Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Kantong Keresek


__ADS_3

Di sebuah bandara di kota itu. Terlihat dua orang pria dengan pakaian serba hitam juga earphone di telinga mereka sedang duduk di kursi keberatan menuju Korea Selatan. Mereka berdua terus saja mengawasi 2 orang wanita dengan satu laki-laki di belakang mereka. Tak lama setelah itu, seseorang datang. Pria paruh baya dengan tubuh tinggi tegap menghampiri kedua orang berbaju hitam tadi.


"Apakah itu mereka?" Tanya Anthony pada anak buahnya.


"Iya Pak. Itu mereka."


Anthony berjalan mendekati ketiga orang itu. Dia menepuk pundak salah satu gadis yang dia yakini adalah Byan. Namun, ketika gadis itu menoleh. Amatlah terkejut seorang Anthony. Gadis itu bukan Byan. Namun seperti sengaja di buat duplikat oleh orang lain. Dan laki-laki yang ada di belakang nya juga bukan Brian.


"Bajing an. Bocah tengil itu berani mengelabui ku."


"Kalian! Pergi dan cari di mana gadis itu berada. Jika kalian tidak bisa menemukan nya. Maka, kalian lah yang akan menerima hukuman dariku." Tegas dan dominan. Itulah Anthony. Jika di depan publik dia adalah seseorang yang baik dan murah senyum. Namun pada kenyataannya, dia hanya pria tua dingin, angkuh dan juga arogan. Ketegasan nya terkadang berlebihan. Hingga membuat semua orang yang bekerja dengannya selalu tunduk tidak bisa melawan.


Di sudut lain. Byan, gadis itu masih setia memeluk suaminya. Brian sudah mencoba untuk melepaskan gadis itu, namun nyatanya tidak bisa.


"Sayang, sudah saatnya kau masuk. Jangan seperti ini. Kau akan baik-baik saja. Navisa ikut bersama mu. Dia akan membantu juga menemanimu di sana."


"Tuan, mereka sepertinya sudah curiga," bisik Dito di belakang Brian. Laki-laki itu dengan cepat melepas kedua tangan istrinya. Menunduk lalu mengecup bibir itu sekilas.


"Pergilah. Aku akan sangat merindukan mu By."


Byan menggeleng. Namun Navisa menarik tangan Byan ketika dia melihat kode dari Brian untuk segera pergi dari sana.


"Akan ada orang yang yang menyambut kalian di sana. Aku sudah mempersiapkan segalanya. Kalian tidak perlu khawatir."


Brian melambaikan tangannya. Air mata yang mengalir di pipi sang istri membuat dia tidak tega dan ingin menarik nya kembali ke dalam dekapannya yang hangat.


"Kita harus segera pergi Tuan."


Dito menarik lengan Brian. Laki-laki itu menurut meskipun tatapannya masih belum beralih dari pintu keberangkatan.


Tepat setelah Brian pergi dari sana. Orang-orang suruhan Anthony mendatangi tempat itu. Mereka berdua terlihat sangat kesal karena orang yang mereka cari tidak ada.


"Aku rasa hari ini kita akan di hukum lagi," ucap salah satu di antara mereka berdua.


"Ini sudah resiko. Kita bisa apa lagi."


...----------------...


Dito membukakan pintu mobil untuk Brian. Bosnya itu masuk, duduk dengan tenang, menatap gedung bandara itu dengan tatapan sendu.


"Kau harus baik-baik saja By!"

__ADS_1


Sebuah pesawat melesat tinggi menembus cakrawala. Brian tersenyum getir. Apakah dia benar-benar bisa hidup tanpa Byan di sini. Atau, haruskah dia menyusul gadis itu ke sana.


"Apa jadwal kita hari ini Dit?"


"Tidak ada yang terlalu mendesak Tuan. Kantor hanya sedang memerlukan tanda tangan Anda hari ini."


Brian mengangguk mengerti. Baru beberapa menit di tinggal Byan. Rasanya dia sudah merasa sangat hampa. Seolah separuh hidupnya pergi meninggalkannya dalam kesedihan.


Belum sempat berdiri dengan sempurna. Seseorang tiba-tiba saja berlari ke arahnya dan langsung menyerangnya begitu saja.


"Baj Ingan kau Brian. Kenapa kau tega mengirim Navisa keluar negri hah? Kau tahu, aku sangat menyukai gadis itu."


Brian melepaskan cengkraman Rendy di kerah jas yang dia kenakan. Laki-laki itu menatap Rendy tajam. Tidak ada kelembutan dalam tatapan matanya.


