Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Lengkingan


__ADS_3

Seperti janji Byan sebelumnya, hari ini Navisa dan Anandita datang ke rumah keluarga Nugroho. Mereka berdua langsung terperangah ketika pertama kali masuk melewati gerbang yang menjulang tinggi. Halaman rumahnya sangat luas, apalagi di samping rumah itu terdapat garasi mobil yang lebih terlihat seperti showroom mobil mewah.


"Lo yakin kita gak salah tempat Nav?" Anandita yang baru keluar dari mobil menatap Navisa dengan wajah tidak percayanya.


"Aku gak tahu, emang ini kok alamat yang Byan kasih. Lagipula paman itu membukakan pintu untuk kita setelah kita bilang kalau kita ini temanya Byan, berarti bener dong kalau ini rumah keluarga kerabatnya."


Anandita mengangguk. Dia kembali memperhatikan seluruh area rumah itu. Anandita sungguh di buat heran, ruamhnya sudah cukup besar, dan ini malah 10 kali lebih besar dari rumahnya.


"Dita! Navisa!"


Lengkingan suara Byan yang berasal dari arah rumah membuat Navisa dan Anandita menoleh. Mereka berdua berlari menghampiri Byan lalu memeluk gadis itu seperti sebuah kebiasaan yang selalu mereka lakukan.


"Akhirnya kalian datang juga. Kenapa gak langsung masuk, aku udah bilang sama orang rumah kalau kalian mau dateng."


Navisa dan Anandita tersenyum. Mereka berdua menurut saat Byan menuntun mereka masuk ke dalam rumah. Lagi-lagi Anandita dan Navisa di buat terperangah melihat interior rumah yang sangat mewah itu. Semua barang yang ada di dalamnya pun adalah barang-barang yang baru kali ini mereka lihat.


"Ayo, aku kenalin kalian sama Ibu, kalian pasti seneng ketemu dia. Dia itu baik banget lho."


Byan kembali menggiring dua sahabatnya masuk ke ruang keluarga. Di sana, Anjani sedang duduk sembari membaca majalah edisi terbaru di bulan itu.


"Ibu! Ini temen-temen Byan, mereka hari ini main di sini ya!"


Anjani berdiri menghampiri ketiga gadis itu. Navisa dan Anandita mengulurkan tangan mereka untuk menyalami Anjani. Wanita paruh baya itu tersenyum. "Kalian mainlah yang betah di sini, anggap ini rumah sendiri."

__ADS_1


"Boncel!"


"Boncel kemari sebentar!"


Byan mendesah ketika mendengar suara suaminya berteriak. Ini bukan hutan, kenapa dia harus berteriak seperti itu, membuat Byan dongkol saja.


"Ibu, maaf, temani mereka sebentar ya, Byan ke atas dulu. Byan janji gak lama."


Byan mendorong Navisa dan Anandita untuk duduk di sofa. Setelah itu dia berlari menaiki anak tangga dan masuk ke kamarnya.


"Om, kenapa harus teriak-teriak, kan ini bukan di hutan. Di bawah juga ada Navisa dan Anandita. Malu tahu."


Brian tidak perduli. Dia menarik tangan Byan lalu mendekap tubuh gadis itu. Byan mengerutkan keningnya bingung. "Ada apa?" tanya Byan kepada suaminya.


Byan mendorong tubuh Brian dengan kedua tangan mungilnya. "Kenapa mendadak? Om gak sedang bohong kan?"


Brian menggelengkan kepalanya. "Sebenarnya ini tugas Ayah, tapi kan Ayah baru saja pulang dari perjalanan bisnis. Aku gak tega."


Byan mengangguk. Dia kembali menarik pinggang suaminya. "Ya sudah, kalau begitu hati-hati ya, maaf Byan gak bisa bantu Om beres-beres. Kasihan Anandita dan Navisa. Byan ke bawah lagi ya!"


Cup!


Byan mengecup bibir suaminya sekilas lalu berlari keluar dari kamar. Dia berjalan dengan riang meninggalkan Brian yang mematung di tempatnya.

__ADS_1


"Hanya seperti itu, aku pikir dia akan menangis dan menahan ku untuk tidak pergi."


Brian mengidikan bahunya lesu. Dia berjalan ke walk in closed untuk merapikan barang nya. Lagian kenapa dia harus tiba-tiba pergi ke Bali. Mana seminggu lagi, lama banget kan itu. Brian pasti akan merindukan gadis ingusan itu.


****


Byan yang tadi turun dengan wajah berbinar langsung menghilangkan senyuman di wajahnya. Dia menatap Anandita dan Navisa dengan tatapan yang Aneh. Sangat Aneh. Bahkan Anjani juga menatap Byan sembari tersenyum tidak biasa.


"Kenapa?" tanya Byan sembari duduk di sofa di sebelah Anandita Navisa.


Anandita dan Navisa semakin memincingkan mata mereka. Namun, detik berikutnya, suara lengkingan keras terdengar di rumah itu.


Byan dan Anjani refleks menutup telinga. Bahkan Aldi dan Bima yang sedang tidur langsung melompat dan melihat keadaan di lantai bawah dari pagar pembatas. Mereka kembali masuk ke kamar mereka masing-masing saat melihat Anandita dan Navisa.


"Ganggu tidur orang aja." Gerutu Bima dan Aldi.


"Byan kamu!"


Anandita dan Navisa membekap mulut mereka sembari menunjuk wajah Byan.


"Apa?"


To Be Continued.

__ADS_1


__ADS_2