
Brian, Aldi dan Bima mengintip Bian dari kaca rumah depan. Mereka memperhatikan bersama siapa Bian akan pergi. Ketiga orang itu berpikir jika Bian hanya main-main saja. Karena selama ini mereka belum pernah melihat Bian dekat dengan laki-laki lain selain mereka ini.
Bian tersenyum ketika sebuah motor sport besar berhenti di depan gerbang rumahnya. Bian yang kala itu sedang menunggu pria gebetannya sembari memainkan hp, memasukan hp nya ke dalam tas.
Ketiga orang yang sedang mengintip saling pandang. Mereka terbelalak kita pria di motor itu turun lalu melepas jaketnya dan mengikatkan jaket itu di pinggang Bian. Apalagi, ketika pria itu memakaikan helm ful face untuk Bian, semakin lah mereka di buat gusar.
"Siapa laki-laki itu Aldi?" Tanya Brian. Aldi mengidikan bahunya.
Ketika mereka melihat Bian sudah naik ke atas motor, ketiga orang itu langsung berlari berhamburan.
"Kalian mau ngapain?" Tanya Brian sinis.
"Mau ikut Kakak!"
Brian menepuk jidatnya pusing. Namun, dia tidak melarang kedua adiknya untuk ikut. Mereka bertiga pergi menaiki mobil mewah yang Brian miliki.
"Kita mau ngikutin Mbak Bian kan?" tanya Aldi kepada Brian. Brian tidak menghiraukan. Dia malah menancap gas semakin dalam karena takut kehilangan jejak.
"Seharusnya Kakak itu pasang GPS di HP Esmeralda, jadi kita gak harus panik kayak gini. Gimana kalau Esmeralda di culik, laki-laki di Jakarta itu gak bisa di tebak Kak. Seharusnya Kakak menjaga Esmeralda lebih baik lagi. Emang Kakak mau kalau istri Kakak di ambil orang. Enggak kan?"
Lagi-lagi Brian tidak menjawab. Mendengar apa yang Bima katakan, Brian merasa jika ucapan Bima itu memang benar. Seharusnya Brian bisa memberikan penjagaan yang lebih baik untuk istrinya. Brian meggeram dalam hati. Jujur saja, dia merasa semakin khawatir setelah Bima mengomporinya.
"Itu sepertinya mereka Kak!"
Aldi menunjuk ke arah motor yang mulai memasuki area mall di kota tersebut.
Brian memarkirkan mobilnya lalu mengambil topi hitam juga kaca mata hitam. Aldi dan Bima bingung, mereka turun mengikuti Brian tanpa merubah penampilan. Ketiga orang itu bertingkah seolah-olah mereka adalah Intel yang sedang mengawasi target.
****
"Anandita! Navisa!"
Bian berlari menghampiri kedua sahabatnya. Mereka berpelukan seperti Teletubbies. Bukan hanya berpelukan, mereka juga melompat-lompat layaknya anak TK. Banyak pengunjung memperhatikan kegilaan Bian dan temen-temennya. Mereka tertawa namun tetep melanjutkan kegiatan mereka.
__ADS_1
"Lupa nih sama aku!"
Bian langsung menoleh. Gadis itu tersenyum lalu menarik tangan pria gebetannya.
Anandita dan Navisa diam terpaku memperhatikan laki-laki tampan dengan tubuh tinggi berdiri di hadapan mereka. Di lihat dari sudut manapun, pria ini benar-benar sangat keren.
Anandita menarik tangan Bian. "Elo dapet yang kayak gini di mana anjir? Kok gak ngasih ke gue sih!"
Bian terkekeh. Dia menarik kepala Anandita dan Navisa bersamaan. Setelah kepala mereka bersatu, Bian Mulan berbisik.
"What? Lo seriusan Bi? Gak boong kan?"
"Jangan ngada-ngada kamu Bian. Masa cowok seganteng ini...."
"Udah akh, katanya kita mau nonton, nonton dulu aja yuk! Nanti habis nonton kita makan. Aku yang traktir."
Navisa dan Anandita langsung mengangguk mengiyakan. Bian menarik lengan pria tampan itu lalu mulai berjalan menuju lantai paling atas di mall tersebut. Navisa dan Anandita kembali di buat terpana. Baru kali ini mereka melihat orang mengantri ingin membeli tiket nonton sekeren itu. Mata Anandita dan Navisa begitu sulit teralihkan.
