Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Banteng Gila


__ADS_3

"Apa kau bilang? Jangan bercanda dengan ku? Berikan ponsel itu kepada pemiliknya!" Brian berteriak dengan suara yang menggelegar.


"Maaf Pak. Tapi kondisi di sini benar-benar sangat kacau. Apa Bapak tidak mendengar keributan? Bapak pikir saya akan berbohong untuk masalah seperti ini?"


Dito yang berada di balik kemudi terkejut saat mendengar teriakan Brian dengan mata yang memerah. Pikirannya melayang ke mana-mana. Apakah Brian kembali seperti dulu, tapi bisakah dia berubah secepat itu. Aura di wajahnya sangat menyeramkan. Apalagi jika mendengar suara bas nya ketika sedang marah. Sebenarnya apa yang terjadi. Bukankah tadi Brian masih baik-baik saja. Dia masih tersenyum seperti orang bodoh ketika mereka baru menaiki mobil.


"Ngebut atau aku penggal kepala mu Dit!"


Dito menelan saliva susah payah. "Baik Tuan Muda," jawab Dito dengan suara yang sedikit bergetar.


"Astaghfirullah, banteng gila ini. Sepertinya terjadi sesuatu dengan Nona kecil. Kalau tidak, mana mungkin Tuan bisa berubah dalam hitungan detik. Dan lagi, Tuan tidak menyuruhku untuk mengganti rute. Semoga kau baik-baik saja Nona. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada Banteng bucin ini jika Nona sampai kenapa-napa."


Brian terus bergerak dengan gelisah. Laki-laki itu memutar ponselnya, mencoba untuk lebih tenang. Namun bukannya lebih tenang, dia malah semakin gugup. Brian kembali melakukan panggilan. Kali ini, dia memanggil Aldi dan meminta Aldi untuk menemui Byan di lokasi terakhir gadis itu berada. Brian hanya berharap, jika dia telat sampai di sana, akan ada orang lain yang memperhatikan istrinya.


"Jika kita terlambat, yakinlah, kau dan para bodyguard tolol itu akan mendapatkan apa yang harus kalian dapatkan. Lagipula dari mana kau mendapatkan orang-orang tidak becus seperti mereka Dito. Mereka ini mau makan gaji buta atau bagaimana? Sudah bosan hidup? Mau aku gantung di Monas agar mereka tahu jika aku tidak pernah main-main. Menjaga seorang gadis saja tidak becus. Dasar tidak berguna!"


Tangan Dito bergetar, dia sudah berkeringat dingin. Kenapa juga Brian harus marah-marah di dalam mobil. Bagaimana kalau Dito hilang kendali dan mereka bisa saja terperosok ke selokan.


"Nona, kau harus baik-baik saja. Jika tidak, aku yakin, Tuan Brian akan lebih gila dari sebelumnya."


Sesampainya di lokasi kejadian, Brian langsung turun dan berlari meskipun lututnya lemas, jantungnya berdebar seperti jantung orang yang telah berlari maraton 10km.


"Kau harus baik-baik saja By. Aku tidak akan memaafkan diriku jika kau sampai kenapa-napa."


Brian melihat kerumunan orang di depan sana. Tanpa menghiraukan apapun, Brian langsung menyeruduk semua orang yang mengerumuni dua ambulance. Dia menghentikan langkahnya tat kala mata elang itu melihat seorang gadis sedang menangis meraung-raung sembari memegang sandal di kedua tangannya.


"By!" ucap Brian lembut.


Orang yang di panggil berbalik. Byan menatap Brian sendu. "Om Brian!" gumamnya dengan suara yang bergetar. Brian langsung menangkap gadis itu saat Byan berlari ke arahnya.


"Apa kau baik-baik saja? Ada yang terluka tidak?" Brian bertanya hendak menelisik tubuh istrinya.


"Hikssss, Dita Om, Dita, tolong Dita Om, Byan gak mau Dita meninggal, Dita seperti ini karena tadi dia ingin menolong Byan. Om harus bantu Dita, jangan biarkan Dita mati."


Brian mengangguk. Dia mendekap Byan semakin erat. Syukurlah gadis ini tidak apa-apa. Brian hampir di buat jantungan saat dia menelpon Byan dan malah orang lain yang mengangkatnya. Brian pikir, yang terluka adalah Byan Anandita. Namun ternya itu adalah Anandita sahabat dari istrinya. Nama mereka memang memiliki kesamaan. Hanya saja, Anandita memakai nama itu untuk nama depannya. Sedangkan Byan menggunakan Anandita untuk nama tengahnya.

__ADS_1


"Om jawab Byan. Kita harus segera menolong Dita. Byan gak mau Dita mati."


"Nona. Teman Nona tidak akan mati. Dia hanya keseleo."


"Hikssss, paman jangan bohong, kalau hanya keseleo, kenapa dia pingsan?"


"Mungkin dia sangat terkejut!" jawab petugas medis seadanya.


Huuuaaaa ... tangisan Byan malah semakin kencang. Navisa mendekati Byan, dia menepuk punggung sahabatnya lembut. "Kenapa malah semakin menjadi, kamu gak seneng Dita gak jadi mati?"


