
Bima dan Bian menatap Aldi dan Brian dengan wajah acuh mereka. Semua piring yang ada di depan Bian sudah kosong tak berbekas. Gadis cantik itu sedang menyuapkan cake cokelat ke dalam mulutnya.
"Kok udah makan sih? Ini kan baru beli makanan nya." Brian menaruh semua kantong kresek di atas meja makan. Begitupun dengan Aldi. Dia menatap Bima penuh selidik. Bagaimana bisa dia mendapatkan semua makan ini dalam waktu yang cepat.
"Jangan tatap aku seperti itu, kalian yang bodoh. Sudah jelas-jelas bisa pesan makanan di aplikasi, malah sibuk keluar nyari sendiri. Ya akhirnya gitu deh. Kalau aku pakai cara kalian, sudah pasti sekarang Bian terkapar. Semaput karena kalian yang kelamaan beli makanan."
Brian duduk di samping Bian tanpa mau menghiraukan ucapan Bima. Dia mengambil selembar tisu lalu mengelap sisa-sisa coklat yang ada di bibir gadis itu. Bian nampak acuh, perlakuan Brian padanya tak dia anggap karena dia tahu, sikapnya itu seperti angin lalu yang tidak bisa konsisten. Kadang baik. Kadang juga ya begitu, apalagi kalau Bian ingat Sisil, hatinya panas seperti bara api yang di kipasi.
"Ini Es jeruk selasih yang kamu minta."
Aldi menyodorkan Es jeruknya pada Bian. Bian tersenyum. Namun ketika dia ingin mengambil es jeruk itu, Brian malah mengambilnya lebih dulu lalu meminumnya. Aldi ingin marah, namun Brian merentangkan tangannya.
"Minum es jeruk yang aku beli aja ya!" Brian mengeluarkan es jeruk miliknya namun malah tidak di gubris oleh Bian. Bian melengos. Dia beranjak dari atas kursi hendak kembali ke kamarnya.
"Terima kasih semuanya. Bian sudah kenyang. Bian ngantuk, Bian mau tidur dulu."
Brian dan Aldi saling tatap. Bahu mereka terkulai lemas. Usaha dan kerja keras mereka ternyata sia-sia. Bian sama sekali tidak minum atau makan semua yang sudah mereka belikan. Makanan ini juga sepertinya sangat pedas, mereka tidak tahan makan makanan pedas. Alhasil jadi mubadzir semua.
"Akh!" Bian memekik sembari memegangi perutnya. Gadis itu hendak menaiki undakan tangga, namun tiba-tiba saja perut bagian bawahnya kembali nyeri.
__ADS_1
Ketiga pria yang sedang ada di meja makan langsung menghampiri Bian. Aldi juga Brian terlihat panik, sisi kiri dan kanan gadis itu mereka pegangi dengan sangat hati-hati.
"Masih sakit?" tanya Brian yang mendapat anggukan dari Bian.
Tidak menunggu lama, Brian memangku istri kecilnya lalu membawa Bian naik ke atas. Aldi hanya bisa menatap kejadian itu dengan hati yang mengerut. Jujur saja, dia tidak terlalu suka jika Brian semakin perhatian kepada kakak iparnya. Aldi masih berharap kalau Bian dan Brian akan berpisah suatu saat. Jahat bukan? Tapi itulah cinta.
"Kamu kenapa Al?" Tanya Bima merasa ada yang janggal melihat gelagat tidak biasa yang Aldi tunjukan.
"Gak papa Kak. Aldi ngantuk. Capek. Mau tidur juga."
Bima mengangkat kedua bahunya acuh. Mungkin ini hanya perasaan nya saja. Apa yang dia pikirkan mungkin tidaklah benar. Tidak mungkin Aldi menyukai kakak iparnya sendiri. Lagipula, sepertinya Brian juga sudah mulai perhatian pada Bian. Jangan sampai keluarga mereka hancur gara-gara hal seperti ini.
****
"Kamu butuh sesuatu gak?" Tanya Brian.
"Eum, tolong isi ice bag yang itu dengan air hangat!" Bian menunjuk ice bag yang ada di ujung nakas.
Brian mengangguk. Dia berjalan ke arah kamar mandi dan mulai mengisi ice bag itu. Setelah dirasanya cukup, Brian kembali ke kamar.
__ADS_1
"Ini, sudah aku cek suhunya, tidak terlalu panas."
"Heum." Hanya itu yang keluar dari mulut Bian.
"Aku mau mandi dulu. Kalau butuh sesuatu, tunggu sebentar, jangan melakukannya sendiri. Aku tidak akan lama."
Bian hanya mengangguk. Dia meletakkan ice bag berisi air hangat di atas perut bagian bawahnya lalu mulai memejamkan mata. Semoga dia bisa tidur cepat. Karena Bian sedang berusaha untuk tidak menghiraukan suaminya.
****
Tiga puluh menit kemudian, Brian sudah selesai dengan acara mandi, juga sudah berganti pakaian. Laki-laki itu berjalan mendekati ranjang. Perlahan, Brian naik ke atas ranjang yang masih memiliki ruang kosong lalu ikut berbaring. Dia tak lekas tidur, laki-laki itu malah memiringkan tubuhnya menatap wajah damai Bian yang sedang tidur.
Tangan Brian terulur mengambil ice bag yang ada di atas perut Bian. Sepertinya ice bag itu sudah tidak terlalu panas. Brian hendak berdiri untuk mengganti air, namun tiba-tiba tangan Bian bergerak dan menggenggam tangan Brian kuat.
"Ibu, perut Bian sakit, jangan pergi dulu, katanya Ibu sayang sama Bian. Usapin perut Bian dulu Bu."
Brian kembali pada posisi semula. Mendengar perkataan Bian yang sedang mengigau membuat Brian tidak tega. Dengan sangat hati-hati dia melepaskan tangan gadis itu. Brian menyentuh perut sang istri lalu mengusapnya dengan gerakan memutar. Pada awalnya dia merasa tidak nyaman, namun melihat Bian yang sudah tidur nyenyak, Brian terus melanjutkan kegiatannya agar istrinya tidak terbangun dan tidak kesakitan lagi.
"Selamat tidur Boncel!"
__ADS_1
To Be Continued.