"Kau bisa menunggu dia Rendy. Jangan berpikiran sempit seperti ini."


Rendi tersenyum sinis. Dia membuat aba-aba hendak meninju wajah Brian. Namun, sebelum kepalan tangan itu sampai di wajah Brian. Kepalan tangan Brian lebih dulu sampai di wajahnya hingga dia terpental di area perusahaan Nugroho grup.


Brian melangkahkan kakinya. Menunduk lalu menarik kaos yang Rendy kenakan.


"Kau pikir hanya kau saja yang kehilangan. Aku juga kehilangan seseorang, bahkan rasa kehilangan ku lebih besar dari rasa kehilangan mu. Jangan berpikir seperti anak remaja. Jika ingin tahu sesuatu. Kau bisa datang ke ruangan ku."


Bughhhhh!


"Sebaiknya Anda ikuti Tuan Brian. Dia memiliki alasan melakukan ini semua."


Rendy mendengus namun dia tetap mengikuti Brian di belakang nya.


...----------------...


Brukkkkk!


"Dokumen sampah seperti ini apa yang harus di tanda tangani Dito!"


Brukkkkk!


"Kalau gak becus kerja resign saja. Kenapa harus menerima gaji buta dari perusahaan ku."


Brukkkkk!


"Nol nya lebih satu. Kau pikir, kau bisa mengganti kerugian jika aku acc dokumen ini Dit! Jangan bodoh, kenapa hari ini orang-orang itu membuat kepala ku pening."

__ADS_1


Dito hanya bisa membungkuk beberapa kali sembari memungut dokumen-dokumen yang Brian lempar ke lantai.


Habislah dia. Mulai hari ini dia yakin jika bosnya ini akan kembali seperti dulu. Sebelum Byan datang, tempramen orang ini benar-benar tidak bagus. Dan untuk beberapa tahun ke depan, sepertinya dia harus kembali menguatkan hatinya lagi.


"Kau ingin mendengar apa Rendy!"


Brian bertanya dengan punggung menyandar di sandaran kursi kebesarannya. Matanya terpejam. Jemarinya terus bergerak memijit pelipisnya yang berdenyut.


"Kenapa kau mengirim Navisa pergi? Kau punya hak apa atas gadis itu?"


Rendi yang tadi duduk di sofa kini beralih ke kursi diseberang Brian.


"Bukan aku yang memaksanya pergi. Tapi dia sendiri yang pergi. Awalnya aku ingin mengirim Dita juga. Kau tahu kan gadis bar-bar yang malam lalu datang ke pesta Byan?"


Rendi mengangguk. "Dia menolak pergi. Akhirnya hanya Navisa dan Byan yang pergi. Aku pikir dia akan memberitahu mu sebelumnya. Bukankah malam itu kalian pulang bersama?"


Rendy menghembuskan napas kasar. "Aku membuat kesalahan. Dia marah karena aku tiba-tiba mengajaknya menikah."


Brian tersenyum tipis. "Kalaupun dia tidak marah, dia akan tetap pergi. Dia memiliki cita-cita yang tinggi. Namun karena keterbatasan biaya, dia tidak bisa meminta lebih. Oleh karena itu saat aku menawari dia untuk menemani Byan , dia langsung mau."


Rendi menurunkan kedua bahunya lesu. Detik berikutnya dia malah mencondongkan badan. Menatap Brian tajam seolah-olah dia ingin mengintrogasi laki-laki brengsek yang sudah memisahkan dia dengan calon istrinya.


"Sebenarnya Byan itu siapa?" Rendy memincingkan matanya merasa sangat penasaran dengan jawaban Brian.


"Dia istri ku!"


Bola mata Rendy membola. Sahabat karib Brian itu semakin mendekat ke arah Brian. Menelisik raut wajahnya seolah dia sedang mencari kebenaran.


"Kau benar-benar tidak berbohong. Kenapa kau tidak pernah memberitahu kami?"


"Kalian tidak pernah bertanya," jawab Brian acuh.


"Gila, Lo nikah sama bocah Bro. Jadi pedofil sekarang!"


Brian menautkan alisnya. "Lo juga pedofil be go. Navisa itu se umur sama Byan."


"Tapi Navisa sudah terlihat agak dewasa."


"Terserah Lo aja Ren. Capek Gue ngomong sama kantong kresek."


To Be Continued.

__ADS_1


Good night Guys. 💃


__ADS_2