Byan langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak, bukan begitu. Hikssss. Byan- Byan- hanya ..."


"Sudah, jangan di teruskan!"


Brian menelusup kan tangannya di antara lutut dan punggung gadis itu. Langkah besarnya membawa mereka ke sebuah kursi taman dan di ikuti oleh Navisa dari belakang.


"Wah, gadis itu sangat beruntung ya, dia suaminya atau kakaknya. Tapi kalau Kakaknya, masa sebegitu perhatiannya. Mana tampan banget. Gagah, keren lagi. Penampilan yang sangat sempurna untuk di jadikan sosok suami!"


Orang yang berkerumun itu tidak sadar. Jika Brian adalah sejenis orang yang sering berlalu lalang di majalah bisnis dan majalah fashion. Mungkin karena situasi saat itu sangat kacau, jadi mereka tidak terlalu memperhatikan dengan baik.


Brian mendudukkan Byan dengan hati-hati. Dia melepaskan jas yang dia kenakan untuk menyelimuti tubuh istrinya.


Aldi dan Bima langsung berlari ketika dia melihat Brian dan Byan dari mobil. Mereka datang dengan napas yang terengah-engah. Brian tiba-tiba menelpon Aldi dan Bima sembari menyampaikan kabar jika Byan kecelakaan. Mereka berdua mendadak gila, Bima membawa mobil seperti pembalap F1 saking kalut dan takutnya dia mendengar kabar ambigu dari Aldi.


"Kenapa? Apa Byan gak papa?" tanya Bima masih dengan wajah khawatir dan terkejut.


"Heum, aku rasa dia hanya terguncang!" jawab Brian. Laki-laki itu masih setia memeluk istrinya.


"Tuan! Ini sandal Nona kecil!" Bodyguard wanita membungkuk seraya menyodorkan sepasang sandal kepada Brian.


"Biar aku saja!" ucap Aldi mengambil alih. Dia berjongkok lalu mengusap telapak. Kaki Byan penuh kehati-hatian. Byan sudah seperti barang antik yang tidak mungkin bisa di temukan lagi di manapun.


Navisa tersenyum melihat pemandangan itu. Dia agak sedikit iri namun dia juga merasa sangat bahagia melihat orang-orang ini begitu menyayangi dan memperhatikan Byan. Apalagi melihat sikap Brian yang seperti dewa pelindung. Tubuh besarnya masih memeluk Byan dan berusaha menenangkan gadis yang kini masih sesenggukan meskipun tangisannya sudah menghilang.


"Kak, ini!" Bima menyodorkan air mineral pada Brian agar laki-laki itu bisa memberikannya pada Byan. Lagi-lagi Navisa di buat kagum dengan kekompakan 3 bersaudara ini. Mereka seperti 3 orang malaikat yang berugas menjaga Byan dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


"Ini untukmu!" Bima menyodorkan air lain pada Navisa.


"Terima kasih!" Bima hanya mengangguk.


"Dito, kamu ke rumah sakit, urus keperluan bodyguard dan keperluan Dita. Aku tidak mengerti, kenapa mereka bisa kecolongan seperti ini."


"Baik Tuan Muda."


"Kalian, antar dia pulang!" Brian menunjuk Navisa dengan dagunya.


"Ekh, saya belum mau pulang Om, saya ingin menemui Dita dulu."


"Byan juga ingin menemui Dita Om Brian, Byan gak mau pulang sebelum Byan ketemu Dita!"


Brian menunduk. Dia menatap mata Byan untuk sesaat, lalu mengecup kening istrinya sekilas.


"Kita pergi sekarang!"


Brian berucap sembari memangku Byan untuk masuk ke mobil Bima.


Navisa merasa kurang nyaman duduk di sebelah Brian. Tapi orang itu malah terlihat cuek dan terkesan tidak memperdulikan sekitar. Tangan kekarnya masih memeluk tubuh Byan, dia juga sesekali menciumi pucuk kepala anak kelinci Dita dan Navisa yang ada di pangkuannya.


Navisa hanya tidak tahu, jika Brian sedang bersyukur karena Byan baik-baik saja. Sampai sekarang pun jantungnya masihh berdegup tidak normal.


"Sa, Lo mingkem aja. Gak mau menjelaskan apa yang terjadi hah?"


Aldi menodong Navisa dengan ucapannya tat kala dia melihat Navisa hanya duduk terbengong seperti orang bodoh.


"Jangan marahin Navisa Aldi!" Byan memukul kepala Aldi dengan kepalan tangannya.


Brian tersenyum. Gelagat Byan menunjukkan jika dia baik-baik saja.


"Dasar anak ayam, maen pukul aja. Kamu pikir kepala aku ini gong hah?"


To Be Continued.

__ADS_1


Apapun dan di manapun. Kedua orang ini gawenya ribut bae.


Jangan lupa like dan komentar nya ya. Aku ngetik ini 2 kali lho. Karena yang pertama gak ke save. 😭😭😭 Tolong semangati aku Guys.


__ADS_2