Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Flashback


__ADS_3

Selamat pagi para reader setiaku yang baik hati. Semoga sehat selalu ya. Terima kasih karena sudah mengikuti cerita ini sampai sejauh ini. Semoga betah sampai akhir. Aamiin. Semangat terus untuk semuanya.


.


.


.


Beberapa tahun yang lalu. Di sebuah desa yang masih sangat asri. Sebuah mobil mewah terparkir di halaman sebuah rumah yang terlihat sederhana. Dua pria tampan duduk di depan dua wanita dan 1 pria. Lebih tepatnya, di depan Ambu, Abah dan Tania.


"Jadi, Aden-aden ini ke sini ada perlu apa ya? Neng Byan kan sedang sekolah di luar negri. Apa si eneng cantik itu sudah pulang?" Abah bertanya karena sudah tidak tahan. Hampir 30 menit Abah menunggu dua pria ini berbicara, namun tidak ada tanda-tanda jika mereka akan mengeluarkan suara.


"Apa?" Brian menoleh saat Dito menyenggol lengannya.


"Itu!" tunjuk Dito dengan dagunya.


Brian sedikit menghela napas, namun detik berikutnya dia mulai berbicara.


"Ekhemmmm. Jadi begini Abah, Ambu, Tiani."


"Tania Kak!"


"Oh iya, maaf. Maksud saya, Tania. Jadi Saya dan pria di samping saya ini ke sini sebenarnya ingin menanyakan sesuatu sama Tiani!"


"Tania Ujang Kasep!"


"Iya Tania maksud saya Abah. Dito, orang kepercayaan saya. Yang sudah saya anggap seperti keluarga saya sendiri ingin menanyakan apakah putri Abah, single?"


Abah dan Ambu saling tatap. Mereka melihat Brian bingung. "Putri Abah manusia Ujang Kasep. Bukan angel. Kalau angel kan itu yang suka di pake buat tidur."


Tania menepuk jidatnya sembari menggeleng. "Ya Allah Abah. Single itu lajang. Jomblo. Bukan angel(bantal). Abah ini ikh, bikin malu aja."


Tania mengerucutkan bibirnya merasa agak kesal dengan kekolotan orang tuanya.


"Yah Ari Eneng, da Abah mah gak tahu atuh. Kirain teh Angel yang buat tidur. Si Ujang Kasep bahasa nya aneh. Jadi Abah gak ngerti."


Dito menahan senyum melihat kelucuan keluarga ini. Bahkan Brian saja sedikit mengulas senyum. Meskipun hanya sedikit, itu artinya Abah cukup menghibur untuk Brian.


"Jadi gimana Abah?"

__ADS_1


Brian kembali bertanya.


"Tanya aja sama putri Abah. Abah sama Ambu kurang tahu. Soalnya neng Tania mah jarang curhat sama Abah sama Ambu. Kalau curhat pasti sama si Eneng geulis."


Brian mengangguk mengerti. Begitupun dengan Dito. Mereka berdua kini menatap Tania lekat. Menunggu jawaban pasti dari gadis itu.


"Aku masih jomblo. Kenapa emang Kak? Jangan bilang mau ngelamar Tania karena Byan lagi di Paris. Jangan gitu Kak Brian. Meskipun Kak Brian ganteng dan banyak duit. Tania gak suka sama Kakak. Tania juga sayang sama Byan. Tania gak mungkin jadi orang ke tiga di antara kalian."


Brian memutar bola matanya. Pria itu sangat ingin menyumpal mulut lemes Tania namun tidak bisa karena dia masih sangat normal. Yang dia cintai itu hanya Byan. Sampai kapanpun tidak akan pernah ada perempuan yang bisa menggantikan gadis itu di hatinya.


"Maaf Ti ...


"Tania!"


"Iya. Aku tidak menyukai mu. Dan aku juga tidak tertarik padamu. Aku hanya ingin mengantar Dito. Dia yang ingin melamar mu. Bukan aku."


Abah, Ambu, juga Tania refleks beralih menatap Dito. Laki-laki itu tersenyum sembari menundukkan kepala.


"Dit, ngomong dong. Kamu yang mau nikah kok aku yang repot."


Dito memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya. Lagi-lagi dia tersenyum. Bukan kepada Tania, melainkan kepada Abah dan Ambu. Dito belum bisa menatap Tania langsung karena dia sangat malu.


