
"Pelan-pelan saja!"
Brian menopang tubuh sang istri, memegang pinggangnya dengan kedua tangan dan membiarkan Byan berpijak pada kedua kakinya, sementara Byan, gadis itu berpegangan pada leher sang suami.
"Apa Ammar sama Ameera gak ikut Sayang?"
Brian menggelengkan kepalanya. "Tidak, hari ini mereka libur mengunjungi mu, kau harus mulai terapi, besok aku akan menyuruh mereka ke sini."
Byan menganggukkan kepalanya. Dia sadar, tidak baik bagi anak-anak nya untuk terus bolak-balik rumah sakit, sekarang Byan harus berusaha lebih keras agar dia bisa pulang dan dia yang akan menemui pangeran dan putrinya.
Selama seminggu ini, dia banyak memperhatikan perubahan semua orang, bahkan hal kecil pun tak luput dari pandangan, penampilan semua orang pun sudah berubah, Bima yang dulu sangat kalem dan pendiam kini lebih banyak bicara meskipun hanya dengan anaknya, namun Aldi, Byan belum melihat perubahan apapun dari orang itu. Apakah dia sudah lebih dewasa atau masih tetap seperti dulu.
Rasanya Byan harus kembali mengenal mereka dari awal, meskipun tidak akan sesulit dulu, namun proses ini sangat penting baginya agar dia tidak awkward saat berkumpul dengan mereka.
"Ssshhhhh!"
Byan mendesis ketika merasakan pinggangnya seperti terjepit dan ngilu. Brian buru-buru menyingkir, membantu Byan untuk duduk di kursi tunggu yang ada di lorong.
"Apa masih sakit?" tanya Brian.
"Hmmm. Sakit sekali, rasanya lebih sakit dari saat aku menerima anastesi."
Brian mengusap pinggang istrinya lembut, sesekali dia mengecup sudut bibir istrinya juga mengecup pelipis sang istri yang sudah mengeluarkan buliran keringat. Byan tersenyum, rasa sakitnya sudah sedikit berkurang jika mendapat perlakuan seperti ini dari Brian, tiba-tiba matanya mulai memanas, Byan tidak bisa membayangkan bagaimana kesepian juga putus asanya Brian saat dirinya hanya terbaring tak berdaya.
"Om!"
"Iya Sayang ... kenapa, apa semakin sakit?"
Byan menggelengkan kepalanya. Ia menarik tangan Brian dan menggeser tubuhnya meskipun dengan susah payah. Brian yang melihat itu sedikit ngilu, tangannya sudah terulur hendak membantu istrinya, namun wanita itu mengangkat tangannya menyuruh Brian untuk tidak bergerak.
__ADS_1
Setelah duduk dengan nyaman, Byan menatap Brian dengan tatapan yang dalam, tangannya membelai wajah Brian lembut, Brian menyentuh punggung tangan Byan yang masih menempel di pipinya, menahan tangan itu untuk tidak bergerak dan mulai memejamkan mata.
Jantungnya kembali berdetak tak karuan seolah dia kembali jatuh cinta untuk pertama kalinya. Memang, ini adalah momen yang sangat langka untuknya, dimana mereka bisa deep talk tanpa mendapatkan gangguan dari bocah-bocah kecilnya ataupun dari keluarga dan teman-teman mereka.
"Om, mulai sekarang, bolehkah jika Byan lebih mencintai Om?"
Brian membuka mata mendengar pertanyaan Byan yang agak aneh untuknya. "Kenapa bertanya seperti itu?"
Brian menurunkan tangan Byan ke pangkuannya, menggenggamnya dan mengusapnya dengan tangan yang lain.
Wanita itu hanya tersenyum, dia berusaha untuk mendekat kan wajahnya ke wajah yang suami namun nyatanya terasa sulit. Brian yang peka langsung menunduk. Sebuah kecupan mendarat di bibirnya.
"Selama ini, Om sudah meluapkan cinta yang Om miliki untuk Byan, mulai sekarang, biarkan Byan yang meluapkan segala cinta yang Byan miliki untuk Om. Byan akan belajar untuk menjadi istri yang baik, Byan akan mulai belajar untuk memasak, Byan akan bel ....
