Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Pemikiran Aneh


__ADS_3

Brakkkkk!


Semua orang di ruang rapat terkejut tat kala Brian berdiri tiba-tiba saat menerima sebuah panggilan, wajah yang sebelumnya damai kini berubah cemas, pria itu tidak menghiraukan orang-orang yang ada di sana, bahkan Nugroho pun hanya menatapnya penuh keheranan dia melirik Dito dan bertanya.


"Memangnya itu panggilan dari siapa?" tanya Nugroho kepada Dito.


"Dari tuan muda Bima Tuan. Non Byan masuk rumah sakit."


"Astaghfirullah, kenapa gak bilang dari tadi." pekik Nugroho dengan suara tingginya. "Maaf semuanya, rapat kita tunda. Saya harus pergi ke rumah sakit sekarang."


Nugroho berjalan tergesa keluar dari ruangan itu. Dito pun melakukan hal yang sama. Mereka semakin mempercepat langkahnya tat kala Brian sudah masuk ke dalam mobil.


Blam!


Nugroho menarik pintu depan dan langsung menutup nya kencang, sementara Dito, dia sudah duduk di jok belakang.


"Pegangan!" titah Byan kepada orang-orang itu.


Nugroho berpegangan pada sit belt, kedua tangannya menggenggam sit belt itu erat. Dito memejamkan mata saat Brian mulai memacu kendaraannya pada kecepatan di atas rata-rata. Wajah Nugroho pucat pasi, kabar Byan yang masuk rumah sakit saja sudah membuat jantungnya berdegup tak karuan, apalagi di tambah dengan Brian yang membawa mobilnya seperti orang gila. Jika tidak mengingat kekhawatiran anaknya pada sang istri dan bayi-bayinya, Nugroho pasti akan memaki dan meneriaki anak sulungnya itu.


Kitttttttt!


Suara ban yang bergesekan dengan lantai di depan rumah sakit terdengar sangat ngilu, Brian sudah seperti seorang pembalap, ya, kita lupa kalau hobi orang ini memang melakukan balapan, baik itu balap motor maupun balap mobil.


"Tuan, Tuan tidak apa-apa?" Dito membantu Nugroho menopang tubuhnya, Nugroho pasti sangat terkejut, lututnya lemas dan kakinya bergetar. Sungguh malang nasib orang tua baik ini, Brian benar-benar keterlaluan.

__ADS_1


"Tolong bantu saya masuk!"


"Baik Tuan!"


Mereka berjalan agak perlahan karena Nugroho yang sempoyongan. Sedangkan Brian, pria itu sudah melesat pergi menembus kerumunan orang yang hendak berobat juga sedang menunggu keluarnya di sana.


"Ibu!"


Brian berlari di lorong rumah sakit. Anjani yang sedang duduk di kursi tunggu, berdiri. Dia memeluk Brian dan menepuk punggung putra sulungnya lembut.


"Byan bagaimana Bu, Byan kenapa? Apa yang terjadi?"


Anjani menatap Brian sendu, "maafkan Ibu Nak, ini semua salah Ibu, andai Ibu tadi langsung menelpon mu, mungkin Byan tidak akan menahan sakit terlalu lama."


Brian menautkan alisnya. Menahan sakit? Sebenarnya apa yang terjadi, dia hendak masuk ke ruangan yang ada di depan keluarganya namun Anjani menahan tangannya.


Brian ingin kembali menyela, namun saat itu terjadi, tiba-tiba pintu ruangan Byan terbuka dari dalam.


"Dokter, Dokter bagaimana keadaan istri dan anak-anak saya?"


Dokter itu tidak langsung menjawab karena Brian terus mengguncang tubuhnya.


"Kakak tenanglah bagaimana Dokter bisa menjelaskan jika Kakak terus mengguncang nya seperti itu." Bima menarik bahu Brian sedikit menjauh.


Dokter itu merapikan pakaiannya lalu mulai berbicara. "Sebaiknya anda ikut ke ruangan saya!" ucap Dokter itu. Bima melepaskan pegangannya pada bahu Brian. Pria itu menepuk punggung Brian sembari tersenyum menguatkan.

__ADS_1


"Byan kuat, dia akan baik-baik saja!"


Brian pun mengikuti dua orang dokter dan beberapa perawat yang berjalan menjauh dari koridor. Sampai di ruangan dokter, dia masuk ke dalam dan duduk saat sudah di persilahkan.


