Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Accident


__ADS_3

"Mau ke mana By?" tanya Aldi melihat Byan sudah rapi dengan penampilannya. Gadis itu sedikit memoles wajahnya. Cantik, dan lebih berseri. Terlihat lebih bercahaya dan lebih segar. Sebenarnya hal baik apa yang terjadi belakangan ini sampai Byan dan Brian selalu terlihat bahagia di setiap kesempatan.



"Byan mau pergi sama Anandita dan Navisa. Kita udah hampir 3 hari gak ketemu."


"Ini udah hampir sore By, lagian Kak Brian kan masih di kantor."


"Byan udah izin sama Om Brian. Katanya Byan boleh pergi. Nanti Tante sama Om yang jagain Byan juga ikut kok. Tapi Byan nyuruh mereka ngawasin Byan dari jauh aja. Malu dong Byan Kak. Masa udah gede masih di awasi kek anak bayi."


Bima mengangguk mendengar penjelasan dari Byan. Mereka tidak bisa mencegahnya jika memang Byan sudah meminta izin kepada suaminya. Ada bodyguard yang akan menjaga gadis ini. Tidak ada yang harus mereka khawatirkan bukan.


"Ya sudah, kamu pergi lah sekarang, sepertinya Dita sudah di luar. Jangan pulang terlalu malam. Nanti Kak Brian marah. Ibu juga lagi pergi, gak usah nyari Ibu untuk pamit!"


Aldi berbicara namun matanya masih fokus pada layar ponsel. Dia sedang bermain game bersama dengan Bima saat ini. Kedua orang itu menjawab salam dari Byan ketika gadis itu sudah pergi.


"Hai!" Navisa memekik lalu memeluk Byan. Anandita membukakan pintu mobil untuk sang tuan Putri.


"Makin cakep aja Lo Beib, udah di suntik vitamin ya?"


Navisa melotot, sementara Byan terlihat acuh dan langsung masuk ke mobil.


"Apa sih?" Dita bergumam saat Navisa menyenggol lengannya.


"Jangan ngabrut Dit, kita kan gak tahu Byan udah di makan sama Om Brian apa belum."


"Ya itu dia, tugas kita sekarang adalah mencari tahu Maemunah. Udah sekarang kita masuk aja. Udah sore, nongkrong di cafe yang pinggir jalan itu aja ya! Kan kemaren udah di kasih duit sama pawangnya si anak kelinci!"


"Terserah kamu aja Dit!"


****


Sesampainya di cafe. Mereka bertiga terlihat sangat menikmati makanan yang mereka pesan. Sesekali mereka tertawa, semoga hal baik ini selalu terjadi. Byan sangat bahagia memiliki Anandita dan Navisa. Tiba-tiba saja, dia teringat teman lamanya Tania, apa dia baik-baik saja. Mereka sudah jarang komunikasi karena Tania marah dengan kepergian Byan yang tiba-tiba.


"By, kita mau nanya sesuatu sama Lo boleh gak?"


Byan mengangguk dengan wajah polosnya. Anandita tersenyum dengan senyuman yang luar biasa cerah.


"Jadi, Lo udah wik-wik belum sama sugar Daddy Lo itu?"

__ADS_1


Byan menatap Anandita dengan kening yang berkerut. Sementara Navisa, dia menepuk jidatnya merasa dongkol mendengar pertanyaan absrud Anandita.


"Wik-wik apaan?"


Anandita mendesah. Seharusnya dia menanyakannya dengan lugas kan. Temannya ini memang pintar dalam pelajaran sekolah, namun jika sudah menyangkut masalah kayak gini, otaknya mendadak lengser ke dengkul.


"Maksud gue!" Anandita berbisik di telinga Byan.


Byan mengangguk dengan wajah yang memerah padam. Dia menunduk sambil mengaduk minuman di dalam gelas. Sebenarnya ini agak memalukan, namun dia tidak mungkin menyembunyikan ini dari si keong racun.


"Asli? Lo gak bercanda kan? Gimana rasanya By, enak gak? Kata orang-orang enak lho, sakit gak? Punya Om Brian Segede apa? Kok Lo gak takut? Burung suami Lo kecil ya?"


