Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Byan Nakal Lagi


__ADS_3

Satu Minggu kemudian, di sebuah rumah mewah di kota itu. Sepasang suami istri masuk ke dalam rumah dengan tangan yang saling merangkul pinggang satu sama lain.


"Assalamualaikum," ucap Byan dan Brian bersamaan. Mereka berdua saling tatap lalu kembali fokus pada keadaan di rumah itu.


"Kok sepi Om. Pada ke mana ya?"


Brian menggelengkan kepala. Mana mungkin dia tahu, bukankah mereka berdua sama-sama baru sampai.


"Bima, naik atau ibu pukul pake sepatu!"


Byan dan Brian saling tatap kembali. Mereka berjalan menuju area kolam renang karena nyatanya dari sana asal sumber suara nyaring milik Anjani.


"Ibu!" Lagi-lagi sepasang suami istri itu berbicara bersamaan.


"Lha, kalian udah pulang, kenapa gak ngabarin Ibu dulu?"


Anjani menghampiri anak juga menantunya.


"Kita sengaja gak ngasih tahu Ibu. Kita pengen ngasih kejutan. Tapi ternyata kalian sedang sibuk. Sepertinya kalian sangat bahagia saat Byan gak ada."


Byan memasang wajah cemberut seolah-olah dia sedang sedih dan kesal. Padahal, dia hanya bercanda karena Anjani tadi tidak menjawab salamnya.


Anjani kembali memeluk Byan. "Mana mungkin Ibu gak kangen Sayang. Ibu selalu merindukan mu."


"Kalian sedang apa di sini?" Tanya Brian merasa heran ketika melihat semua orang ada di tepian kolam renang.


"Itu lah si Bima, dia dari pagi berenang sampe siang kayak gini belum mau naik. Alamat orang patah hati bikin kepala Ibu pusing."


Byan mengerutkan keningnya saat mendengar kata patah hati. Bima patah hati, kenapa, apa selama ini dia sudah memiliki kekasih? Setahu Byan kan belum.


"Kak Bima patah hati kenapa Ibu?"


"Itu, si Cole pulang ke Prancis Minggu lalu. Dia galau sampai hari ini. Kan nyebelin. Kalau dia sakit siapa yang repot, Ibu juga kan."


Byan dan Brian menganggukkan kepalanya. Byan tersenyum lalu berjalan ke tepian kolam renang. Tidak lupa, dia melepas heels yang tadi dia kenakan lalu duduk di tepian kolam.


"Kak Bima! Kak Bima ...." Byan memanggil Bima dengan suara yang merdu.


"Kak, Byan tahu bagaimana perasaan Kakak. Byan mau nyumbang lagu boleh gak nih?" Gadis itu berbicara sembari menggoyangkan kaki yang ada di dalam air.


Bima tidak merespon. Dia malah terus berenang seperti orang ke setanan. Jangankan di rayu Byan. Di rayu Nugroho, Aldi dan Anjani saja dia tidak mau. Hingga ... alunan suara Byan mulai terdengar.


"Aku untuk kamu. Kamu untuk aku, namun semua apa mungkin iman kita yang berbeda. Tuhan memang satu. Kita yang tak sama ... haruskah aku lantas pergi meski cinta takan bisa pergi ...."


Byan memberikan isyarat kepada semua orang untuk berdiri di tepian kolam renang dan menjadi suara dua untuknya. Gadis itu tersenyum, karena Anjani, Aldi dan Nugroho melakukan apa yang dia minta. Mereka benar-benar berjejer di tepian kolam sambil bernyanyi dan menggoyangkan tubuh mereka seperti paduan suara. Sementara Brian, dia menunggu di tempat tadi. Sesekali kepalanya menggeleng merasa heran dengan tingkah konyol keluarga nya.


"Aku untuk kamu. Kamu untuk aku. Namun semua apa mungkin, iman kita yang berbeda. Tuhan memang satu. Kita yang tak sama haruskah aku lantas pergi meski cinta takan bisa pergi ...."

__ADS_1


Peri cintaku: Ziva Mangnolya.


Bima menghentikan aktivitasnya melihat kegilaan orang-orang itu. Dia ingin marah namun dia juga sangat ingin tertawa. Apa yang harus dia lakukan. Bukannya ingin keluar dari kolam renang, dia malah ingin semakin menenggelamkan dirinya.


"Diam!"


Bima berteriak hingga semua orang kini terdiam. Dia berjalan ke tepian kolam, mendekati Byan, tersenyum lalu menarik pinggang gadis itu hingga mereka berdua tenggelam di dasar kolam renang.


