini wanita seperti apa. Dia bukan wanita panggilan yang bisa di panggil ketika Brian butuh dan di buang ketika Brian sudah bosan.


"Jangan bercanda dengan ku Brian, kau bilang kau menyukaiku, kenapa akhir-akhir ini kau menghidariku hah? Apa karena gadis ingusan itu, karena dia kau jadi berubah, karena gadis manja itu kau tidak membutuhkan ku lagi? Se ja lang apa dia sampai kau mau membuang ku Brian?"


Brakkkkk!


Brian menggebrak meja kerjanya terlalu emosi mendengar Sisil menghina istri kecilnya.


Settttt!

__ADS_1


Brian mencekal rahang Sisil membuat wanita itu meringis kesakitan. "Jangan bicara macam-macam padaku Sisil, berani kau menghina istriku satu kali lagi, maka hidupmu akan berakhir di tanganku. Jangan sok suci, buka kah selama ini kau hanya menjual tubuhmu padaku?"


Sisil semakin meringis. Dia berusaha melepaskan cakalan tangan Brian namun sulit.


"Dito!"


Brian berteriak memanggil sekertaris nya. Dito datang membawa sebuah amplop coklat lalu memberikannya kepada Brian. Brian menghempaskan Sisil lalu beralih mengambil amplop itu.


"Kau pikir aku bodoh karena aku diam saja begitu? Jangan besar kepala Sisil. Sekarang aku sudah tahu kalau kau sering bermain gila di belakang ku."


Srakkkk!


Brian tersenyum sinis. "Mulai sekarang jangan pernah mengganggu ku Sisil. Jika kau masih ingin bekerja di sini, maka tutup mulut mu dan jangan katakan kepada siapapun jika aku sudah menikah. Jika kau berani membuka mulut mu, maka aku akan menyebarkan semua foto-foto ini di jejaring media sosial."


Sisil tidak bisa berkata-kata. Dia memungut semua foto-foto itu dengan air mata yang keluar dari sudut matanya. Sisil juga tidak ingin melakukan ini. Dia terpaksa. Sisil, tidak bisa melepaskan cinta pertamanya. Apapun yang Nendra katakan padanya, dia akan menerimanya. Bahkan ketika Nendra menyuruhnya untuk menjual diri pada laki-laki hidung belang demi mendapatkan sejumlah uang, Sisil tidak bisa menolak. Selama ini Sisil selalu bersikap manis di depan Nendra karena dia takut. Nendra selalu mengancam dirinya jika Nendra akan membunuhnya kalau Sisil tidak mau melayaninya dengan baik.

__ADS_1


Namun salahnya Sisil adalah, dia sudah terbiasa mendapatkan uang dengan cara yang mudah, karena itu juga dia suka berpoya-poya menghabiskan uang yang dia hasilkan untuk membeli barang-barang mewah nan mahal. Sisil mencintai Nendra, namun rasa takutnya lebih besar dari rasa cinta yang dia miliki. Tapi lagi-lagi Sisil tidak bisa meninggalkan laki-laki itu. Hutang dia pada rentenir juga hutang bekas Nendra berjudi.


"Pergi dari ruangan ku Sisil!" Brian membentak Sisil tanpa merasa kasihan sedikitpun. Sisil berdiri lalu menatap Brian dengan mata yang menyala.


"kau lihat saja Brian, aku akan membalas setiap penghinaan yang kau berikan padaku. Jika aku tidak bisa menyentuh mu, maka aku akan menyentuh istrimu."


"Dito, turunkan jabatannya. Suruh dia menjaga meja resepsionis di loby bersama dengan yang lain."


"Baik Tuan Muda."


Brian menjatuhkan dirinya di atas kursi. Dia memijat pelipisnya sangat kuat. Rasa kantuk yang tadi hampir membuatnya tumbang kini menghilang. Berkat Sisil, dia bisa mendapatkan kesadarannya kembali.


"Apa semua wanita di dunia ini sama, mereka hanya ingin mengincar uang ku?"


Seminggu ini Brian sudah menyuruh Dito untuk mengawasi Sisil karena merasa curiga. Sisil semakin hari semakin matre dan terus meminta uang. Bahkan uang terakhir yang dia berikan hampir berjumlah 100 JT. Namun tetap saja Sisil tidak merasa puas.

__ADS_1


To Be Continued.


Ular satu udah musnah nih Guys ... jangan lupa like dan komentarnya ya. 🏇🏇🏇💪


__ADS_2