
Malam hari, di keluarga Nugroho, semua orang sedang sibuk menyantap makan malam, memang belum terlalu malah sih, bisa di bilang ini masih sore karena jam baru menunjukkan pukul 18: 30.
"By, jangan terlalu banyak, nanti kamu kekenyangan!" Brian mengambil potongan ayam pop ke tiga yang hendak istrinya makan.
Selera makan Byan memang sedang bagus-bagusnya, jadi Brian lah yang harus lebih waspada agar istri cantiknya tidak kalap. Walau bagaimanapun, Brian tahu, keinginan seperti ini sangat sulit dikendalikan, terlebih, Brian juga sempat mengalami yang namanya ngidam.
"Jangan merengut By, kalau kamu terlalu banyak makan, nanti kamu jadi kayak ba*i!"
Byan memincingkan matanya menatap Aldi tajam, beberapa hari yang lalu dia di sebut mirip kecebong, sekarang dia di sebut mirip ba*i, mulut Aldi ini memang tidak ada saringannya.
"Om!" rengek Byan menatap sang suami dengan wajah memelas.
Laki-laki itu tersenyum, "mulai besok datang ke kantor jam 7 pagi Al!"
"What? Kok gitu sih, Aldi kan gak ada bikin salah apa-apa!"
Byan kembali menoleh ke arah Aldi, menjulurkan lidahnya, dengan senyum merekah. Mampus lha anak itu, padahal dia yang paling sulit di bangunkan, namun sekarang malah dia yang harus berangkat paling pagi.
"Ishhhh nyebelin!"
"Biarin. Wleeee 😝."
"Tuan, Nyonya!"
Nugroho dan Anjani yang sedang tersenyum melihat tingkah anak-anak mereka langsung menoleh ke arah Mbok Jum.
"Kenapa Mbok?" tanya Anjani.
"Itu Nyonya, di luar ada tamu yang mencari Den Bima!"
Semua orang menatap ke arah Bima, sejak kapan orang itu memiliki teman, mereka sepertinya belum pernah melihat Bima membawa teman-temannya ke rumah.
"Katanya mau membicarakan maslah pernikahan."
Byurrrrrrr!
Bima menyemburkan air yang ada di dalam mulutnya, Aldi mendengus, dia melempari Bima dengan buah-buahan yang ada di dekatnya.
"Kalian itu emang hobi nganiyaya Gue!" ucap Aldi kesal karena mendapat semburan tiba-tiba dari Bima.
"Maaf," gumam Bima merasa bersalah.
__ADS_1
"Siapa sih yang datang Mbok, suruh masuk aja! Tunggu di ruang tamu, nanti kita semua ke sana."
5 menit kemudian, mereka semua pergi ke ruang tamu karena penasaran. Namun tidak dengan Bima, dia sudah memiliki feeling yang kuat kalau yang datang itu adalah Adelle, tidak ada lagi wanita yang berani dan nekad sepertinya. Bima saja tidak berani datang ke rumah Adelle, tapi kenapa dia sepertinya tidak memperdulikan rasa malunya.
"Assalamualaikum!"
Anjani terlihat sangat senang ketika melihat siapa yang datang, benar saja. Ternyata itu adalah Adelle dan juga kedua orang tuanya.
"Wa'alaikumsalam jeng, udah lama ya kita gak ketemu, ucap seorang wanita yang seusia dengan Anjani, April, wanita yang sudah hampir tua ini adalah teman SMA Anjani. Sampai sekarang, mereka masih sering berkomunikasi.
"Duduklah Jeng, aku pikir siapa."
"Apa kabar Pak Naruto!" sapa Nugroho kepada suami April.
Pak Naruto tersenyum, menjabat tangan Nugroho, dan menariknya agak kencang.
"Wow, masih kuat ternyata!" ucap Nugroho membuat Naruto terkekeh. "Duduklah!"
Mereka semua pada akhirnya duduk bersama, mulai berbincang, menceritakan masa lalu, sampai pada akhirnya Adelle membuka suara karena bosan mendengar ocehan orang tuanya.
"Pih, jangan lupain niat utama kita deh. Kalo udah ngobrol itu suka lupa waktu. Kebiasaan."
"Biarin, yang penting nikah!" bisik wanita kepada ayahnya.
"Ekhemm, jadi tujuan kita datang ke sini sebenarnya adalah untuk melamar Nak Bima Pak Nugroho, anak saya Adelle kesengsem sampai gak bisa tidur katanya, padahal dulu sama Nak Brian gak kayak gini."
