Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Foto Bukti


__ADS_3

"Na, Lo beneran semalem gak denger apa-apa?" Anandita menatap Navisa dengan wajah penuh keheranan. Navisa tentu saja menggeleng. Sebenarnya tadi malam dia sedang melamun memikirkan kemana dia akan pergi kuliah. Jadi wajarlah jika dia tidak fokus pada lingkungan sekitar.


"Emang kamu denger apa sih Dit, kok heboh banget?"


"Sini gue bisikin!"


"What? Gila Lo, masa dedemit bisa ewita, jangan ngadi-ngadi. Ntar di tegur nangis!"


Anandita mendekat ke arah Navisa."Iya ikh, Lo gak percaya sama gue. Btw, semalem Si Bunny gak balik ke kamp kita kan, gue harap dia baik-baik aja sama lakinya."


Navisa lengsung menatap Anandita dengan tatapan tidak biasa. Anandita pun melakukan hal yang sama.


"Binggo!" ucap Anandita yang mengerti maksud tatapan Navisa.


"Kita harus introgasi itu anak kelinci. Bisa-bisanya dia melukai harga diri jomblo. Tapi yang gue gak bisa bayangin, gimana ya cara itu anak kelinci ngadepin Om Brian. Om Brian kan keker banget. Pasti udah berpengalaman juga. Akh jadi mau Gue Na!"


"Hush, nyebut Dit, kamu itu masih kecil. Jangan mikir yang enggak-enggak deh."


"Tapi si Byan juga masih kecil Na. Lo tahu, dia itu masih nob banget kalau urusan kayak gitu, sekalinya dapet pawang beuhhhhh, langsung yang hot Jeletot kayak pentol level +++."


Navisa menggelengkan kepalanya. Memang gak guna ngobrol hal kayak gini sama Dita, dia pasti gak akan bisa berhenti. "Bentar lagi kita nyampe Dit!"


"Heum. Ekh, Gue baru sadar. Kenapa hari ini gak ada acara penutupan? Pasti Anak kelinci itu gak bisa ngapa-ngapain lagi. Aku yakin, ke kamar mandi aja ngesod dia."


"Ikh udah Dit, kamu itu suka kebablasan deh. Diem akh. Gak bisa mikir nih aku?"


"Cieeee. Mikirin Pak Somad ya! Hahahah!"


"Ditaaaaaa!"


****


"Kenapa kita langsung pulang Om? Gak ada acara penutupan atau apa dulu gitu?"


Byan yang ada di samping kemudi menoleh ke arah suaminya yang saat ini sedang menyetir super car yang sudah dia siapkan.


"Kamu sakit By, kita langsung pulang supaya kamu bisa istirahat!"


Wajah Byan memerah mendengar kata sakit yang keluar dari mulut suaminya. Bayangkan betapa malunya Byan mendengar hal itu. Kenapa? Karena bayangan di mana mereka sedang bermain kuda-kudaan terlintas kembali.


"Malu ya?"

__ADS_1


Byan semakin menciut di tanya seperti itu!


"Udah ikh, jangan di bahas terus. Byan malu Om."


Brian tersenyum sembari mengangguk. Satu tangannya dia gunakan untuk mengelus kepa Byan lalu menggenggam tangan itu lembut. Tangan istrinya sangat dingin dan berkeringat. Apakah dia segugup itu?


Satu setengah jam kemudian mereka sampai di depan rumah. Brian keluar lebih dulu, dia membuka pintu penumpang lalu memangku istrinya.


"Om, Byan mau pura-pura tidur. Om jangan kasih tau siapa-siapa ya!"


Gadis itu bergumam sembari memperhatikan sekitar. Brian mengerutkan keningnya bingung.


"Kenapa harus pura-pura tidur?"


"Iya. Soalnya kalau nanti Om di tanya sama Ibu, Om tinggal bilang aja Byan tidur. Jadi Ibu gak akan nanya-nanya lagi. Kalau Om bilang Byan sakit, nanti Ibu malah nanya lagi Byan sakit apa. Om mau jawab apa hayo?"


"Bilang aja kamu kecapean karena kita sudah bermain!"


Bugh!"


"Akh!"


Brian pura-pura kesakitan setelah Byan memukul dadanya. Dia menatap istrinya lalu terkekeh. "Aku tidak akan bilang apa-apa. Ibu tidak akan tahu apapun."


"Byan kenapa Bi? Sakit? Byan gak kecapean kan?"


Brian tersenyum. Dia melihat wajah istrinya sekilas lalu kembali menatap Anjani.


"Byan gak papa Bu. Dia cuma tidur. Bentar lagi juga bangun. Tapi mungkin Byan juga kecapean." Brian mengerutkan keningnya saat jemari istrinya mencubit kulit lehernya sedikit. "Byan sepertinya kurang enak badan Bu."


Anjani mengangguk. "Ya sudah, kamu bawa dia ke atas. Ibu mau buatkan makanan dulu untuk Byan. Nanti Ibu antar ke atas ya!"


****


Tiga puluh menit kemudian, Anjani benar-benar naik ke lantai atas. Di tangannya terdapat sebuah nampan berisi nasi, sup ayam jahe, juga air putih.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk!" Brian menyahut dari dalam.


Anjani masuk. Dia meletakkan nampan di atas meja. Brian berjalan mendekati ranjang untuk mengambil sesuatu. Anjani memincingkan matanya melihat luka yang ada di pundak Brian.

__ADS_1


"By, Byan ke kama?"


"Di kamar mandi Bu!"


"Kamu mau kerja!" Anjani bertanya karena dia melihat Brian sudah mengenakan celana resmi namun dia sama sekali belum mengenakan pakaian.


"Brian tiba-tiba ada meeting Bu!"


Anjani tersenyum. Dia semakin mendekat ke arah Brian lalu berjinjit. Matanya berbinar melihat luka bekas gigitan di bahu anaknya.


"Bi, kamu habis nganu ya sama Byan?"


Brian membulatkan matanya menatap sang ibu heran. Dia menaruh jari telunjuknya di atas bibir sembari melihat ke arah kamar mandi. Senyum Anjani semakin lebar. "Ibu mengerti. Tapi jangan kasar-kasar sama Byan. Dia masih belum ngerti apa-apa Bi!"


Brian mengangguk mengerti.


"Duduk dulu sebentar!"


Brian menurut. Dia duduk di tepian ranjang sembari menatap Anjani heran.


"Berbalik!"


Cklekkkk!


Anjani mengambil foto bekas gigitan dan cakaran Byan di bahu dan di pangkal leher Brian.


"Apa yang ibu lakukan? Kenapa Ibu memotret Brian?"


"Shut, jangan banyak bertanya. Ibu mau kirim ini ke ayah. Ibu mau laporan kalau Brian udah membobol gawang Byan. Kalau kamu mau, nanti Ibu kirimkan juga. Kamu cetak fotonya terus simpen buat kenang-kenangan."


Brian melongo mendengar penuturan ibunya yang sangat absrud itu. Tapi baru saja Anjani ingin menutup pintu kamar, Brian kembali memanggil nya.


"Bu!"


"Iya, nanti Ibu kirim!"


Brian tersenyum. Ibunya memang yang terbaik dalam hal membaca situasi dan maksud orang.


🤣🤣🤣


To Be Continued.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentar nya Guys. 🤗


__ADS_2