Wajah Tania bersemu merah. Baru kali ini dia mendapat ungkapan cinta di depan banyak orang seperti ini. Apalagi itu adalah kedua orang tuanya sendiri. Mungkin karena Dito sudah cukup matang, jadi dia lebih berani dari mantan-mantan Tania yang sebelumnya.


"Kalau Abah sih gimana Tania aja Den. Niat Aden baik. Abah sangat menghormati itu. Di jaman sekarang, sangat sulit mencari pria yang benar-benar serius. Kalau Tania mau, ya mangga. Silahkan. Abah tidak akan melarang. Abah dan Ambu akan merestui apapun keputusan kalian."


"Iya. Ambu juga seneng kalau Tania ada yang jaga. Kita ini sudah Tua. Jadi kalau Tania dapat jodoh yang bertanggung jawab, Ambu sama Abah bersyukur sekali untuk itu."


****


Setelah lebih dari satu jam mengobrol. Dito dan Brian memutuskan untuk segera pergi. Tujuan mereka ke sini memang untu melamar Tania, namun si samping itu, Bria juga ingin menemui kedua mertuanya karena mereka sudah lama tidak bertemu.


"Gimana Dit, deg-degan gak?"


Dito mengulas senyum mendapat pertanyaan seperti itu. Bukan hanya deg-degan, tapi Dito sepertinya hampir pipis di celana karena takut di tolak oleh Tania.


"Kamu itu harus bersyukur Dit. Nih ya. Karena jalan yang Allah kasih, pertama, aku nikah sama Byan. Habis itu kamu jadian juga sama si Tiani!"


"Tania Bos!"

__ADS_1


"Iya. Kamu tahu, si Rendy juga ke pincut sama temen Byan yang satunya lagi. Kalian jadi ikut-ikutan dapet daun muda. Bersyukurlah. Kita ini sangat beruntung karena memiliki mereka."


Dito mengangguk. Senyum nya semakin lebar apalagi saat dia mengingat bagaimana Tania menerima lamarannya.


"Sebentar lagi kamu akan ketemu sama pawang kamu Mikky."


Wajah Dito bersemu merah membayangkan pernikahannya dengan Tania. Gadis itu sangat cantik di mata Dito. Dan dia sudah menyukainya sejak mereka pertama kali bertemu.


Beberapa menit kemudian. Mobil Brian berhenti tepat di depan rumah kedua mertuanya. Mereka tidak langsung turun karena melihat sebuah keributan di depan mobil mereka.


"Gue udah bilang. Gue udah move on sama Kakak. Kakak balik aja ke Jakarta. Jangan ganggu Gue. Ayah sama Ibu juga udah sayang kok sama Gue. Gue udah gak butuh Kakak. Jadi pergi aja."


Bugh!


Dito dan Brian meringis ketika melihat Dita memukul kepala Haris menggunakan buku besar yang mereka yakini jika itu adalah buku materi kuliah yang Dita jalani saat ini.


"Mereka itu kayak tom and Jerry Dit. Jangan sampe Tania kayak si Dita. Dia bar-bar banget kayak emak-emak komplek."


Dito hanya tertawa mendengar celotehan Brian.


"Dit. Dita! Tunggu!" Haris mengejar Dita yang hendak kembali masuk ke dalam rumah. "Jangan usir aku kayak gini. Aku udah bilang, aku minta maaf. Dia itu bukan siapa-siapa nya aku. Dia hanya teman kerja aja."


"Bullshit. Gue gak percaya. Udah Kakak balik aja ke Jakarta. Ibu sama Ayah udah gak butuh Kakak."


Grepp!


Haris memeluk Dita dari belakang. Pada awalnya gadis itu meronta. Namun semakin lama dia semakin melemah dan menerima dekapan dari Haris.


"Maaf sayang. Aku berani bersumpah kalau aku gak ada hubungan apa-apa sama dia. Aku cuma cinta sama kamu aja. Serius. Aku gak bohong."


....


"Ayah lihat, kita udah kayak lagi nonton drama India. Mereka berani kayak gitu di depan kita. Sebaiknya kita Nikahkan saja mereka. Gak baik nambah dosa."


"Iya Bu. Tapi Ayah jadi inget pas awal-awal kita nikah dulu. Mereka itu persis kayak Ibu sama Ayah pas masih muda."


"Iya. Tapi Ibu gak bar-bar macam Anandita juga. Ibu itu lebih kalem. Lebih mirip Byan sih kalau ibu."


"Iya. Sampai kelemotan kalian pun mirip."

__ADS_1


To Be Continued.


__ADS_2