"Anda tidak perlu khawatir, istri Anda baik-baik saja. Saya dan juga dokter ahli kandungan sudah membuat keputusan untuk masalah yang sedang istri Anda alami. Selama kehamilan, tubuh memproduksi sekitar 50 persen tambahan darah dan cairan untuk memenuhi kebutuhan bayi yang sedang berkembang. Kaki bengkak saat hamil adalah fase normal yang pasti dilalui akibat pertambahan volume darah serta cairan. Bengkak juga dapat terjadi karena berbagai faktor seperti terlalu lama berdiri atau terlalu banyak mengonsumsi garam dan kafein." Anda mengerti maksud saya Tuan?"


Dokter itu kembali melanjutkan kalimatnya setelah melihat anggukkan dari Brian. "Meski terkadang bisa terjadi di tangan, pembengkakan umumnya hanya menyerang kaki dan pergelangannya. Cairan ini cenderung menyatu di tubuh bagian bawah. Kelebihan cairan ini sangat diperlukan untuk melunakkan tubuh saat bayi semakin berkembang. Cairan tambahan ini juga membantu mempersiapkan sendi panggul dan jaringan untuk membuka saat kelahiran. Saya sudah sangat khawatir dan takut jika istri Anda mengalami trombosis vena dalam atau penyumbatan darah di kaki. Namun Anda tidak perlu khawatir, saya sedang melakukan pemeriksaan lab darah untuk istri Anada, dan tadi juga saya sudah melakukan USG Doppler, semuanya baik-baik saja. Hanya untuk lebih jelasnya, sebaiknya Anda konsultasikan ini dengan dokter ahli kandungan yang selama ini memantau kehamilan istri Anda. Saya sarankan, sebaiknya sebelum istri Anda melahirkan, dia harus tetap di rawat di sini agar kami bisa memantau keadaan isti dan calon anak-anak anda. Dia membutuhkan oksigen tambahan karena napasnya agak pendek, ini terjadi karena bayi yang ada di dalam kandungan istri Anda semakin membesar sehingga menekan diafragma istri Anda Tuan."


Brian mengangguk mengerti, dia sudah beberapa kali mempelajari tentang proses kehamilan, perbedaan hamil tunggal, dan hamil kembar, namun karena dia mungkin memang bukan seorang dokter, dia terkadang lupa kondisi apa yang sedang di alami sang istri.


Brian membungkukkan badannya beberapa kali untuk mengucapkan terima kasih. Dia tak langsung menemui dokter kandungan karena Brian sangat ingin menemui istrinya saat ini.


Ketika Brian sampai di depan ruang rawat istrinya, dia langsung masuk tanpa memperdulikan pertanyaan semua anggota keluarganya. Bahkan dia sama sekali tidak menoleh, matanya hanya fokus ke depan. Melihat ke arah ruang rawat sang istri.


Nugroho menenangkan semua orang. "Sudahlah, kita biarkan dia bertemu dengan Byan lebih dulu, setelah dia lebih tenang, kita akan menanyakan kondisi Byan."


Semua orang mengangguk dan kembali duduk di kursi tunggu. Sementara Brian, pria itu sudah masuk ke ruangan Byan, berjalan perlahan sembari menatap istinya yang sedang tidur berbaring dengan mata berkaca-kaca. Kedua lututnya ambruk di samping ranjang sang istri, menggenggam tangan itu lembut lalu membenamkan wajahnya di tepian ranjang sembari memeluk tangan Byan.


"Maafkan aku Baby, maafkan aku, karena aku, kau harus mengalami ini semua. Aku janji, setelah ini aku akan berusaha untuk bersikap lebih baik padamu. Terima kasih, terima kasih karena kau sudah rela menanggung semua ini demi melahirkan penerus untuk keluarga kita. Aku mencintaimu sayang. Tetaplah kuat, aku tidak akan pergi lagi, aku akan tetap berada di sisimu." Brian berucap dengan suara yang lirih, suara yang bisa membuat semua orang merasakan sakit yang Byan rasakan. Bahkan tanpa sadar, buliran kristal jatuh, ikut mendukung suasana hatinya saat ini.


Jika Brian tahu kalau memiliki seorang bayi itu seperti ini, Brian tidak akan membuat Byan mengandung anak-anaknya. Hanya dengan ada Byan saja, Brian akan sangat bahagia. Brian sudah merasa cukup dengan itu.


To Be Continued.


*Kok Author jadi takut Brian bakal benci sama baby twin's ya* 😭

__ADS_1


Sabar dong Brian, ini ujian untuk kalian. Hidup itu gak selamanya indah, kalian gak akan pernah tahu rencana Allah itu seperti apa. Yok semangat yok. Byan kuat kok. Byan pasti kesel banget sama kamu kalau sampai dia tahu kamu punya pemikiran kayak gitu. πŸ₯ΊπŸ₯ΊπŸ₯Ί


Udah dulu ya Guys, ketemu lagi besok. Kita lihat apa yang bakal lelaki bucin ini lakukan. 😏😏😏😏


__ADS_2