
"Byan gak mau Om, Byan sekolah di sini aja, sama Om, sama Ibu Anjani, Byan bisa berangkat dan pulang sama Aldi. Om gak perlu nganter jemput Byan. Kalau Aldi gak mau, Byan bisa kok naik taksi online."
Brian memegangi kedua bahu Byan. Sebenarnya dia juga tidak mau berpisah dari istrinya, hanya saja, ini dia lakukan untuk kebaikan Byan sendiri. Apalagi saat ini ayah kandung Byan sedang gencar-gencarnya mencari tahu keberadaan dia.
"By, sayang, ini gak akan lama kok. Aku tahu, hidup di luar itu tidak senyaman hidup di negara sendiri. Tapi ini untuk masa depan kamu, kalau kamu mau sekolah di sana, setelah selesai dengan pendidikan kamu, kamu bebas melakukan apa saja yang kamu mau. Aku janji, ini adalah permintaan ku satu-satunya."
"Pokonya Byan gak mau. Byan mau di sini aja. Om kenapa mau buang Byan. Byan kan gak nakal. Byan nurut sama Om. Hikssss. Kalau Om udah gak cinta lagi sama Byan, sudah Om pergi aja sana!"
Byan mengusap air matanya kasar. Dia mendorong bahu Byan sekuat tenaga. Gadis itu sama sekali tidak menghiraukan permohonan Brian yang memintanya untuk tenang dan berpikir dengan baik.
"By, aku cinta dan sayang banget sama kamu, aku melakukan ini karena aku gak mau kehilangan kamu."
"Bullshit!"
Brakkkkk!
Brian terperanjat, dia memukul-mukul pintu kamar itu beberapa kali.
"By, ayolah, jangan marah hmmm, aku tidak bermaksud untuk membuang mu sayang!"
Cklek!
Brian tersenyum melihat pintu kamarnya terbuka.
"Tidur di luar!" sarkas Byan kesal sembari melemparkan bantal kepada Brian.
"By!" rengek Brian namun tidak di hiraukan oleh Byan.
Brakkkkk!
"Di usir juga Nak?" tanya Adrian menepuk pundak Brian. Brian mengangguk lesu.
"Ya sudah, kita ke bawah saja. Ayah juga ingin tahu, kenapa putri ayah marah."
__ADS_1
Setelah duduk di sofa di ruang keluarga, Brian mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
Flashback on
Brian menarik pinggang Byan agar dia bisa memeluk tubuh istrinya leluasa. Mereka berdua saling tatap. Byan tersenyum dengan wajah cerahnya. Malam ini, Byan memang agak cukup lelah karena tadi dia berjalan-jalan terlalu lama. Namun ketika melihat wajah tampan suaminya, rasa lelahnya mendadak hilang.
"Om kenapa?" Tanya Byan menatap Brian. Ekspresi wajah suaminya tidak terlihat baik-baik saja.
Brian tersenyum, tangannya terulur mengusap wajah Byan lembut. Tatapan memujanya tidak pernah lekang, hanya saja, ada semburat kesedihan di wajah Brian malam ini.
"By, aku ingin membahas sesuatu dengan mu, bolehkah aku minta agar kamu tidak marah dan mencerna ini dengan baik?"
Byan langsung melepaskan pelukannya. Dia duduk di tengah ranjang dengan kedua kaki yang bersila.
"Ada apa Om? Kenapa sepertinya ini sangat serius?"
Brian kembali tersenyum. Dia ikut duduk bersila seperti apa yang Byan lakukan.
"Aku dan semua anggota keluarga, dua keluarga besar kita, sudah sepakat untuk mengirim mu sekolah di Korea Selatan."
Jantung Byan berdebar sangat kencang. Dia tertawa sembari memukul lengan Brian. "Jangan bercanda Om, Om ini suka iseng sama Byan."
"Aku serius By, pertama, aku sudah membicarakan ini dengan Kak Haris, lalu dengan kedua orang tua ku. Dan tadi aku juga sudah berbicara dengan orang tuamu. Mereka semua setuju. Aku tahu, kau itu berbakat dalam hal merias wajah, kau bisa belajar membuat produk-produk kecantikan yang baik di sana, selain itu, kau juga bisa belajar untuk membuat rangkaian produk mu sendiri. Aku tahu kau tidak suka matematika, meskipun kau sangat pintar, namun aku tahu, kau tidak suka melakukan sesuatu yang bukan hobi mu."
