
Brian mendekati ranjang lalu menyingkirkan Aldi dan Bima. Dia duduk di tepian ranjang memperhatikan wajah pucat istrinya. Tangan Brian terulur menyentuh kening Bian. Memang agak hangat namun tidak terlalu bagaimana.
"Kamu sakit? Apa yang sakit?"
Bukannya menjawab, Bian malah tersenyum. Kecut. "Om menemui Tante itu lagi kan Om? Bagaimana? Apakah Om bahagia berpacaran dengan wanita lain namun meninggalkan istri Om di saat dia membutuhkan perhatian? Kenapa Om pulang? Om gak nginep lagi? Sekalian aja bawa semua baju Om, pindah aja ke sana. Kenapa harus pulang lagi ke sini?"
"Apa yang kamu katakan Bian, kenapa kamu marah-marah gak jelas kayak gini?"
Bian tersenyum menyeringai. Dia langsung bangun terduduk meskipun dengan susah payah. Tangan mungilnya menarik kerah baju yang Brian kenakan. "Marah tidak jelas? Tidak jelas bagaimana? Mana yang tidak jelas, apa kalian tidak mencium itu?" Bian melirik Aldi dan Bima. Dia mendorong tubuh Brian agar menjauh dari tubuhnya.
Aldi dan Bima refleks mendekati tubuh Brian. Mereka menunduk lalu mengendus baju yang Brian kenakan. Ketika Aldi dan Bima mengangguk, Bian kembali menatap mata suaminya. "Om pikir selama ini Bian tidak tahu kalau Tante itu selalu menempeli tubuh Om seperti seekor cicak? Bau parfum Tante Sisil ini sangat busuk. Persis seperti kelakuan kalian berdua."
Brian diam. Dia tidak bisa mengucapkan apapun. Aldi dan Bima juga bergeming. Mereka seperti terhipnotis. Baru kali ini Aldi dan Bima melihat Bian marah sampai bola matanya memerah.
"Sekarang keluar dari sini!" Bian menunjuk ke arah pintu. Brian ingin menyela, namun dia langsung terperanjat ketika Bian kembali berteriak.
"Keluar! Aku bilang keluar!" Urat-urat di leher Bian kian menegang. Gadis itu benar-benar sedang ada di puncak emosinya. Brian yang tidak biasa melihat kemarahan Bian langsung berdiri dan keluar dari kamar itu.
__ADS_1
"Ngapain kalian di sini? Keluar! Keluar atau aku tendang pantat kalian!"
Aldi dan Bima saling senggol. Mereka buru-buru keluar lalu menutup pintu perlahan. Sangat pelan karena takut menganggu Bian dan membuat emosinya semakin menjadi.
Bian menarik kedua lututnya. Dia tertunduk sembari memeluk kedua kakinya. Gadis itu terisak, semakin dia terisak, perutnya terasa semakin sakit. Bian memegang perut bagian bawahnya. Hatinya benar-benar sangat hancur. Kenapa mencintai sesulit ini. Apakah suaminya benar-benar tidak akan berubah, kenapa rasanya sangat sulit membuat Brian meninggalkan Sisil. Sakit, sesak, itulah yang Bian rasakan saat ini. Bukan cuma perutnya, namun hatinya juga sangat terluka. Semua usahanya terasa sia-sia.
Tangisan pilu yang masih bisa di dengar oleh ketiga pria di balik pintu kamar membuat ketiga pria itu tertunduk sedih. Bima yang hanya mendengar tangisannya saja ikut merasa sakit, apalagi Bian yang mengalami ini. Sesungguhnya semua orang di rumah ini sudah tahu jika Brian memiliki wanita lain. Namun Brian masih tidak tahu jika ibu dan juga adik-adiknya sudah tahu hubungannya dengan Sisil.
Aldi mengepalkan kedua tangannya. Dia melirik Brian tajam. Ubun-ubun nya terasa sangat panas saat ini. Mendengar Bian yang menangis dengan lirih membuat Aldi ingin membunuh siapapun yang telah membuat Bian seperti itu.
Sett! Bughhhhh! Bughhhhh! Bughhhhh!
"Baji Ngan kau!" Bughhhhh!
"Laki-laki brengsek!" Bughhhhh!
"Tidak tahu diri!" Bughhhhh!
__ADS_1
"Dasar setan!" Bughhhhh!
" Anj ing Lo! Bughhhhh!
Bima yang pada awalnya ingin membiarkan Aldi menghajar Brian menjadi tidak tega. Dia pikir Brian akan melawan. Namun ternyata Brian diam dan menerima setiap serangan yang Aldi berikan.
"Sudah Aldi, kau akan membunuhnya jika terus seperti ini. Jangan lakukan itu!"
Bima berusaha untuk menarik Aldi dari atas tubuh Brian. Namun karena Aldi sedang kerasukan jin cinta, dia tidak mengindahkan Bima dan malah menghempaskan kakak keduanya sampai Bima tersungkur membentur pagar pembatas di lantai atas.
Bima sedikit meringis namun dia masih berusaha untuk bangun dan kembali menarik bahu Aldi. Ketika ketiga orang itu sedang bergulat, tiba-tiba pintu kamar terbuka.
"Boncel!"
"Mbak Bian!"
"Esmeralda!"
__ADS_1
To Be Continued.