Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Pergi???


__ADS_3

Brakkkkk!


Brian yang tadi pagi kembali terlelap langsung terperanjat kaget saat mendengar pintu kamar mandi di banting nya kasar oleh sang istri.


"Sayang, ada apa?"


Byan buakan nya menjawab malah sibuk memakai baju dan juga merapikan rambutnya. Dia kembali berlarian ke sana kemari entah mencari apa.


"Sayang kau sedang mencari apa?" tanya Brian.


"Kunci mobil, kunci mobilnya di mana!" ucap Byan dengan suara yang lirih. Brian mengerutkan kening, dia semakin bingung dengan sikap Byan, bahkan wanita itu malah semakin sibuk membuka laci dan juga lemari yang ada di kamar hotel.


"Sayang ...."


Brian memeluk Byan, mendekapnya dari belakang dengan dekapan hangat nan menenangkan. Akhirnya Byan bisa diam, dia tidak bergerak gelisah seperti tadi. Namun, Brian malah merasakan tubuh sang istri semakin bergetar. Brian memutar tubuh itu perlahan, memeluk istrinya dan berusaha untuk menenangkannya.


"Baby, ada apa. Kenapa kau seperti ini? Apa ada yang membuat mu khawatir?"


"Dokter Mahen, Dokter Mahen tadi menghubungi mu. Aku mengangkatnya karena Om masih tidur. Tapi, saat aku menjawabnya, dokter Mahen mengatakan jika Anthony semakin kritis. Dokter Mahen bilang harapannya sudah tidak ada lagi."


Brian memejamkan matanya berusaha untuk mengerti dengan perasaan sang istri saat ini. "Ya sudah, kita ke rumah sakit sekarang. Kau duduk dulu sebentar, aku ke kamar mandi sebentar ya!" Brian menuntun Byan dan mendudukkan istrinya di pinggiran ranjang. Setelah mengecup kening Byan sekilas dan memastikan jika sang istri baik-baik saja. Brian pun pergi ke kamar mandi.


****


"Apa tidak ada cara lain untuk menyelamatkannya dokter Mahen? Dia masih banyak dosa sama Byan, dia gak boleh mati gitu aja. Byan gak rela kalau dia mati secepat ini."

__ADS_1


Mahen menghembuskan napas kasar. Mahen melirik Brian sekilas, dan saat Brian menganggukkan kepalanya, Mahen mulai kembali berbicara. "Sebaiknya kau temui dia dulu. Setelah itu, kita akan berbicara lagi nanti."


Byan yang sedang menempelkan tangannya di kaca ruang ICU Anthony langsung berbalik.


"Om, Om telpon Ibu, bilang sama Ibu untuk membawa Ameera dan Ammar ke sini sekarang juga. Jangan lama-lama!"


Brian kembali mengangguk, dia tidak memiliki alasan untuk menolak keinginan sang istri. Lagipula Anthony mungkin memang ingin bertemu dengan cucu-cucunya.


"Kau masuklah dulu! Aku akan menghubungi ibu."


Byan mengikuti dokter Mahen untuk memakai jubah steril lebih dulu. Setelah semuanya siap, Byan masuk ke ruang ICU dengan langkah yang sangat pelan. Mahen dan Brian hanya menyaksikan Byan dari kaca yang ada di sana. