Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Di Tolak


__ADS_3

Dita tersenyum ketika Rendi menuangkan jus ke dalam gelasnya. Sejak tadi kedua orang itu terus berinteraksi layaknya orang yang sudah lama saling kenal. Padahal, pada kenyataannya, mereka baru bertemu di perayaan ini lah.


"Kamu sudah punya pacar?" tanya Reno.


Anandita tersenyum sembari melirik Haris sekilas. "Tidak, tentu saja tidak."


Entah kenapa, Haris menjadi tidak nyaman saat Dita mengatakan jika dia tidak memiliki pacar. Dia tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan hatinya. Mungkin, karena gadis itu terbiasa menganggu nya, jadi ketika dia berhenti mengganggu dan lebih fokus pada pria lain, Haris menjadi tidak suka.


"Nanti pulang bareng aku ya!" ucap Reno tanpa rasa canggung.


"Oke." Jawab Dita sembari mengangguk.


Setelah acara selesai. Reno benar-benar dengan niatnya. Pria itu menunggu Dita di depan mobilnya. Dan ketika dia melihat Dita, dia langsung membukakan pintu mobil.


Belum sempat gadis itu masuk, sebuah tangan sudah mencekal pergelangan tangannya, Dita menoleh. Dia langsung menghempaskan tangan itu dan hendak kembali masuk ke dalam mobil.


"Dit, pulang bareng aku aja ya," ucap Haris membuat Dita menautkan alisnya bingung.


"Aku akan pergi dengan Kak Reno. Kau pulang saja sendiri."


Haris menggelengkan kepalanya. "Tidak bisa. Kau harus pulang bersama ku. Jangan pergi dengan dia!"


Reno mendelik mendengar ucapan dari Haris. Tangannya langsung melayang, menarik kerah baju Haris sampai pria itu sedikit tersentak.


"Apa maksud lo baji Ngan? Dia sudah mau pulang bareng gue. Jangan asal serobot aja."


Reno mengulurkan kepalan tangan ke wajah Haris, namun dengan gerakan cepat Haris menahan kepalan tangan Reno, mendorong lalu memelintir tangan itu dengan mudahnya.


Bugh!


Haris menendang perut Reno hingga membuat pria itu tersungkur.


"Kak Reno!"


Anandita memekik ingin menghampiri Reno, namun lagi-lagi Haris menahan tangannya. Kali ini Haris bukan hanya menahan tangan Dita, tapi juga menyeretnya mendekat ke arah motor sport laki-laki itu.


"Aku sudah bilang, aku yang akan mengantar mu," sarkas Haris melepas jaket dan memakai kan jaket itu pada Dita.


Dita merengut tidak suka. Namun Haris tidak memperdulikan itu, dia memakaikan helm full face untuk Dita lalu dia sendiri naik ke atas motor.


"Naik!" titah Haris menoleh.


"Dasar gila!" umpat Dita namun dia tetap naik ke atas motor Haris.


"Baji Ngan!" umpat Reno menatap kepergian Haris dan Dita tidak suka.


...----------------...


Sementara di tempat lain. Di dalam mobil Rendy, Navisa menetap keluar jendela kaca mobil karena enggan untuk melihat Rendy. Perasaan nya tak tentu arah. Dia bingung harus bagaimana. Mau mengabaikan Rendi karena laki-laki itu tidak jujur tentang hubungannya dengan Brian, namun dia sadar dia bukan siapa-siapa untuk Rendy.

__ADS_1


"Na!"


"Navisa!"


"Akh, kenapa?" Navisa menoleh agak sedikit terkejut.


"Kenapa? Apakah hari ini aku membuat kesalahan?" tanya Rendy berusaha untuk mencairkan keheningan.


"Kalau aku bertanya sesuatu boleh kah?"


Rendy tersenyum. "Kenapa harus minta izin dulu? Bertanya saja. Memang kenapa?"


Navisa memutar tubuhnya supaya dia bisa melihat Rendy, menarik napas panjang lalu menghembuskan-nya perlahan.


"Ini bukan mobil Kakak kan?"


Anggukan dari Rendy membuat Navisa refleks ikut mengangguk.


"Lalu, Kakak punya hubungan apa dengan Om Brian, kalau Kakak bukan sahabat dekatnya, Kakak tidak mungkin di undang ke pesta Byan."


"Aku memang sahabat Brian Na, kamu ragu karena Brian kaya, sedangkan aku miskin?" tanya Rendy kembali bertanya.


Navisa mengangguk. Keluarga Brian itu keluarga konglomerat, akan sangat aneh jika di mau berteman dengan orang miskin, meskipun tidak menutup kemungkinan, namun pasti ada kesenjangan di antara Rendy dan Brian karena status mereka.


"Apa kau meragukan ku!" tanya Rendy.


