
Hari ini Byan sekolah sampai malam. Ada beberapa pelajaran yang akan di ikut sertakan di UNBK yang sudah mulai di gempur agar anak-anak di SMA itu mendapatkan nilai yang bagus. Byan sesekali menguap menahan kantuk yang luar biasa. Ketika guru sedang menjelaskan, Byan tanpa sengaja malah ketiduran. Dia benar-benar tidak bisa melawan kantuk yang menyerangnya kala itu.
Anak-anak kelas 10 dan 11 sudah pulang, tinggal kelas 12 yang masih on sampai jam 8 malam. Jangan salahkan Byan jika dia mengantuk. Byan tidak tahu kalau hari ini akan ada tambahan pelajaran sampai malam.
"Byan!" Pak Darwis memanggil. Guru matematika yang terkenal killer itu mendekati meja Byan. Anandita dan Navisa sudah berusaha untuk menyentuh kaki Byan dengan kaki mereka agar gadis itu bangun, namun usaha mereka sia-sia. Byan benar-benar sedang dalam masalah besar.
"Byan Anandita Putri!"
Brakkkkk!
"Hadir Pak!"
Byan langsung bangun sembari mengacungkan tangannya. Semua teman sekelas Byan tertawa melihat Byan terkejut seperti itu.
"Maju ke depan!" Pak Darwis menarik kerah seragam yang Byan kenakan membuat gadis itu tertunduk pasrah seperti seekor kelinci yang akan di sembelih.
"Berdiri di depan kelas sampai Bapak selesai menerangkan materi. Angkat satu kaki kamu dan jewer telinga kamu!"
Byan menghembuskan napas kasar namun dia tetap melakukan itu. Pak Darwis bukan guru yang bisa dia lawan. Jika dia sudah berkehendak maka Byan harus menuruti apa yang Pak Darwis katakan.
"Ya ampun, Pak Darwis ini keterlaluan. Padahal wajar aja kalau Byan ngantuk. Lagipula ini cuma pelajaran tambahan. Lagian sekolah mana yang memberikan tambahan pelajaran sampai malam seperti ini. Gak manusiawi banget."
"Anandita, Bapak bisa mendengar kamu. Sekarang kamu maju!" Pak Darwis menatap Anandita tajam.
"Tapi Pak,-"
"Gak ada tapi-tapi. Maju ke depan atau Bapak kurangi nilai kamu!"
__ADS_1
"Anjir, ngancem aja terus. Guru gendut gak ada akhlak. Pantes aja belum kawin-kawin."
Anandita tetap maju ke depan meski dengan hati yang dongkol. Byan mengulum senyum. Dia menjulurkan lidahnya kepada Anandita namun ternyata Pak Darwis melihat itu.
"Byan, kamu tidak jera ya, kalau begitu, besok pagi serahkan tugas dari halaman 300 sampai 310. Jika salahnya lebih dari 10 nomor, kamu bapak hukum lagi."
Kedua bahu Byan turun lesu. Dia kembali mendesah tapi ya sudahlah, Byan malah kembali melihat Dita dan mereka tersenyum bersama. Kedua orang itu beralih menatap Navisa. "Maaf," ucap Navisa tanpa suara.
Navisa ingin bergabung dengan kedua sahabatnya namun sepertinya itu tidak mungkin. Pak Darwis tidak akan membiarkan Navisa melakukan itu.
****
Jam 9 malam. Byan dan teman-temannya baru pulang sekolah. Byan melambaikan tangan pada Nandita dan Navisa. Dia melihat ke sisi sebelah kiri, dan langsung berlari ketika melihat mobil suaminya.
"Assalamualaikum," ucap Byan sembari membuka pintu mobil dan duduk di samping suaminya.
Brian menoleh. "Kenapa?" Brian bertanya karena melihat wajah istrinya di tekut sampai kusut seperti kanebo kering.
"Huhhhh. Ini semua salah Om Brian. Semalam Byan gak bisa tidur. Tadi Byan malah mengantuk di kelas. Byan tidur dan Pak Darwis menghukum Byan."
Brian mengerutkan keningnya bingung. "Lha, kan kamu yang salah, kenapa nyalahin aku?"
Belum sempat Brian kembali bersuara, telapak tangan Byan sudah berada di depan wajahnya. "Ini, ini semua gara-gara ini," ucap Byan menggoyangkan tangannya. "Gara-gara semalam Byan memegang belut listrik peliharaan Om itu, Byan jadi gak bisa tidur."
Uhukkkk!
Brian terbatuk. Dia menendang jok yang di duduki Dito ketika dia melihat sekertaris nya itu tertawa.
__ADS_1
"Kau bilang apa? Belut listrik?" tanya Brian dengan suara yang tertahan.
Byan mengangguk dengan mantap. "Byan semalam tersengat Om, Om tahu, belut itu ukurannya sangat besar, kenapa gak di jual aja, nanti kalau Om kesetrum gimana?"
Dito semakin kesulitan untuk bernapas karena dia sangat ingin tertawa. Sementara Brian dia memejamkan mata tidak tahu harus berkata apa. "Byan, kalau belut ini aku jual, kamu gak akan bisa bahagia kelak. Ini adalah salah satu surga dunia yang kau miliki. Sekarang belut itu bukan hanya milikku, tapi milik mu juga."
"Lha, kenapa jadi milik Byan, Byan gak mau. Byan takut Om, Om jual saja ya, nanti ganti pelihara yang lain aja."
Brian menarik pinggang Byan lalu mendudukkan gadis itu di atas pangkuannya. Tatapan mereka bertemu. Byan menatap wajah suaminya di bawah sinar lampu yang cukup terang. Brian ini benar-benar sangat tampan. Hidung mancungnya, alis tebalnya, juga bibirnya, Byan merasa jantungnya akan melompat saat itu juga.
Brian menyentuh wajah Byan dengan tangan besarnya. Wajah ini, wajah yang selalu menganggu aktivitas nya, wajah yang tidak pernah bisa hilang dari pikirannya, jantung Brian berdegup sangat kencang melihat bibir mungil itu bergerak seperti meminta untuk di jamah. Brian semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Byan, Brian benar-benar tidak bisa jika tidak mengulum bibir kenyal itu.
Kitttt!
Tepat sebelum bibir mereka bertemu, Brian mendengar decitan ban mobil yang bertemu dengan aspal. Beruntung dia langsung mendekap tubuh Byan, jadi gadis itu tidak tertolak ke depan.
"Kamu ini kenapa Dito?" Brian menggeram dengan suara bas nya.
"Maaf Tuan Muda, tadi ada yang menyebrang. Maafkan saya."
"Sudah jangan marah Om, kasihan Om Dito, nanti dia kurus karena tertekan. Om jangan marah, nanti kita teruskan di kamar ya!" Byan berbisik di telinga Brian. Suara manja yang Brian dengan membuat bibirnya langsung tersenyum. Amarah yang tadi sempat hinggap di hatinya langsung menghilang bagai buih di lautan.
"Astaghfirullah, mereka bisa kan melakukan itu di rumah, kenapa harus melakukannya di depan jomblo seperti ku, ishhhh bikin mengiri saja. Sabar ya Mikky, kamu pasti akan segera mendapat pawang!" Dito berbicara dalam hati. Sesekali dia melirik bagian intinya yang sudah sangat nyeri.
To Be Continued.
🔥🔥🔥🔥🔥 Mana like dan komentarnya Bestie. Author butuh penyemangat ini.
__ADS_1
🧠🧠🧠🧠🧠🏇