Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Anandita


__ADS_3

"Kenapa kalian ke sini?"


Seorang wanita paruh baya dan pria seumuran dengannya berdiri di samping ranjang Anandita. Namun, Anandita sepertinya tidak senang melihat keberadaan dua orang itu.


"Kita ini orang tuamu Sayang, wajar kita di sini. Kita ingin menjenguk mu. Apa salahnya?"


Anandita tersenyum miris. Dia memalingkan wajahnya tidak mau melihat wajah kedua orang tuanya yang selalu lebih mementingkan pekerjaan daripada dirinya.


"Sudahlah, kalian pergi saja. Urus bisnis kalian. Jangan hiraukan aku. Anggap aja aku ini hanya anak yatim piatu yang kalian pungut dari jalanan."


"Dita!" Stephani berteriak di depan Anandita.


"Apa? Mau marah? Silahkan! Mau tampar Dita silahkan! Kalian memang tidak pernah ada kan untuk aku. Kalian hanya memikirkan uang, uang dan uang. Kapan kalian melakukan peranan kalian sebagai orang tua? Dita capek Mah, Pah, Dita juga pengen kayak anak-anak lain, Dita pengen ketika pulang sekolah, Dita di tanya, bagaimana sekolahnya Nak? Apa kamu melakukan tugas sekolah dengan baik, kamu makan teratur atau tidak. Dita mau juga seperti itu Mah." Dita berbicara setengah berteriak. "Kalian selalu berangkat pagi-pagi buta dan pulang malam hari. Lalu kapan kalian bisa punya waktu untuk Dita?"


Air mata mengalir dari pelupuk matanya. Hatinya sesak jika dia memikirkan betapa kesepiannya dia selama ini. Dia selalu berusaha menarik perhatian orang tuanya dengan segala cara. Namun orang tuanya tidak pernah perduli.


"Kita melakukan ini untuk kamu. Kita bekerja banting tulang demi mencukupi kebutuhan kamu. Sekolah kamu. Kalau kami tidak mencari uang. Bagaimana kita akan hidup hah? Jangan egois kamu Dita. Kamu itu sudah besar. Sudah bukan waktunya untuk mu menjadi manja seperti ini!"


"Keluar! Aku tidak butuh ceramah kalian. Keluar!" gadis itu kembali berteriak. Stephani ingin kembali menyela. Namun suaminya menahan Stephani. "Jaga dirimu baik-baik Nak. Kita akan menjemput mu kalau kau sudah bisa pulang," ucap Ayah Dita sembari mengusap kepala anaknya.


"Kami menyayangimu," ulang dia.


Byan, Haris dan Navisa kembali menutup pintu ruang rawat Dita.


"Kok aku ngerasa bersalah ya manggil mereka ke sini. Aku cuma pengen Anandita di jenguk orang tuanya. Aku tidak tahu jika masalah ini akan terjadi."


Byan memeluk Navisa. Wajah sendu Navisa membuat Byan ikut terluka. Byan tidak pernah berpikir jika hubungan keluarga bisa tidak harmonis seperti ini. Byan juga tidak tahu jika Dita bersikap urakan ternyata hanya untuk menutupi masalah hatinya. Sekali lagi dia harus bersyukur karena dia mendapatkan keluarga penyayang dan perhatian. Dia tidak tahu, apa yang akan terjadi padanya, jika posisi dia dan Dita di tukar.


"Kalian masuklah!" ucap Stephani kepada Byan, Navisa dan Haris.


"Tolong jaga Dita ya, kami mohon!" Ayah Dita menetap ketiga orang itu bergantian.


"Baik Paman!" jawab Byan. Sementara Navisa, dia enggan untuk menjawab. Navisa terlalu kecewa akan sikap kedua orang tua Dita ini.

__ADS_1


***


"Kalian darimana saja?" tanya Anandita dengan senyum cerahnya. Byan dan Navisa saling tatap. Mereka berdua tersenyum, berlari ke arah Anandita dan memeluk Anandita erat.


"Jangan sembunyikan apapun lagi dari kami Dit. Kami sudah tahu semuanya," ujar Byan masih dengan pelukannya.


"Iya Dit, kamu punya kita. Kamu gak sendirian. Jangan memendamnya untuk seorang diri. Manfaatkanlah kita sesuka hatimu. Kita janji, kita akan berusaha untuk selalu ada untuk satu sama lain."


Dita tersenyum sembari mengangguk. Dia mengusap air mata yang mengalir dari sudut matanya. Mungkin selama ini Dita memang selalu sendiri. Sejak bertemu dengan Navisa dan Byanlah dia merasa jauh lebih baik.


