
"Kamu abis kecebur got Agnes?"
Agnes mendelik namun tidak berani mengucapkan apapun. Dia menaruh milk shake baru di meja kerja Byan lalu berbalik hendak pergi dari ruangan itu.
"Tunggu!"
Agnes memejamkan mata. Apa belum cukup Byan menyiksanya. Kenapa hari ini dia sangat sial. Dia sudah cukup lelah pura-pura baik di depan Byan. Di tambah lagi dia malah ketiban sial karena terserempet motor.
"Ada apa Bu?"
Agnes berbicara dengan suara sedikit tercekat di tenggorokan karena berusaha menahan tangis yang sudah sangat ingin menyeruak keluar.
"Jangan pergi dalam keadaan seperti ini. Kau adalah seorang wanita. Jangan membiarkan orang lain menatap remeh dirimu karena penampilan mu."
Byan memakaikan outer miliknya di bahu Agnes supaya wanita itu tidak terlihat lebih buruk.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu. Tapi ingat satu hal, jangan biarkan siapapun menginjak-injak harga dirimu. Aku tahu kau sangat membutuhkan pekerjaan ini. Kau punya kemampuan Agnes. Kau cantik. Jangan karena aku atasan mu di sini, kau bisa menerima sikap ku yang semena-mena. Aku tidak akan minta maaf. Aku anggap kita impas. Aku harap mulai sekarang kita bisa jadi partner yang baik."
Byan tersenyum. Tangannya terulur di depan Agnes. Orang yang di ajak bicara malah tertegun. Menatap Byan lekat dengan mata berkaca-kaca. Semakin melihat senyum Byan, Agnes malah semakin terluka. Segala bayangan di masa lalu saat Agnes masih suka berbuat tidak baik kepada Byan mulai bermunculan. Hatinya memanas. Sungguh, dia sangat menyesal. Agnes di buta kan rasa iri yang teramat sangat kepada Byan hingga dia terus berpikir bahwa Byan ini adalah orang paling buruk di dunia.
"Heum, kau tidak ingin menjadi partnerku Agnes?"
Agnes menggeleng. Namun detik berikutnya dia mengangguk. "Maafkan aku Byan. Aku tahu aku telah salah menilai mu selama ini. Maafkan aku."
Agnes membungkuk dalam meminta pengampunan dari Byan. Kembali, Byan mengulas senyum.
"Aku sudah memaafkan mu Agnes. Bukan untuk dirimu. Namun untuk diriku sendiri."
Byan menepuk pundak Agnes beberapa kali. Tak lama setelah itu, Byan menekan tombol telepon yang ada di meja kerjanya.
"Om Dito! Tolong antar Agnes pulang ya! Tunggu Agnes di depan perusahaan."
Agnes mengusap air matanya kasar. "Terima kasih By. Aku sangat senang bisa bekerja sama dengan orang baik sepertimu."
"Hmmmm ... aku harap kita bisa berteman baik mulai sekarang."
...----------------...
Sudah beberapa Minggu sejak proyek Byan di mulai. Byan mulai semakin sibuk hingga terkadang dia lebih sibuk dari CEO di perusahaan itu sendiri. Brian mengingatkan Byan kalau dia akan marah jika Byan sampai sakit, namun ternyata Byan tidak mendengarkan. Bahkan di saat makan siang saja Brian harus pura-pura memanggil Byan ke ruangannya hanya untuk sekedar membuat Byan makan siang.
"By. Aku gak suka kamu sibuk kayak gini. Lebih baik kamu jadi pengangguran aja. Aku sanggup menghidupi mu. Kenapa harus bekerja keras seperti ini?"
__ADS_1
Brian terus mengoceh namun dia juga masih telaten menyuapi Byan makan siangnya. Sesekali dia menyeka sisa makanan di sudut bibir istrinya.
Byan mengangguk kan kepala. "Ini bukan tentang uang Om sayang. Ini itu tentang cita-cita dan hobi. Byan membuat produk ini khusus untuk mu. Om tahu gak, sekarang itu udah jamannya cowok juga pake skin care dan perawatan wajah yang lain. Byan membuat series ini khusus untuk Om. Jadi kalau sampai ada hambatan, Byan akan sangat sedih."
Brian menyunggingkan senyum. Sekali dia mengecup pipi istrinya. Brian tidak menyangka jika sang istri ingin memberikannya sebuah produk hasil kerjanya sendiri juga dirinyalah alasan Byan ingin mengerjakan proyek ini.
