
"Kau sangat cantik hari ini Sayang, aku menginginkan mu!" Bisik Brian dengan suara serak dan berat. Napasnya memburu. Pagi ini, dia benar-benar sudah kehilangan akal karena melihat kecantikan Byan yang membuatnya tergoda.
"Tapi Om!"
Belum sempat menjawab, bibir Brian sudah lebih dulu menjila ti dan meng hi sap pelan lehernya. Dengan gerakan pelan, tangan besar itu sudah beberapa kali meremas balon air yang dia rasa agak lebih penuh hari ini.
"Om, Byan ... Byan sedang datang bulan!"
Satu kalimat dari Byan langsung menghentikan libido Brian. Laki-laki itu menurunkan tangan juga bahu nya lemas. Kenapa dia bisa sampai lupa, pantas saja tubuh gadis ini terlihat lebih berisi dari biasanya. Ternyata ....
"Aku hilang kendali lagi By!"
Brian menyandarkan dagunya di bahu Byan. Menarik zipper rok gadis itu, lalu menarik kepalanya agar dia bisa menatap sang istri.
"Kau sangat cantik!" pujinya sembari mengusap bibir Byan.
Byan tersenyum. "Aku cantik, tapi sayang, aku akan menjadi janda untuk sementara."
Byan turun dari atas meja. Meninggalkan Brian dengan segala kegelisahan juga api yang masih membara. Laki-laki itu menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Memeriksa penampilan nya sekali lagi sebelum dia menyambar tas Byan dan mengikuti gadis itu.
...----------------...
"Kak Bima sudah berangkat Bu?" tanya Byan duduk di meja makan.
"Sudah, hari ini Byan di antar Brian ya. Ibu pergi sama Aldi."
Byan mendengus tidak suka. "Kenapa Om Brian harus ikut Bu? Ibu bisa menjadi wali untuk Byan dan Aldi sekalian."
Anjani tersenyum, menarik kursi di samping Byan lalu duduk. Tangan cekatannya mengoleskan selai coklat di atas roti dan menaruhnya di atas piring sang menantu.
"Kamu masih marah ya sama Brian?"
Byan mengangguk sembari melahap roti yang Anjani siapkan untuknya.
"Dengarkan Ibu Nak, ini semua Brian lakukan demi masa depan kamu. Kamu tahu Brian orang seperti apa! Dia hanya ingin mengamankan posisi mu. Dia tahu, jika di sekitarnya masih banyak wanita hebat yang ingin mengenal Brian lebih. Brian melihat potensi dalam dirimu Nak. Dia tidak ingin masa depan mu sia-sia hanya dengan menjadi istri dari Brian. Kamu punya kemampuan. Brian ingin, kamu sukses sebelum kalian benar-benar mengumumkan pernikahan kalian di khalayak publik. Brian ingin kamu berdiri di sampingnya dengan percaya diri. Dunia tidak seindah yang Byan bayangkan Nak. Ada saatnya di mana orang-orang merendahkan mu karena kau tidak memiliki apapun untuk di banggakan. Mungkin agak belibet Ibu jelasinnya, tapi intinya, Brian ingin Byan menjadi orang yang penuh percaya diri. Bukan karena dukungan dari Brian. Tapi karena dirimu sendiri."
"Dia akan mengerti," ucap Brian ketika sampai di belakang Byan. Kecupan dia daratkan di pucuk kepala Byan.
"Aku mencintaimu, aku akan melindungi mu dengan cara apapun. Namun akan lebih baik jika kau bisa mengamankan posisi mu sendiri."
__ADS_1
Byan mengangguk paham. "Ya sudah, Byan akan pergi. Tapi Byan punya satu syarat."
Brian dan Anjani saling tatap. Semoga gadis ini tidak meminta syarat yang tidak-tidak.
...----------------...
Sesampainya di sekolah, mereka semua duduk di kursi yang sudah pihak panitia penyelenggara siapkan. Byan dan Brian duduk terpisah. Byan duduk di samping Aldi, sementara Brian duduk di sebelah Anjani dalam deret kursi yang berbeda.
"Kau kenapa Aldi? Ambeien?" bisik Byan membuat Aldi membulatkan matanya.
"Jangan sembarangan kalau ngomong. Ini semua gara-gara kamu, Macan Asia itu memukul pantat ku sampai aku tidak bisa duduk dengan nyaman seperti sekarang."
Aldi menatap Anjani sekilas, dia langsung tersenyum ketika Anjani menatapnya dengan senyuman khas yang dia miliki.
"Mungkin kalian itu hanya anak pungut. Atau jangan-jangan aku adalah anak kandung Ibu?"
Byan tiba-tiba saja merasa merinding. Jika itu benar, maka seharusnya dia tidak menikah dengan Brian kan.
"Jangan gila kamu. Mana ada kamu jadi anak Ibu, mirip aja enggak. Tapi ya, kalau di lihat-lihat, kamu itu mirip salah satu model asal Tiongkok. Aku pernah searching di google karena penasaran dengan sesuatu, dan hebatnya, aku menemukan apa yang aku cari. Model itu benar-benar mirip kamu saat dia masih muda By."
Brian memincingkan matanya tidak sengaja mendengar kata model Tiongkok. Dia menggenggam tangannya menunggu respon yang akan Byan tunjukan.
"Hahaha, kau itu lucu Aldi. Mana ada aku mirip model itu. Aku kan mirip Ibu Kirani."
Belum sempat Aldi membuka ponselnya, tiba-tiba sambutan dari atas panggung terdengar.
"Aku akan menunjukkan nya nanti."
Brian bernapas lega untuk sekarang. Semoga Aldi tidak mengungkit masalah itu lagi.
...----------------...
"Selamat ya sayang, Ibu bangga sama kamu. Andai Ayah Nugroho bisa ikut, dia pasti akan sangat bahagia memiliki menantu yang cantik dan cerdas seperti mu."
Byan mengangguk dalam pelukan Anjani. Aldi ikut bahagia mengetahui jika Byan menjadi juara umum di sekolahnya.
"Jangan sentuh dia!" Brian menarik tangan Byan ketika Aldi hendak memeluknya.
"Ikh dasar pelit, kan gak papa meluk doang."
__ADS_1
"Gak boleh, Byan gak boleh di sentuh siapapun kecuali aku," ucap Brian sembari memeluk istrinya erat.
"Ayah boleh dong meluk putri Ayah."
Semua orang menoleh, mereka tersenyum ketika melihat Ayah Nugroho dan keluarga Byan datang untuk melihat wisuda Byan.
"Ayah! Ibu!" Teriak Byan langsung menghambur ke pelukan Ayah dan ibunya.
"Byan lulus dengan nilai terbaik Bu. Byan gak ngecewain kalian."
Kirani dan Adrian saling tatap. Kembali kalimat itu mereka dengar. Apakah ketakutan di tinggalkan Byan sangat besar hingga dia tidak bisa melihat orang yang dia sayangi kecewa.
"Alhamdulillah Nak, Ayah bangga sama kamu. Tapi jangan pernah berpuas diri, tetap belajar dan berusaha melakukan yang terbaik hmm!"
Byan mengangguk dengan senyum di wajahnya.
"Menantu Ayah mau hadiah apa nih dari Ayah?" Nugroho berbicara membuat Byan mengalihkan fokus.
"Byan mau ayah jaga Om Brian saat Byan pergi," bisik gadis itu ketika dia memeluk Nugroho.
"Itu saja?" tanya Nugroho. Byan mengangguk.
"Apa?" tanya Brian tanpa suara.
Nugroho hanya tersenyum enggan untuk mengatakan apa yang Byan minta.
"Wahhhhh selamat Bunny!" Anandita dan Navisa berteriak membuat semua orang terkejut.
"Navisa! Dita!" Byan berseru lalu memeluk kedua sahabatnya.
"Aku bangga sama kamu By," ucap Navisa.
"Ho'Oh. Gue juga bangga sama Lo By, Gue pikir Lo bodoh, tapi ternyata Lo secerdas ini."
Semua orang terlihat bahagia melihat interaksi ketiga gadis di depan mereka. Namun tidak dengan Haris. Sejak hari itu, Anandita yang biasanya selalu meneror dia dengan puluhan pesan dan panggilan setiap harinya, mendadak menghilang. Anandita sudah tidak pernah menghubunginya lagi.
"Lihat, ternyata Byan memang memiliki hubungan dengan keluarga konglomerat itu. Pantas saja dia selalu di istimewa kan di sekolah ini. Mungkin, dia mendapatkan juara umum juga karena dia punya orang dalam."
Aldi menoleh saat mendengar hal yang tidak enak untuk di dengar. Dia berjalan menghampiri sekelompok gadis yang sedang bergosip tidak jelas tentang Byan.
__ADS_1
"Kalau kalian iri bilang saja. Kalian menginginkan piala ini bukan?" Aldi mengacungkan piala Byan di depan wajah para gadis itu. "Mangkanya, banyak-banyak belajar, bukannya melonteh dan berbicara busuk dengan mulut bau taik kalian. Muka kayak adonan bakwan aja sok-sokan ngejulitin orang. Ngaca kenapa? Gak punya kaca di rumah, mau Gue beliin kaca yang gede?"
To Be Continued.