Byan melotot ke arah Anandita, sekarang dia sudah mengerti maksud dari kata burung. Jika saja Nandita tahu segagah dan sekuat apa si Beto, Anandita pasti akan ternganga. Yakin banget Byan kalau Anandita tidak akan berani menghina burung milik suaminya.


"Aduh Dit, jangan ngaco kamu. Kalau kamu mau tahu rasanya cepet nikah sana! Jangan mengotori pikiran Byan. Jangan di jawab By, kalau kamu jawab, dia akan terus berbicara tanpa mau berhenti."


Byan mengangguk. Dia kembali menyantap camilan nya sembari membalas pesan-pesan yang suaminya kirim. Sudut bibirnya tertarik ke atas, melihat bagaimana perhatian nya Brian padanya.


"Halo!"


"Eum, kenapa?"


"Gak papa. Byan cuma kangen aja sama Om. Om masih kerja?"


"Eumh, Byan sudah makan Om. Om sudah makan kan! Byan tutup dulu teleponnya. Dadah Om, semangat!"


"By kamu melupakan sesuatu!"


"Apa?"


"Playing kiss!"


Brian tertawa dengan wajah memerah ketika Byan memberikannya kecupan jarak jauh. Dia benar-benar terlihat seperti ABG yang sedang jatuh cinta. Dito sampai membulatkan matanya melihat kelakuan sang bos. Sementara Brian, orang itu terlihat sangat cuek seolah-olah tidak ada siapapun di sana.


"Tuan, ini ada tambahan sedikit dokumen." Dito menyerahkan dokumen itu pada Brian.


Brian menautkan alisnya. Dia melihat dokumen-dokumen itu, lalu melihat wajah Dito. "Kau bilang ini sedikit Dit? Jangan becanda kamu, saya harus menjemput Byan, apa ini tidak bisa kita kerjakan besok saja?"


Dito menggelengkan kepalanya. "Tidak bisa Tuan, ini akhir bulan, banyak sekali yang harus di tanda tangani. Kalau dokumen ini berhenti di sini, maka pekerjaan semua orang akan terhambat." Dito membungkuk untuk meminta maaf. Ini adalah perusahaan milik keluarga Brian, namun kenapa agaknya dia lebih mementingkan perusahaan ketimbang yang punya.

__ADS_1


"Akh sudahlah, kau bisa keluar Dit. Aku akan menyelesaikan ini secepatnya."


"Baik Tuan. Terima kasih."


"Eum."


Di sisi lain. Byan, Anandita dan Navisa terlihat sedang berjalan-jalan di trotoar. Mereka sedang menikmati indahnya suasana malam itu. Banyak orang berlalu lalang menikmati waktu senggang mereka dengan berjalan-jalan di dekat taman.


"Apakah kalian akan melanjutkan kuliah di sini?" Brian bertanya sembari memutar-mutar ponselnya.


"Kita masih belum tahu By, masih nyari kampus yang sesuai, dengan biaya yang tidak terlalu mahal. Kau tahu sendiri lah, kita itu gak sekaya suami kamu. Jadi kita gak bisa sembarangan milih kampus gitu aja."


Byan mengangguk mengerti. Dia juga sebenarnya belum memastikan ingin kuliah di mana, dan mau kuliah jurusan apa. Byan masih ingin bersantai untuk sementara waktu ini.


"Ekh!"


Byan turun dari trotoar saat ponselnya jatuh ke jalanan. Gadis itu seolah-olah lupa kalau di sana banyak kendaraan yang berlalu lalang.


Baru akan berbicara kembali, Navisa dan Anandita langsung terbelalak melihat sebuah mobil yang melaju ke arah Byan.


"Byan!!!!!!!!!"


Kedua orang itu berteriak bersamaan.


"Brakkkkk!"


"Brukkkkk!"


Semua orang mendadak riuh, mereka semua berkerumun mengelilingi ketiga gadis yang sama-sama terkapar di atas aspal.


"Panggil ambulans!"


"Cepat tolong mereka."


"Ya ampun, bagiamana mungkin ini terjadi?"


To Be Continued.


Yuhhhuuuuuu ....

__ADS_1


Apa yang terjadi Bestie!


Harap menunggu. Jangan lupa like dan komentarnya. Author mau semedi dulu ya! See you!🤗


__ADS_2