Bian hanya memutar bola matanya malas. Anandita ini memang tidak bisa tahan kalau melihat laki-laki tampan. Matanya ijo. Seijo mata Bian kalau liat duit.
****
"Mereka mau nonton Kak. Setidaknya Mbak Bian gak berduaan sama cowok itu. Tapi dia siapa sih, ganteng banget kayaknya."
Brian mendengus. Ganteng dari mana, jelas-jelas gantengan dia. Jika mereka di sandingkan, perbedaannya pasti seperti langit dan bumi.
"Kita juga harus ikut ke sana Kak!"
"Perbaiki dulu penampilan kalian, kalian mau Bian sadar dan kita ketahuan!"
"Kalau gitu aku sama Aldi beli barang dulu, Kakak mengantri saja beli tiketnya ya!"
Brian hendak pergi namun lengannya di cekal oleh Bima. Brian menautkan keningnya melihat Bima mengarahkan telapak tangannya seperti orang meminta-minta.
__ADS_1
"Apa?" Tanya Brian.
"Uang, kita gak bawa uang," ucap Bima yang langsung di beri dengusan oleh Brian.
"Jangan lama-lama. Kalau lama aku tinggal." Brian memberikan kartu kreditnya kepada dua bocah parasit hasil persilangan Anjani dan Nugroho.
Setelah menunggu hampir 10 menit, akhirnya Bima dan Aldi muncul, mereka berdua datang menggunakan kostum seperti seorang detektif. Baguslah jika detektif itu detektif western. Lha ini, mereka berpenampilan layaknya Upin-Ipin.
"Dasar Bego!" Brian menggerutu.
Bima dan Aldi saling pandang. Mereka berdua mengangkat bahu mereka acuh, sembari menunduk, mereka masuk ke dalam bioskop dengan berjalan di sisi dinding. Sesekali mereka melihat keadaan. Dan ketika mereka melihat Bian duduk di kursi paling tengah, mereka berjalan menuju kursi yang ada di bagian paling atas.
Brian mengepalkan tangannya melihat Bian yang bersandar pada lengan laki-laki itu sembari tertawa terbahak-bahak. Bian belum pernah seceria ini di depannya, namun bersama pria lain, dia bisa tertawa begitu lepas.
Tidak banyak yang masuk lagi ke bioskop karena Brian membeli semua tiket terakhir yang tersisa. Dia melakukan itu karena dia tidak ingin aksi penguntitan nya di ganggu banyak orang.
Dua jam lebih Brian menyaksikan Bian dari jauh. Bima dan Aldi bukannya ikut memperhatikan malah tertawa terbahak-bahak juga. Mereka malah ikut menonton dan lupa pada misi mereka.
Lampu ruangan itu kembali di hidupkan. Semua orang mulai berhamburan keluar termasuk Bian dan ketiga orang yang bersamanya. Mereka terlihat sangat bahagia. Apalagi Bian, gadis itu seperti burung yang keluar dari sangkar. Terlihat begitu bersemangat dan sangat antusias.
"Kalian mau makan apa?" tanya Bian kepada Anandita dan Navisa. Sementara laki-laki yang sejak tadi terus menggenggam tangannya tidak dia tanyai.
"Ada bak mie baru lho di sini. Katanya sih enak. Kita makan itu aja ya, aku juga mau ice cream sama wafel." Anandita sangat antusias jika sudah membicarakan makanan. Bian mengangguk dan mereka pun mulai berjalan menuju tempat yang akan mereka tuju.
Setelah menunggu beberapa saat. Makanan pesanan mereka akhirnya datang. Mata Bian berbinar melihat bak mie namun warnanya terlihat sangat merah. Dia meneguk air liur melihat betapa menggiurkan nya bak mie itu . Tanpa menunggu lama, Bian langsung mencicipi makanya. Matanya membulat merasakan sensasi yang luar biasa di dalam mulutnya.
"Wah, ini benar-benar sangat enak," ucap Bian dengan mulut penuh makanan. Pria di sampingnya tersenyum, dia mengambil selembar tisu lalu menarik dagu Bian dan ...
Settttt!
"Brengsek kau!"
To Be Continued.
__ADS_1