Byan menggelengkan kepalanya. "Tidak, Byan tidak suka merias wajah. Byan akan tinggal di sini dan kuliah di sini, kalau Om gak mau urus Byan, biarkan Byan tetap tinggal bersama dengan Ibu dan Ayah."
Brian menghembuskan napas panjang. "By, tolong, aku melakukan ini demi kebaikan mu. Aku juga tidak ingin jauh darimu, namun hanya ini jalan satu-satunya untuk kita."
"Tidak, Byan tidak mau. Byan tidak mau Om. Kenapa Om memaksa?"
Byan menatap Brian dengan mata yang berkaca-kaca. Brian sadar, Byan pasti tidak ingin berpisah darinya. Dia juga sama, tapi demi masa depan Byan, dia harus melakukan ini.
Flashback off.
__ADS_1
"Ayah mengerti. Ayah rasa, Byan sudah sangat mencintaimu Nak. Yang sabar, kita bujuk Byan pelan-pelan. Kamu persiapkan saja semuanya. Selama itu berjalan, kita akan terus membujuk Byan dan memberikannya pengertian. Ayah yakin, nanti dia akan mengerti."
Brian mengangguk paham. Kepalanya mendongak, menatap ke lantai atas. Tidak apa-apa jika Byan marah, dia akan membujuknya lagi nanti."
****
"Papa apaan sih, Dita gak mau pulang akh, Dita mau di sini aja sama Ibu Kirani sama Ayah Adrian. Kalian gak sayang sama Dita, sedangkan mereka, mereka sayang sama Dita!"
"Anandita!" Stephani berteriak membuat semua orang terkejut. Pagi-pagi buta mereka sudah di sodorkan sebuah pemandangan yang tidak menyenangkan. Kedua orang tua Dita datang untuk menjemput anaknya. Kirani ingin membantu, namun dia tidak bisa.
"Ibu, Ayah, Dita gak mau pulang. Dita mau si sini saja." Dita terus meronta-ronta saat Stephani dan suaminya menarik Dita dan berusaha memasukkan Dita ke dalam mobil.
"Dita masuk atau aku laporan keluarga mereka ke polisi. Ini sudah tindak kriminal Dita, mereka melakukan penculikan."
Dita menatap Stephanie tajam. "Cih, kau bilang ini penculikan hah, bukankah selama ini kalian yang menelantarkan aku? Aku yang kabur dari neraka itu, dan mereka yang menampung ku. Apakah aku salah hah?"
"Dita masuk saja dulu!" Ayah Dita berbicara dengan suara yang lebih pelan.
"Aku benci kalian. Aku benci kalian semua. Enggak ada yang perduli sama aku, kalian semua hanya memikirkan diri kalian sendiri."
Dita masuk ke dalam mobil dan langsung membanting pintu mobilnya sangat keras.
Kedua orang tua Dita masuk ke dalam mobil tanpa mengucapkan maaf atau terima kasih. Kirani yang melihat itu hanya bisa tersenyum miris, melihat apa yang terjadi, dia tahu kalau Dita pasti sangat menderita selama ini.
"Ibu, kenapa Ibu membiarkan Dita pergi? Kasihan Dita Bu?" Byan memeluk Kirani sembari menangis. Brian melirik istrinya. Dia sangat ingin memeluk Byan dan menenangkan gadis itu, namun Byan seperti masih sangat kesal padanya.
"Ini semua gara-gara kamu Haris."
Haris menatap Kirani dengan tatapan heran. "Kok salah Haris sih? Ibu, menahan anak gadis orang di rumah ini apakah itu tindakan yang benar? Haris hanya memberitahu orang tua Dita karena Haris pikir mereka memang harus tahu."
Kirani, Byan, Brian dan yang lainnya menatap Haris sinis. Mereka kembali masuk ke dalam rumah tanpa mau menanggapi ucapan Haris.
"Memangnya aku salah apa?" gumam Haris mengidikan bahunya acuh.
__ADS_1
To Be Continued.