
Malam hari, Byan sudah bersiap-siap untuk tidur. Dia celingukan mencari suaminya, tidak ada. Byan mengambil ponselnya lalu duduk di atas ranjang sembari bersandar. Dia mulai membuka ponselnya dan mulai berselancar di dunia maya.
Setelah beberapa menit, pintu kamar terbuka. Brian muncul sembari membawa susu hangat juga air putih di atas nampan. Dia menutup pintu lalu berjalan mendekati istrinya. Laki-laki itu berdehem. Byan yang sedang asyik melihat kelakuan random para teman sosial medianya mendongak lalu tersenyum.
"Om!" ucap Byan seraya berdiri hendak memeluk suaminya. Brian dengan sigap menahan kening Byan dengan jari telunjuknya lalu menyimpan nampan di atas nakas. "Mau ngapain?" tanya Brian heran.
"Peluk!" ucap Byan dengan nada suara manjanya. Brian mengerutkan keningnya bingung. Dia menatap Byan dengan tatapan penuh kecurigaan. Brian tahu, kalau sudah seperti ini, pasti istrinya menginginkan sesuatu.
"Mau apa?" tanya Brian to do point. Byan menunjukan deretan giginya yang putih.
"Byan mau peluk dulu," ucap Byan menyingkirkan jari telunjuk suaminya dan langsung melompat ke pelukan Brian. Brian sedikit tersentak namun dengan segera dia menyangga tubuh mungil itu.
"Kenapa? Apa yang kau butuhkan? Uang jajan mu kurang?" tanya Brian lagi. Dia duduk di tepian ranjang masih dengan Byan yang memeluk lehernya.
Byan menggeleng. Dia melonggarkan pelukannya lalu menatap sang suami.
Cup!
Byan mengecup bibir Brian sekilas. Gadis itu tersenyum lalu mulai bercerita sembari memainkan rambut di kepala suaminya. "Sebenarnya Bian ada janji sama Dita dan Navisa."
"Janji apa?"
"Ekhemmmm. Byan janji kalau Byan akan memberi mereka uang jajan karena tadi Byan tidak jadi mengajak mereka main ke rumah. Boleh gak kalau Om transfer uang untuk teman-teman Byan. Byan janji gak banyak kok, boleh ya!"
Byan berbicara masih dengan nada manjanya. Dia harus bisa membujuk laki-laki ini agar uang yang dia janjikan untuk kedua sahabatnya bisa cair.
Brian tersenyum. Tiba-tiba saja ide jahil muncul di otaknya. Brian menarik pinggang Byan semakin dekat membuat kedua tubuh mereka menempel dengan sempurna. Dia mendekatkan bibirnya ke bibir sang istri lalu bergumam dengan suara serak nan berat miliknya. "Boleh, tapi cium dulu!"
Byan refleks mendorong dada suaminya. Brian sedikit tertawa. "Ya sudah, kalau tidak mau gak papa."
__ADS_1
Byan berpikir untuk sejenak. Kalau dia menolak, Anandita dan Navisa pasti akan sangat kecewa kepadanya. "Ya sudah, Byan mau, tapi Om merem dulu. Brian menurut. Dia memejamkan matanya dengan bibir yang sedikit tersenyum. Byan mendesah untuk sesaat. Dia menutup mata Brian dengan tangan kirinya lalu menarik tengkuk Brian menggunakan tangan kanannya. Byan mulai memejamkan mata. Ketika dia merasakan sesuatu yang lembut dan hangat menyentuh bibirnya Byan tahu kalau bibirnya dan Bibir Brian sudah bertemu.
Byan mulai menggerakkan bibirnya terbata. Meskipun dia sudah beberapa kali melakukan ciuman panas dengan Brian, namun Brianlah yang selalu mendominasi permainan. Gerakan Byan sangat lembut dan sangat hati-hati. Brian yang sudah gemas dan tidak tahan mulai mengambil kendali. Dia menarik tengkuk Byan dan mulai melancarkan aksinya.
Pada awalnya Byan sedikit tersentak. Brian adalah seorang kisser pro yang sudah memiliki level 10. Suaminya ini sangat lihai dan mampu membuat Byan mati kutu. Hisa pan dan gigitan kecil yang Brian lakukan membuat Byan mengeluarkan suara lucknut yang seharusnya tidak dia keluarkan. Brian menggeram. Tangannya mulai nakal menyentuh paha terluar Byan dan terus menjalar ke paha terdalam gadis itu.
"Om, jangan!"
Byan menghentikan tangan Brian yang hendak menyentuh aset pribadinya. Brian menurut. Dia melepaskan tautannya kemudian menempelkan keningnya di kening Byan. Napas kedua orang itu sama-sama memburu, mereka terengah-engah karena ciuman panas yang sudah mereka lakukan.
"Maafkan Byan Om, Byan belum siap."
Brian menutup matanya mengerti. Dia mengangguk lalu menurunkan Byan dari pangkuannya.
"Mau ke mana Om?" tanya Byan melihat suaminya beranjak dari tempat tidur dan berbalik.
"Mau ngapain? Om kan udah mandi?"
"Bermain solo," jawab Brian seenaknya. Byan hanya mengangguk meskipun dia tidak mengerti apa yang suaminya maksud dengan bermain solo.
"Om transfernya bagaimana?" pekik Byan.
"Kamu saja yang transfer. Hpnya ada di atas nakas. Sandinya kamu juga tahu. Juga minum susunya selagi masih hangat!"
"Iya!" Byan kembali berteriak dengan senyum di wajahnya.
Gadis itu mengirim pesan kepada Anandita dan Navisa, dia meminta nomor rekening teman-temannya untuk mentransfer mereka sejumlah uang.
"Katanya masih hangat, kok udah dingin!" Byan bergumam setelah meneguk susu yang Brian buatkan. Dia masih tidak sadar kalau durasi mereka berciuman itu sangat lama.
__ADS_1
Dia beralih mengambil hp suaminya dan mulai mengetikkan sesuatu di sana. Byan kembali tersenyum setelah dia berhasil mentransfer sejumlah uang untuk Anandita dan Navisa.
Setelah selesai, Byan kembali duduk bersandar sembari bermain ponsel. Dia sudah menghabiskan susunya, dia hanya tinggal menunggu Brian keluar dari kamar mandi.
15 menit kemudian, Byan keluar dari kamar mandi dan langsung naik ke atas ranjang.
"Sudah?" tanya Brian kepada istrinya.
"Heum, sudah, Terima kasih ya Om."
Brian mengangguk. Dia mengambil ponselnya hendak menghubungi Dito, namun keningnya tertaut ketika melihat notifikasi mutasi saldo yang masuk ke ponselnya.
"Boncel kamu transfer berapa?"
"50 juta. Untuk Dita 25 JT, untuk Navisa 25jt." Byan berbicara dengan entengnya.
Brian menepuk jidatnya pusing. Uang jajan apa yang sampe 50 juta. Open BO aja belum tentu langsung dapat segitu.
"Byan kamu!"
Brian menggeram sembari menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Sekaya apapun Brian, namun uang 50 JT itu bukan uang yang sedikit bukan?
****
Navisa dan Anandita terperanjat melihat uang yang masuk ke rekening mereka. Mata mereka membulat saking terkejutnya.
"E buset, Gue pikir dia cuma mau ngirim 5 JT. Lha ini langsung di kirim 25 JT. Bener-bener gila si Byan."
To Be Continued.
__ADS_1