Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
I Miss You


__ADS_3

Lagi dan lagi Byan bersama teman-temannya kena hukuman. Kali ini bukan karena mereka berkelahi, namun Byan, Anandita dan Navisa telat datang ke sekolah karena mereka sibuk maraton drama sampai tengah malam. Sebenarnya hari pertama kedua dan ketiga selama Brian pergi, Byan di temani oleh Anjani, namun karena Anjani harus pergi ke luar kota, Anjani menyuruh Byan untuk mengajak Anandita dan Navisa menginap di tempat mereka.


Byan menyenggol tubuh Anandita. Mereka duduk bertumpu pada kaki yang mereka lipat sembari mengangkat kedua tangan. Pagi ini seharusnya mereka sedang ada kelas dengan Pak Darwis. Namun guru Killer itu tidak membiarkan mereka masuk hanya karena mereka terlambat 10 menit.


"Jangan senggol-senggol Gue By, gue lagi gak napsu ini. Males banget pagi-pagi udah di hukum kayak gini. Mana belum sarapan."


Navisa tersenyum. Dia merogoh sesuatu dari dalam saku seragam yang dia kenakan.


Srakkkk!


Bungkusan biskuit itu terbuka. Navisa memotong biskuit bulat itu menjadi 2 bagian, satu bagian dia masukan ke mulut Byan, lalu dia memotong bagian yang lain dan memasukannya ke mulut Anandita dan mulutnya sendri. Mereka terkekeh sembari celingukan karena takut Pak Darwis melihat kelakuan mereka.


"Nah kalau kayak gini Gue suka," ucap Anandita menyenggol bahu Navisa.


****


Jam pelajaran lain sudah berbunyi. Itu artinya Pak Darwis sudah selesai mengajar dan mereka bisa kembali ke kelas. Ketiga orang itu berpegangan untuk bangun. Namun karena kaki mereka keram, mereka kembali terduduk, kepala mereka berbenturan membuat Byan oleng terjengkang ke belakang.


"Ngapain?"


Byan menoleh untuk melihat siapa yang membantu menahan punggungnya agar dia tidak jatuh. "Aldi!" gumam Byan. Aldi menarik tangan Byan membatu gadis itu untuk berdiri.


"Di hukum lagi?"

__ADS_1


Byan mengangguk. "Kamu sih gak bangunin aku. Malah ninggalin."


"Lha. Aku gak tahu, lagian kenapa kalian tidur di ruang karaoke, aku pikir kalian sudah berangkat lebih dulu. Kalian kan biasanya rajin banget."


Byan mendengus. Dia menarik tangan Anandita lalu memukul bahu Aldi. "Aku ke kelas dulu. Nanti sore nebeng ya, Anandita sama Navisa mau balik ke rumah mereka dulu ngambil baju."


****


Byan duduk di bangkunya, mengambil botol jus strawberry yang tadi di buatkan oleh Mbok Jum lalu meminumnya. Setelah itu dia memberikan jus itu pada Anandita juga Navisa. Tangannya gatal ingin melihat ponsel yang sejak semalam dia matikan. Dia lupa belum menghidupkan ponselnya karena semalam Byan tidak ingin acara nontonnya di ganggu.


Begitu ponselnya hidup. Sebuah panggilan masuk.


"Assalamualaikum, ada apa Om?"


Byan menjauhkan ponsel itu dari telinganya lalu menetap ponsel itu kesal.


"Om, Byan semalam maraton drama sama temen-temen Byan, tadi pagi Byan telat bangun dan sampai di sekolah langsung di hukum. Untung ada Navisa sama Anandita. Jadi Byan gak di hukum sendirian. Om tahu, kaki Byan sakit."


Mendengar suara manja nan sedih istrinya membuat Brian tidak tega. Salahkan ayahnya yang memberikan proyek mendadak seperti ini, Brian jadi tidak bisa mengawasi istrinya dari dekat.


"Sekarang sudah baik-baik saja? Sudah beli sarapan belum? Suruh Aldi belikan kamu makanan. Jangan sampai kamu sakit. Mbok Jum bilang dia memberikan kamu jus strawberry. Sudah di minum?"


"Heum sudah, Byan makan nanti siang aja. Sudah di kasih biskuit sama Navisa. Om kapan pulang? Byan kangen. Lusa Byan ada pertandingan yang sama Kak Bima itu. Om mau nonton gak?"

__ADS_1


Brian tersenyum. Dia melonggarkan dasi yang mencekik lehernya lalu sedikit memijat lehernya kikiuk. Mendengar Byan merindukannya, Brian semakin ingin pulang dan langsung menemui istri kecilnya. Hatinya meronta-ronta meminta dia untuk segera kembali. Namun, kewajiban dan tanggungjawab nya dalam pekerjaan belum selesai.


"Aku usahakan pulang saat kau mengikuti pertandingan itu. Tapi tidak janji, pekerjaan di sini masih banyak.


"Tuan!"


Brian menoleh lalu menaruh telunjuknya di atas bibir.


"Aku akan menghubungimu lagi nanti. Jangan lupa makan. Jaga diri baik-baik, dan jangan sampai di hukum lagi."


"Om juga hati-hati. Miss You Om Brian. Cepet pulang ya! Assalamualaikum."


"Eumm. Waalaikumsalam."


Brian menutup ponselnya dengan senyum yang merekah. Dito yang melihat itupun ikut tersenyum. Virus jatuh cinta ini memang selalu membuat orang yang berada di antara orang yang terkena virus itu ikut terdampak.


"Ada apa Dito?"


"Akh, anu Tuan Muda, klien sudah menunggu di bawah. Kita bisa pergi sekarang?"


To Be Continued.


Like sama komentarnya jangan lupa. Yang Semar mesem sendiri jangan ngumpet oy... 🤣🤣🤗🤗🤗🤗♥️♥️♥️🏇🏇🏇🏇🏇

__ADS_1


__ADS_2