Navisa tersenyum kecut. Dia kembali duduk ke posisi semula. Kali ini gadis itu tidak fokus ke jendela kaca mobil, tatapannya lurus ke depan.


Kiiitttt!


Rendy menepikan mobilnya di tepian jalan. Dia menarik rem tangan, melepas sit belt dan berbalik menatap Navisa. Tangan besar nan putih itu terulur meraih dan menggenggam tangan Navisa hingga membuat gadis itu menoleh.


Cup!


Rendy mengecup bibir Navisa sekilas. Dia melihat gadis itu terkejut, bola matanya membulat. Tangannya menjadi dingin dan sedikit gemetaran. Apakah ini kali pertama gadis ini mendapatkan sentuhan seperti ini?


Rendy menarik tengkuk Navisa, kembali mengecup bibir ranum kemerahan nan kenyal itu dan me lu matnya sebentar. Hanya sebentar, karena dia tahu, jika gadis ini benar-benar tidak pernah melakukan ini sebelumnya.


"Aku menyukaimu Na, maukah kau menjadi pacarku? Tidak, jangan pacar, jika kau sudah siap, aku akan melamar mu, dan kita akan segera menikah."


Deg!


Mata Navisa semakin membulat seperti akan keluar dari tempatnya. Dia masih 17 hendak 18 tahun, mungkin Rendy sudah dewasa dan sudah cukup umur untuk menikah. Tapi dia, dia masih ingin melanjutkan pendidikannya.


"Kenapa tidak menjawab?" Rendy bertanya sambil menyelipkan rambut Navisa ke belakang telinga gadis itu.


Navisa terkesiap. Dia menarik tangannya dari genggaman Rendy. Gadis itu menunduk namun beberapa detik kemudian, dia kembali mendongak menatap Rendy.


"Maaf Kak, aku tidak bisa. Aku masih harus sekolah dan menggapai cita-cita ku. Aku belum siap untuk menikah."

__ADS_1


Navisa mengucapkan itu dengan mata yang berkaca-kaca. Sebenarnya dia juga menyukai Rendy, namun dia tidak bisa menerima ajakannya untuk menikah.


"Aku tahu kau juga menyukaiku Na, kenapa kau menolak ku?"


Navisa kembali bersuara. "Aku sudah bilang kalau aku masih ingin sekolah. Antar aku pulang sekarang Kak. Aku tidak ingin membuat Ayah dan Ibu khawatir."


Rendy menghembuskan napas nya berat. Kenapa sangat sulit mencari pendamping hidup. Namun dia tidak akan menyerah. Navisa baru menolaknya satu kali. Dia masih punya kesempatan 99 kali lagi.


"Aku akan mengantar mu pulang!"


Navisa hanya mengangguk mengiyakan.


...----------------...


"Om ikh geli." Byan bergerak gelisah tat kala kedua tangan besar suaminya malah memainkan bola air miliknya di balik piyama yang dia kenakan.


Brian tidak perduli, dia yang duduk di belakang Byan malah semakin lihai memijat dan mengelus balon air yang membuatnya semakin candu.


"Biarkan aku bermain, dan kau fokus saja menonton."


Byan mendengus sembari menyendok kan yoghurt ke mulutnya. "Mana bisa aku fokus kalau tangan Om masih tidak diam."


Brian terkekeh. Dia melepaskan tangannya lalu bergerak ke sisi Byan dan duduk dengan tenang.


"Nah, kalau gini kan enak, jangan ganggu Byan akh, Om itu suka kebablasan. Inget Om, Byan lagi palang merah. Jangan nyari masalah sendiri."


Melihat wajah Byan dari samping dengan keadaan kampu temaram, dan mulut Byan yang komat-kamit dengan sisa yoghurt di sudut bibirnya membuat Brian semakin gemas.


"Aku boleh minta yoghurt nya tidak?" tanya Brian.


Byan langsung menoleh dan menyodorkan cup yoghurt itu di depan Brian. Namun siapa sangka, Brian malah menarik tangannya dan menempelkan bibir mereka, menji lati sudut bibir Byan dan menghi sap bibir itu sekilas.


"Manis," ucapnya yang langsung mendapat pelototan dari Byan.


"Ikh jorok!" Byan memekik membuat Brian terkekeh.


"Aku juga bisa menjil Lat dan meng hisa p yang lain By."


Brian berbicara sambil menaik turunkan alisnya dengan tatapan lurus ke arah paha terdalam Byan.


"Ikh dasar mesum!" Byan memukul kepala Brian dengan bantal. Tawa Brian malah semakin menjadi karena melihat wajah istrinya yang sudah memerah padam.


.


.


.


To Be Continued.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentar nya Guys.


🔥🔥🔥


__ADS_2