"Ya sudah, setelah makanan ini habis, kita nyari angin di rooftop sebentar ya. Kamu itu kecapean By. Wajah kamu pucet kayak gitu. Atau kita ke rumah sakit saja sebentar. Minta suplemen sama dokter ya?"
"No. Big No. Byan baik-baik aja. Aaaaaa!"
Byan membuka mulutnya lebar-lebar karena tidak ingin Brian marah dan malah dia yang di seret untuk bertemu dokter.
Sepuluh menit kemudian. Makan siang Byan habis. Brian dengan sigap memberikan air minum untuk sang istri.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk!" Sahut Brian.
"Ada apa Dito?"
Dito membungkuk sedikit lalu mulai berbicara. "Itu Tuan Muda, ada klien dari Vietnam. Kita memang sudah membuat janji sejak seminggu yang lalu."
Brian mengangguk mengerti. Sebelum menjawab Dito, Brian melirik sang istri yang masih fokus menatap layar laptop nya.
"Aku ada meeting sebentar. Aku janji tidak akan lama. Istirahat sebentar. Jika bisa, tidur siang dulu!"
Brian mengecup kening Byan sekilas. Byan tersenyum, membalas mengecup bibir Brian dan memberikan kedipan khasnya untuk sang suami.
"Byan tunggu ya Om. Maaf Byan malah sibuk sendiri."
"Enggak papa. Aku mengerti."
...----------------...
Ting!
Byan melirik layar ponselnya.
"Dia?"
Byan bergumam dengan kening berkerut. Segera dia mengambil ponselnya lalu membaca pesan yang dia terima.
__ADS_1
"Maaf hadiahnya terlambat. Mobilnya sudah aku antar ke tempat kerjamu."
Byan tersenyum sinis. Segera dia menutup laptopnya. Byan tidak memperdulikan semua barang-barang nya. Dia bahkan meninggalkan ponselnya di atas meja.
"Bajingan itu," sarkas Byan melenggang pergi menuju lobby perusahaan.
"Kau orang yang di tugaskan dia untuk mengantar mobil kan ...."
Tidak menunggu lama, Byan langsung menyambar kunci mobil itu dari tangan seorang pria yang dia yakini adalah orang kepercayaan orang biadab itu.
"Byan!"
Agnes mematung tat kala dia melihat Byan berjalan dengan tergesa menuju sebuah mobil sedan hitam yang masih sangat mengkilap.
"Bu Byan! Tidak, Byan tunggu!!!!"
Agnes kembali berteriak. Dia berlari hendak menemui Byan namun dia ternyata kalah cepat dengan gadis itu.
"Ishhhh, tidak di angkat," ucap Agnes mencoba untuk menghubungi Byan beberapa kali. Agnes harap Byan tidak apa-apa. Dia melihat sesuatu yang tidak biasa dari wajah atasannya itu. Byan adalah orang yang sangat ceria. Namun tadi, Agnes melihat aura gelap dari wajah cantik bosnya.
"Aku harus bertanya pada Dito."
Agnes kembali berlari untuk mencari assisten pribadi suami Byan. Namun setelah beberapa kali berkeliling, dia tidak menemukan Dito di manapun.
"Apa hari ini Tuan Brian ada meeting?"
Agnes bertanya pada seorang karyawan yang bertugas untuk mencatat semua agenda Brian yang diberikan oleh Dito.
"Hari ini ada meeting dengan klien dari Vietnam. Baru di mulai 30 menit yang lalu."
"Eisshhhh. Pantas saja dia tidak menjawab telepon dariku." Tapi kenapa? Biasanya hanya Brian yang tidak bisa di hubungi. Kenapa Dito juga harus bersikap seperti ini.
"Duarrrrrrrr!"
"Astaghfirullah."
Refleks Agnes menutup telinga sembari menunduk. Suara petir itu benar-benar sangat keras. Dia berlari menuju dinding kaca di ruangan itu. Langit mendadak mendung. Sabaran kilat itu semakin mejadi. Agnes malah semakin khawatir kepada Byan. Kenapa harus dia yang melihat Byan pergi dalam keadaan seperti itu.
"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?"
Brakkkkk!
__ADS_1
To Be Continued.
Jangan lupa like dan Komentarnya ya Guys. Besok up lagi insyaallah. Jangan lupa bahagia. See you. 🤗🤗🤗😘