Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Kehebohan Bestie


__ADS_3

Byan berangkat ke sekolah bersama dengan suaminya. Entah kenapa, keraguan yang ada di hati Byan semakin memudar, dia mulai kembali bertekad untuk mendapatkan hati suaminya. Apapun yang terjadi, mau badai hujan, angin topan, guntur, bahkan banjir sekalipun akan Byan terjang. Semakin lama bersama dengan suaminya, Byan benar-benar yakin kalau dia memang mencintai laki-laki itu. Jika di tanya dari mama Byan tahu kalau dia cinta kepada Brian, jawabannya adalah dari google. Setiap malam dia selalu laporan kepada Mbah nya tentang apa yang dia rasakan. Dan semua gejala yang dia rasakan merujuk pada kata jatuh cinta.


"Byan berangkat dulu ya Om!" Bian menarik tangan Brian lalu mengecup punggung tangan besar, mulus nan putih itu dengan bibirnya. Sebelum benar-benar keluar, Byan kembali berbalik untuk mengecup pipi suaminya.


"Assalamualaikum!" Byan membanting pintu mobil lalu berlari menuju sekolahnya. Byan masih berusaha untuk menutupi pernikahannya. Jadi dia masih tidak berani untuk turun di depan gerbang sekolah.


Brian diam mematung sembari memegangi pipinya. Sudut bibirnya tertarik ke atas membuat Dito yang ada di balik kemudi ikut tersenyum. Dito pernah mengalami ini, jadi dia sangat tahu jika atasannya ini sedang jatuh cinta. Jika Dito pikir-pikir lagi, ini tidak seperti Brian, atasannya itu selalu bersikap dingin dan tidak pernah menunjukkan ekspresi yang menggemaskan seperti sekarang. Mungkin memang terkadang dia akan tersenyum, namun bukan senyum seperti ini. Brian tersenyum malu-malu membuat dia terlihat seperti manusia normal.


Dito selama ini benar, hubungan Brian dengan Sisil hanya sebuah hubungan yang didasari oleh kebutuhan, namun sepertinya tuannya ini masih belum sadar. Dito melirik ke arah spion, dia melihat punggung Nona kecilnya sembari tersenyum. "Semoga Nona bisa menyadarkan Tuan Muda. Aku tahu dia juga menyukaimu Nona, aku harap kau bisa bersabar."


"Dit!"


Brian memanggil membuat orang yang dipanggil terperanjat dan menoleh ke arah tuannya. "Iya Tuan!"


"Kenapa malah ngelamun, jalan!"


"Baik Tuan!"


****


Anandita dan Navisa langsung menyerbu Byan ketika gadis itu sudah duduk di bangkunya. Kedua sahabatnya itu menatap Byan dengan mata yang berbinar.


"Katakan dengan jujur! Kau mendapatkan uang sebanyak ini dari siapa?" Navisa bertanya sembari menunjukkan bukti saldo yang masuk ke rekeningnya.


Byan hanya tersenyum. Gadis itu menarik kedua bahu sahabatnya. "Kalau aku bilang aku punya Sugar Daddy kalian percaya gak?" Byan berbisik dengan senyum jahil di wajahnya.


"What?"


Anandita dan Navisa refleks berteriak. Byan menaruh jari telunjuknya di depan bibir. Kedua sahabatnya itu langsung mengangguk dan kembali fokus kepada Byan.

__ADS_1


"Jangan bercanda sama kita By, kita tahu kamu bukan orang kayak gitu."


Byan mengangkat kedua bahunya acuh. Jujur saja lebih baik kedua sahabatnya ini tidak tahu jika dia sudah menikah, Byan tidak mau di DO dari sekolah. Lebih baik dia berbohong untuk beberapa bulan ke depan.


"Aku sudah bilang kalau aku ini masih saudaranya Aldi, kalian tahu kan seberapa kaya keluarga itu. Maid di rumahnya banyak. Hanya saja tidak semuanya tinggal. Hanya satu yang tinggal. Dan yang lainnya hanya datang pagi dan pulang sore hari. Kalau penjaga sih kebanyakan tinggal."


Anandita dan Navisa mengangguk mengerti. " Lalu bagaimana ceritanya Lo bisa punya Kakak cakep kaya Kak Haris itu. Lo bukan anak pungut kan?"


Navisa refleks menjitak kening Anandita dengan jarinya. "Kalo ngomong itu di saring , kamu udah di kasih 25jt masih aja ngehina orangnya."


"Hehe, Gue cuma bercanda By, gak maksud kayak gitu sumpah. Lagian kalau kamu dandan kayak kemarin, kamu itu cantik banget, kenapa gak tiap hari aja dandan?"


Byan mengidikan bahunya acuh. "Males lha kalau ke sekolah harus dandan kayak gitu, lagian juga mana ada waktu buat dandan. Mending di pake buat hal lain."


"Akh Elo By, kalau Lo ke sekolah dengan wajah seperti kemarin, gue yakin, Lo bakal jadi primadona di sekolah ini."


Navisa mengangguk setuju. Namun Byan malah menggelengkan kepalanya. "Aku ingin fokus belajar dulu. Dan fokus mengejar cinta Om Brian," ucap Byan dalam hati.


"Kapan-kapan ya," ucap Byan dengan senyum di bibirnya.


"Awas aja kalau Minggu ini gak jadi, ku Balck list kau dari kartu persahabatan kita."


Byan hanya terkekeh menanggapi guyonan dari Anandita. Dia menarik ponsel dari dalam tasnya lalu mengetikan sesuatu.


"Selamat bekerja suamiku! ♥️💋"


Brian tersenyum melihat pesan yang Byan kirimkan untuknya. Dia mematikan ponselnya kembali lalu memasukannya ke dalam saku jas yang dia kenakan. Kaki jenjangnya mulai memasuki area perusahaan. Semua karyawan yang melihatnya membungkuk memberikan hormat. Setelah Brian pergi, mereka semua mulai berbisik membicarakan keanehan dari Tuan Muda mereka.


"Ada apa ya dengan Tuan Muda, kok sepertinya ada yang aneh. Gak biasanya lho wajah juteknya berseri."

__ADS_1


"Stttttttt!"


Dito menaruh jari telunjuknya di depan bibir, semua karyawan itu mengangguk mengerti dan mulai kembali pada kegiatan mereka masing-masing.


Brian memasuki ruangannya masih dengan senyuman yang tak lekang. Dia duduk di kursi kebesarannya lalu membuka ponselnya kembali. Senyuman nya semakin lebar tat kala dia membaca pesan kedua dari istrinya.


"Semangat Om Brian ku yang tampan😘"


Brian sedikit terkekeh namun dia kembali merubah ekspresi wajahnya. Laki-laki itu tersenyum lalu mulai mengetikan sesuatu.


"Belajar yang rajin Boncel. Kalau nilai mu turun, uang jajan mu aku kurangi."


.


.


"Siap Tuan Bos! 🏋️"


Brian kembali tersenyum mendapat balasan dari Byan. Laki-laki itu tak henti-hentinya menatap layar ponsel dengan wajah yang berseri-seri.


"Tuan!"


Brian langsung menoleh dan menyimpan ponselnya. "Ada apa Dito!"


"Kita ada rapat 10 menit lagi Tuan Muda!"


"Ayok berangkat!"


Brian berdiri lalu berjalan mendahului Dito. Dito memperhatikan tuannya sembari menggelengkan kepala. "Orang yang sedang jatuh cinta benar-benar sangat menakutkan."

__ADS_1


To Be Continued.


__ADS_2