Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Maaf


__ADS_3

Brian berdiri di depan ruan VVIP di restoran itu bersama dengan Sisil juga beberapa klien yang tadi rapat bersamanya. Brian menjabat tangan orang-orang itu dan sedikit menyunggingkan senyum.


"Terima kasih atas dukungan yang Tuan berikan. Kami jamin kalau Tuan tidak akan menyesal bekerja sama dengan perusahaan kami."


Brian mengangguk mengerti. Setelah para kliennya pergi. Brian dan Sisil kembali berjalan hendak keluar dari restoran, namun Brian menghentikan langkahnya ketika dia melihat Byan sedang berpegangan tangan dengan seseorang, akh bukan berpegangan tangan, nyatanya, pria dewasa itu yang menggenggam tangan Byan.


Brian mengepalkan kedua tangannya sembari berjalan dengan tergesa. Matanya memerah dan memunculkan aura yang sangat menakutkan. "Breng sek kau Dito!"


Settttt!


Brian menarik tangan Byan lalu menghempaskan tangan laki-laki itu dari pergelangan tangan istrinya. Byan menatap laki-laki itu sengit, laki-laki yang di tatap mendadak menciut.


"Maaf Pak, sepertinya Anda salah paham. Saya hanya ingin menyerahkan ponsel milik Nona ini!"


Laki-laki itu menyerahkan ponsel ke hadapan Byan. Brian mengambil ponsel itu dengan kasar. Pria yang tadi membungkuk lalu pergi.


"Syukurlah aku tidak menggangu gadis itu, kalau sampai aku mengganggunya, habislah aku. Kenapa pria tadi sangat menyeramkan. Wajahnya tidak seperti wajah manusia, malah seperti vampir yang ada di film-film."


Laki-laki itu tidak menoleh ke belakang. Langkahnya semakin cepat karena takut Brian akan mengejarnya.


"Kenapa kamu di sini Byan? Aku sudah menyuruh Dito untuk mengantar mu pulang!"


Byan menunjukan wajah sendu. Dia menatap suaminya dengan bibir yang mengerucut. "Byan kangen sama Om Brian, mangkanya Byan gaj langsung pulang, hiksssss, kenapa Om malah marah sama Byan?" Byan menunduk dengan mata yang berkaca-kaca. Sisil yang melihat itu hampir saja muntah. Byan ini memang masih anak-anak. Namun sikapnya itu masih seperti seorang balita.


"Tuan Muda!" Dito datang dengan napas yang tersengal-sengal. Dia melihat keributan yang terjadi dari jauh. Hatinya sudah dag-dig-dug tak karuan. Dito takut Byan kenapa-napa dan dia juga takut Brian marah padanya.

__ADS_1


Brian menatap Dito sengit. "Kamu ini gak becus kerja atau gimana Dito? Kenapa kamu ninggalin Byan sendirian?"


Dito membungkuk dalam di hadapan Brian. "Maaf Tuan, tadi saya sedikit terdesak, maafkan saya."


"Cih, gak guna kamu itu. Berikan kunci mobil!"


Dito mengambil kunci mobil dari saku jasnya lalu meyerahkan kunci itu kepada Brian. Sisil termangu, dia menarik ujung jas yang Brian kenakan lalu menatap wajah laki-laki itu dengan ekspresi yang sendu.


"Tuan sudah ada janji mau makan malam dengan saya!" Sisil berucap tanpa tahu rasa malu sedikitpun.


Brian mendengus. Dia menepis tangan Sisil lalu menarik tangan Byan. "Acara makan malam batal. Aku sedang tidak mood."


Sisil melongo. Dia mengeram. Kakinya dia hentakkan ke lantai beberapa kali. "Ikh, sialan, bocah ingusan itu sudah mencuri start dariku."


Sisil mendengus, dia menatap Dito tajam lalu keluar dari restoran.


"Sepertinya aku harus menutup mulut mereka," ucap Dito memperhatikan semua orang yang tadi sempat memotret juga memvideokan Brian dan istrinya.


****


"Byan!"


"Boncel!"


Brian menghembuskan napas kasar ketika istrinya tidak bergeming dan hanya diam sembari menunduk di jok mobil di samping kemudi. Brian mencondongkan badannya hendak memakaikan sit belt untuk Byan. Dia diam untuk sesaat dan tidak jadi memakaikan sit belt itu. Tangan Byan bergetar, apakah dia masih terkejut dan ketakutan.

__ADS_1


Brian menggeser tubuhnya lalu menarik bahu Byan dan sedikit mengangkat dagu gadis itu. Tangan besarnya membelai wajah cantik nan mungil milik sang istri lalu mengecup bibir istrinya sekilas.


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk membentak mu. Aku hanya khawatir kalau kau kenapa-napa. Kenapa tadi tidak langsung pulang aja, kita kan masih bisa bertemu di rumah."


Byan terkejut mendengar permintaan maaf suaminya. Seingat Byan, laki-laki ini adalah laki-laki yang pantang mengucapkan kata maaf, namun Byan baru sja mendengar Brian mengucapkan kata itu. Apakah Byan tidak salah dengar. Byan menatap mata suaminya berkaca-kaca. Dia langsung menghambur memeluk leher Brian lalu menangis menumpahkan air mata yang sudah sejak tadi dia tahan.


"Hikssss. Byan sudah bilang kalau Byan kangen Om, Byan gak bisa nunggu di rumah karena Om pasti akan pulang malam. Byan sedih bukan karena Om bentak Byan, Byan hanya takut sama Om-om yang tadi."


Brian mengusap kepala juga punggung istrinya lembut. Dia tidak tahu kalau ternyata kejadian satu bulan yang lalu masih berbekas di dalam ingatan gadis ini. "Sudah jangan menangis. Sekarang orang itu sudah tidak ada. Hanya ada aku di sini. Lain kali kalau aku lagi rapat, kamu masuk aja ke ruang rapat. Jangan sampai kejadian seperti ini terulang kembali."


Byan mengangguk mantap. Dia janji, dia tidak akan berbuat hal bodoh lagi.


****


Sisil mondar mandir di rumah kost dia sembari mengetuk-ngetukkan jarinya di atas bibir. Dia sedang bingung dan sedang memikirkan cara untuk membuat Byan Pergi dari sisi Brian. Kalau seperti ini terus, Sisil bisa kehilangan sumber keuangannya. Lalu bagaimana di bisa membayar semua hutangnya pada kreditur dan rentenir.


"Apa yang harus aku lakukan? Byan itu masih bocah, tapi aku tahu dia tidak selugu penampilannya. Bocah itu sangat cerdik dan mampu membuat berbagai alasan untuk membuat Brian tetap ada di sisinya."


Tok! Tok! Tok!


Sisil menoleh, dia berjalan menuju pintu, lalu mengintip orang yang datang dari balik tirai.


"Sayang!"


To Be Continued.

__ADS_1


__ADS_2