Byan langsung terdiam tat kala bibir Brian membungkam bibirnya lembut, awalnya bibir mereka hanya saling menempel, namun semakin lama, saat Byan mulai membuka bibirnya, Brian me ***** bibir itu penuh kehati-hatian, seolah mengerti jika sang istri sedang menjalani masa pemulihan, Brian juga kembali memulai sentuhan nya dari level yang paling dasar. Dia tidak sadar jika perbuatan nya kini malah membangkitkan sesuatu yang sudah lama terpendam dalam diri sang istri.
Tangan nakalnya mulai menelusup di balik baju pasien yang Byan kenakan. Tubuh Byan bergetar hebat menerima sentuhan hangat dari telapak tangan suaminya. Napasnya semakin menderu, Byan semakin gelisah saat tangan suaminya mulai mengusap punggungnya.
"Ekhemmmm!"
Byan refleks membuka matanya, dia mendorong kepala suaminya yang tadi sedang mengecup dan meng hisap lehernya lembut.
"Dokter Mahen!"
Brian menarik kepalanya dan menoleh ke belakang, tangan cekatannya merapikan baju yang istrinya kenakan.
"Jadi ini yang di namakan terapi!" sindir dokter Mahen berdiri di depan Brian dan Byan. Wanita itu gelagapan, dia mengusap bibirnya takut jika ada sisa-sisa saliva yang tersisa. Sementara Brian, dia hanya mengidikan bahunya acuh, memutar tubuhnya agar dia bisa berhadapan dengan pengganggu yang merupakan sahabatnya sendiri.
"Bri, tidak salah jika kalian ingin bermesraan, tapi tunggu sampai Byan keluar dari rumah sakit ini dulu. Kau tahu, tadi ada beberapa perawat yang melihat kalian, untung aku segera menyuruh mereka pergi."
__ADS_1
"Tapi kau juga melihatnya kan?"
Mahen menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Itung-itung belajar lah, nanti kan bisa praktek di rumah."
"Cih, kalau gitu kau sama saja. Lagian aku heran sama kepala rumah sakit ini, aku sudah meminta dia untuk membayar lantai ini selama istriku melakukan pemulihan, namun apa, dia tidak mau menerima permintaan ku. Sok kaya banget."
Byan dan Mahen melotot menatap Brian. Ya Tuhan, satu kamar VVIP saja sudah berapa harga/malam nya, apalagi kalau satu lantai, dia menuduh kepala rumah sakit sok kaya, padahal dia sendiri tidak sadar kalau dia sedang menyombongkan diri.
"Yang sok kayak itu kamu Bro, aku tahu kamu sangat menyayangi istrimu, dia lebih berharga dari sebuah barang limited edition, tapi gak gitu juga kali. Sekalian aja kamu akuisisi rumah sakit ini."
Byan tersenyum mendengar candaan Mahen dan suaminya, melihat Brian mengoceh dengan penuh percaya diri seperti itu membuat Byan sangat bahagia. Memang Brian tidak pernah berniat untuk menyombongkan apapun yang dia punya, tapi jika sudah di pancing, mulutnya lebih lemes dari mulut ibu-ibu sosialita yang membanggakan harta mereka.
"Sudahlah, lain kali akan ku pikirkan, kau sedang apa di sini? Ada pasien penyakit jantung kah?" tanya Brian.
Mahen mengangguk mantap. Dia menghembuskan napas kasar sebelum berbicara. "Ada seorang pasien yang mendadak serangan jantung karena riwayat hipertensi yang dia miliki. Namun aku sangat kasihan, selama di rumah sakit, dia hanya sendiri, berdua dengan asisten pribadinya."
"Dia kaya tapi dia gak punya siapa-siapa. Beruntung lah dia kalau masih punya asisten."
"Heum, kaya raya tidak menjamin kita bahagia, aku bersyukur karena sekarang kau sudah memiliki keluarga. Jika kau masih sama seperti dulu, aku rasa nasib mu tidak akan jauh seperti pria tua itu."
Brian tersenyum, melirik sang istri dan mengecup kening istrinya sekilas. "Bocah ini, bocah ini adalah alasan kenapa aku ingin berubah lebih baik."
"Dokter! ... Dokter! ... Dokter Mahen!"
Seorang perawat berlari ke arah Mahen, Brian dan Byan.
"Dokter, tuan Anthony, Tuan Anthony Konvulsi!"
To Be Continued.
__ADS_1