Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Dia Menyukaimu


__ADS_3

"Apakah ini sakit?" tanya Brian sembari merawat luka di dekat siku lengan Byan. Byan mengangguk dengan wajah sendu. Kalau dia bilang ini tidak sakit, dia bohong banget. Ya, karena pada kenyataannya, luka itu sangat perih.


"Kenapa kamu bisa ada di sana hmm? Mau nangkep biawak?"


"Humor Om garing."


Brian menghentikan aktivitasnya lalu menatap Byan dengan tatapan yang sulit untuk di artikan, antara marah, khawatir, sedih dan sayang, semuanya dia campur menjadi satu. Ekspresi yang belum pernah Byan lihat sebelumnya.


"Kamu marah lagi kan? Gara-gara Mira?"


"Om tahu?"


"Heum, aku tahu dari keong racun sahabat mu itu."


"Keong racun?"


" Eum. Dita!"


Byan mengangguk. Matanya memperhatikan Brian yang sedang menempelkan plester sembari meniup luka di sikunya dengan lembut. Hembusan napas itu terasa sangat hangat sampai ke hati Byan. Seberapa kesal pun dia kepada laki-laki ini. Laki-laki ini selalu bisa membuatnya kembali padanya. Kebaikan, kelembutan, perhatian dan juga kasih sayang yang Brian berikan untuknya, tidak bisa membuat Byan lari darinya.


"Ada yang lain lagi?"


Byan mengangguk dengan cepat. Kini mata mereka beradu. Jari yang Byan ketukan di atas bibir memberikan sinyal pada Brian untuk mendekat dan memberikan hal yang paling Byan sukai.


Tanpa menunggu lama. Brian langsung menarik pinggang istrinya dan memberikan apa yang dia mau. Ciuman yang pada awalnya lembut, kini mulai naik satu level, dan terus naik ke level berikutnya, tanpa mereka sadari. Sendari tadi ada 3 pasang mata yang memperhatikan kegiatan mereka. Dua orang di antaranya berbalik tidak ingin melanjutkan melihat. Namun orang yang ada di tengah malah ikut memiringkan kepalanya sembari menggigit bibir.


"By, aku juga mau!"

__ADS_1


Byan dan Brian langsung melepas tautan mereka dan melihat ke arah orang yang baru saja berbicara.


"Astaga keong racun itu!" Brian menggerutu dalam hati. Sementara Byan, dia melotot menatap Anandita tajam. Byan menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.


"Ada apa Dito? Kau bisa berbalik sekarang."


"Ekhemmmm." Dito berdehem untuk membasahi tenggorokan nya yang kering. "Begini Tuan, saya sudah mencari info. Katanya di bawah ada tukang urut yang sudah terpercaya."


"Kamu yakin mau ke tukang urut aja By?" tanya Brian. Byan mengangguk.


"Kamu keluarkan mobil sekarang Dit!"


"Baik Tuan!"


"Terus kalian ngapain di sini?" tanya Byan kepada dua sahabatnya.


"Ini bukan salah kalian. Aku yang tidak hati-hati. Sebenarnya seharusnya aku juga gak papa. Hanya saja tiba-tiba Mike muncul dan terjadilah insiden itu. Dia ngira aku mau bunuh diri. Jadi dia niat banget mau nolongin aku. Tapi ya gitu, bukannya nolongin, kita berdua malah jatuh ke dalam jurang."


Anandita dan Navisa mengangguk. "Kita juga sempat berpikir kalau kamu pergi mau bunuh diri By," Navisa dan Anandita melirik ke arah Brian yang sedang sibuk melamun. Banyak tanya di otak laki-laki itu. Bukan karena Mike yang ingin menolong istrinya, namun, bagaimana bisa Mike ada di sana sedangkan Dita dan Navisa saja tidak sadar kalau Byan pergi jauh. Apa mungkin Mike sangat memperhatikan Byan? Brian harus mencari tahu hal itu.


"Siapa yang akan bunuh diri karena cemburu, jangan ngaco," jawab Brian. Dia berjalan ke arah lemari yang ada di dalam mobil, lalu mengambil sebuah sandal dari sana. Tidak lupa dia juga mengambil handuk basah.


Tanpa ragu dan malu, Brian kembali duduk, dia menarik kaki Byan dan menaruh kaki itu di atas pangkuannya. Dengan gerakan teratur, dia mulai membersihkan kaki Byan satu persatu.


Kembang-kembang cinta keluar dari mata Dita dan Navisa. Mereka memperhatikan perhatian yang Brian berikan dengan mata yang berbinar. Sungguh beruntung Byan memiliki suami tampan yang begitu memperhatikan nya. Daripada seorang suami, dia lebih terlihat seperti seorang ayah, saking tulus dan penyayang nya Brian kepada Byan.


"Ya Allah, bisakah aku membeli laki-laki seperti ini di online shop? Aku mengiri ya Allah. Kalau kayak gini caranya, aku juga mau nikah muda."

__ADS_1


Anandita mengusap sudut matanya. Entah kenapa dia tiba-tiba merasa sedih karena terharu. Dita tahu bagaimana Byan sangat menderita dengan cinta sepihak nya. Dan kini, semuanya berbalik. Laki-laki yang tidak pernah menatap ke arahnya malah menjadi laki-laki yang paling perhatian.


"Gue keluar dulu ya By. Mau nyari angin!"


Byan mengangguk. Anandita dan Navisa pun keluar dari camp car Brian.


"Om!"


"Heum!" Brian bergumam. Dia memakaikan sandal untuk Byan, lalu beralih menatap gadis itu lekat.


"Menurut Om, Tante Mira itu bagaimana?"


"Maksudnya?"


"Jangan pura-pura bodoh. Byan tahu Tante Mira selalu berusaha untuk mendekati Om! Kalau Byan boleh minta, tolong jauhi Tante Mira!"


To Be Continued.



Anggep aja ini camp car milik Brian.



Ini si Neneng sebelum jatoh 🤣


__ADS_1


__ADS_2