Anjani mengangguk, begitupun dengan Nugroho, mereka sudah menantikan ini sejak lama, terlebih, dulu Anjani dan April memang berencana untuk menjodohkan Brian dan Adelle, namun karena Brian yang tidak bisa di ajak kompromi, pada akhirnya mereka menyerah.
Jika Anjani dan Nugroho sangat senang, lain dengan Bima, laki-laki itu melirik Adelle dengan sudut matanya, Adelle tersenyum dan mengedipkan matanya membuat Bima semakin merinding.
"Astaga, aku benar-benar akan menikahi wanita ini!" Gumam Bima dalam hati.
"Sshhhh!" Brian mendesis tat kala tangan mungil istrinya mencubit kecil kulit perutnya yang ada di balik kaos yang dia kenakan. Brian menoleh, Byan tersenyum dengan senyum yang di paksakan.
Alis Brian tertaut, istrinya ini sedang kesal bukan, tapi kenapa? Bukankah dia tidak melakukan kesalahan.
"Astaga!" Sepasang mata itu membulat, jika Brian tidak salah, tadi Naruto sempat membahas masalah perjodohan Adelle dan Brian, namun sebenarnya itu tidak berarti apapun karena mereka memang tidak memiliki ketertarikan satu sama lain.
"Habislah kau Brian!" gumamnya pada dirinya sendiri.
"Saya dengar Nak Bima sudah setuju, dua Minggu lagi kita akan melakukan akad pernikahan juga resepsi!"
__ADS_1
"What!"
Semua orang memekik tat kala mendengar penuturan April yang mereka rasa terlalu buru-buru. Namun, mereka juga merasa sangat senang. Adelle ini adalah pasangan yang cocok untuk Adelle.
...----------------...
"Baby!"
"Sayang!"
"Istrinya Om yang paling cantik!"
Brian terus saja membujuk sang istri yang sedang merajuk itu, dugaannya benar-benar terjadi. Byan langsung menekuk wajahnya ketika mereka kembali ke kamar. Bahkan mulut istrinya yang cerewet itu mendadak bungkam seribu bahasa, auranya dingin hingga mampu membuat apapun yang ada di dekatnya membeku.
"Mommy nya Baby twin's, jangan marah seperti ini sayang, aku tahu aku salah, tapi aku benar-benar tidak ingat sama sekali kalau dulu aku dan Adelle pernah di jodohkan, aku berani bersumpah kalau aku tidak pernah menyukainya."
Byan yang sedang mematut dirinya di depan cermin, menatap suaminya tajam. Meskipun Brian hanya melihat tatapan Byan dari pantulan kaca yang ada di meja rias,namun aura kemarahan dalam mata istrinya benar-benar membuat Brian bergidik ngeri.
"Aku berani bersumpah."
Byan mendengus, menghembuskan napas kasar, kini wajah yang sebelumnya penuh kemarahan malah menunduk dengan raut wajah sedih yang tidak bisa Brian mengerti, apa orang normal bisa merubah moodnya secepat ini? Mood orang hamil memang tidak main-main.
"Ada apa Baby? Kau tidak percaya padaku hmm?"
Byan menggelengkan kepalanya. "Bukan seperti itu, tapi lihatlah Byan sekarang, Byan udah kayak kecebong hamil, sedangkan Adelle, dia terlihat sangat cantik, tubuhnya tinggi dan sangat ramping."
Brian tersenyum, dia mengerti akan kegelisahan istrinya. Kedua tangannya menyentuh bahu Byan, meminta Byan untuk memutar tubuhnya, Brian berlutut di depan sang istri, kedua tangannya menarik tangan Byan, mengusapnya lembut dengan tatapan yang tak kalah lembut dari sentuhan tangannya.
"Dengarkan aku Baby, kau akan tetap jadi yang tercantik di mata ku, mungkin tubuhmu memang lebih berisi sekarang, tapi aku suka, bukankah jika begini kau lebih enak untuk di peluk?"
Byan menggeleng lalu mengangguk. Tingkah Byan yang seperti ini membuat Brian merasa sangat bahagia. Byan sangat cemburu tentang apapun yang menyangkut wanita lain, itu artinya dia sangat mencintai Brian kan.
"Aku mencintaimu Baby, baik sekarang, ataupun nanti, aku hanya akan mencintai ibu dari anak-anakku!"
Brian mengecup perut buncit sang istri lalu berdiri dan beralih mengecup bibir istrinya.
"Terima kasih Om, terima kasih karena kau selalu menanggapi sikap kekanakan ku dengan tenang." _Byan.
"Cemburu mu adalah semangat untuk ku Baby. Aku mencintaimu."_Brian.
To Be Continued.
__ADS_1