"Byan!"


.


.


.


Byurrrrrrr!


Brian melompat ke dalam air. Bahkan handphone yang sedang Brian pegang melayang entah kemana. Kitiga paduan suara tadi hanya menonton sambil berdecak pinggang.


"Game over!"


Ujar Aldi memilih untuk meninggalkan kolam renang.


"Si Bima yang habis Bu. Kita masuk aja yuk!"


Nugroho merangkul Anjani, meninggalkan ketiga orang yang sedang bergulat di bawah air.


Byan bernapas dengan susah payah saat Brian mengangkat tubuhnya ke tepian kolam.


"Cih, gitu aja kalah. Mangkanya. Jangan kebanyakan nunggang kuda!"


Bima menatap Byan dan Brian sambil menahan senyum. Kenapa juga gadis itu tidak melawan. Dia tahu kalau Byan bisa berenang. Namun, kenapa tadi dia diam saja.


"Bima kau!"


Brian mendekati Bima, menyentuh pundak adiknya lalu tersenyum menyeringai dan memasukan kepala Bima ke dalam air. Satu kali, dua kali, tiga kali. Brian masih enggan untuk melepaskan Bima, padahal, adiknya itu sudah sangat kelelahan.


"Kak Amm ... pun."


Bukubukbulubuk.


"Aku salah ... Am ... pu ... ni ... a ... ku Kak."


Bukubukbulubuk.


Brian mendengus. Dia menyeret Bima ketepian hingga Bima bisa meraih pinggiran kolam.

__ADS_1


"Lain kali jangan main-main dengan istriku Bima."


Byan tersenyum. Senyumnya semakin lebar tat kala Brian memangku tubuhnya. Gadis itu mengintip Bima dari balik bahu suaminya. Menjulurkan lidah sambil mengacungkan jari tengah pada Bima.


"Astaga Byan. Kamu benar-benar keterlaluan."


Bima meninju air beberapa kali. Sedangkan Byan gadis itu kembali pura-pura lemah di gendongan suaminya.


****


Saat makan malam, hanya denting sendok dan garpu yang terdengar. Semua orang diam tidak berani bersuara. Brian saat ini masih mengeluarkan tanduknya karena sangat kesal kepada Bima. Dia tahu kalau Bima hanya bercanda. Tapi bagi Brian, bercanda Bima tidak lucu. Dia merasa jika dia sudah sangat melindungi Byan. Namun kenapa Bima malah melakukan hal seperti itu.


"Shuttt!"


Brian menendang kaki Bima. Pria itu mendongak, mengatakan apa namun tanpa suara.


"Itu!"


Byan menunjuk Brian dengan dagunya. Bima mendesah pelan. Dia tahu apa yang Byan maksud. Kakaknya ini memang banteng pemarah. Byan saja tidak apa-apa kenapa harus bersikap berlebihan seperti itu. Gadis ini benar-benar bisa mengacau juga bisa membuat orang takluk.


"Kak!"


Bima bersuara. Namun Brian masih diam.


"Kak Brian, maaf, Bima gak bermaksud seperti itu. Bima hanya bercanda. Byan juga gak papa."


Brian menatap Bima tajam. Jujur saja, dia sangat ingin melahap Bima hidup-hidup jika pria itu bukan adiknya. Tapi mau bagaimana lagi. Mereka masih memiliki darah yang sama.


"Aku tidak memaafkan mu Bima. Tapi ingat satu hal, jika kau melakukan hal berbahaya seperti itu lagi, aku tidak akan segan-segan untuk membalas berpuluh-puluh kali lipat."


Bima mengangguk mengerti. Byan kembali menendang kaki Bima yang ada di bawah meja hingga laki-laki itu melotot ke arahnya.


"Brian. Mulai besok, akan ada produk owner baru di perusahaan kita. Kamu siapkan rapat pagi-pagi. Ayah gak mau ada yang kurang. Untuk menyambut orang baru itu, kita harus mempersiapkan yang terbaik."


"Baik Ayah."


To Be Continued.


.


.


.


Hayoloh. Siapakah kira-kira produk owner ini? Apakah akan ada konflik baru atau justru sebaliknya?


Tunggu nanti siang ya Guys. Semangat menunggu. Dan semangat ngetik untuk aku. 😂😂😂

__ADS_1


Jangan lupa like dan komennya. Kali-kali bagi kemenyan sama kembang boleh lah. 🤣🤣🤣🙏


🔥🔥🔥


__ADS_2