"Terima kasih," ucap Anandita tulus.


Haris tersenyum. Melihat ketiga gadis itu begitu saling menyayangi, hatinya menghangat. Namun Dia tidak menyangka, jika gadis se ceria Dita ternyata seorang anak broken home yang kurang perhatian dan kasih sayang.


"Gadis yang tangguh," gumam Haris sembari terus memperhatikan Anandita.


***


"Dit, kamu gak bohong kan, Byan beneran di anter sama Haris?"


Brian mengangguk-anggukan kepalanya beberapa kali. Dia melihat arloji di pergelangan tangannya. Hatinya benar-benar gelisah. 5 menit, gadis itu sudah terlambat 5 menit.


"Aku akan ke bawah Dit. Aku akan menunggunya di loby!"


Tanpa berpikir panjang. Brian beranjak dari kursi kebenaran nya. Dito memejamkan mata sekilas merasa jengah dengan sikap Brian. Laki-laki ini terlalu bucin atau bagaimana. Baru telat 5 menit sudah resah seperti ini. Apalagi kalau telat 1 jam. Habislah dia.


Semua karyawan membungkuk melihat Brian berjalan melewati mereka. Brian tidak menghiraukan itu. Yang paling penting sekarang adalah Byan. Tidak ada Byan, maka semua orang tidak akan berbentuk ataupun berwujud di matanya.


"Kalau sampai terjadi sesuatu padanya, kau harus bertanggung jawab Dit!"


Dito memutar bola matanya. Kenapa harus dia yang bertanggung jawab. Salahkan lah Haris, kenapa dia tidak mengantar Byan sampai di depan mata Banteng Gila ini. Jika bukan bosnya, Dito pasti sudah akan memukul kepala Brian dengan sepatutnya.


"Kau bisu Dit?" sarkas Brian.

__ADS_1


"Akh, tidak Tuan, maafkan saya. Iya, saya akan bertanggungjawab kalau Nona kecil kenapa-napa."


Brian dan Dito sudah ada di lobi perusahaan. Kembali matanya berkeliling. Istrinya belum datang, sebenarnya dia ke mana. Dia melangkah lebih dekat ke arah dinding kaca di loby itu dengan harapan kalau Byan sudah ada di luar. Benar saja, gadis yang dia cari memang sudah ada di luar. Namun, siapa yang ada di depan gadis itu.


"Paman. Paman itu tidak boleh memperlakukan perempuan seperti itu. Tante Sisil itu manusia bukan hewan. Paman gak boleh kasar, berdosa!" Byan berdecak pinggang menatap tajam pria asing di depannya.


Sementara Sisil. Wanita itu berusaha untuk menghentikan Byan berbicara namun tidak bisa. Pria di depan mereka ini sangat berbahaya. Akan sangat buruk akibatnya jika sampai dia marah.


"Nona, sebaiknya kita ke dalam saja. Tuan pasti sudah menunggu mu!"


Sisil menarik lengan Byan, namun gadis itu langsung menepisnya.


"Tante, Tante itu gak boleh kayak gini. Membiarkan orang berbuat seenaknya kepada Tante itu salah. Paman ini jahat Tante."


"Cih, bocah ingusan. Kenapa kau ikut campur urusan kami hah? Seharusnya kau diam di rumah, menonton kartun dan turuti semua peraturan dari orang tuamu. Kenapa kau malah keluyuran seperti ini."


Nendra berbicara dengan nada mengejek. Namun, detik berikutnya seringai muncul pada wajahnya. Dia berjalan mendekati Byan, membuat Byan mundur satu langkah.


"Jika di lihat-lihat, kau sangat manis, cantik, dan sepertinya akan menyenangkan jika kita bermain bersama."


"Jangan sentuh dia!"


Sisil memblok Byan menggunakan tubuhnya. Nendra emosi, sejak tadi dua wanita ini membuat amarah nya naik ke ubun-ubun. Dia menarik tangan Sisil kasar, lalu menghempaskan wanita itu hingga dia tersungkur.


"Paman jahat. Paman jelek. Gak ada otak!" Byan menatap Nendra tajam.


Bukannya kesal, Nendra malah tersenyum, gadis itu terlihat sangat lucu di matanya. Dia semakin ingin menyentuh dan memilikinya. Membayangkan tubuh mungil itu ada dalam dekapannya membuat hasratnya membara.


"Kau mau bermain dengan ku kan? Ayo ikut Paman!" Nendra mengulurkan tangannya dengan senyum termanis yang dia miliki.


"Bajingan!"


To Be Continued.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentarnya Guys.... Selamat pagi dan selamat beraktifitas untuk semuanya. 😘😘😘


__ADS_2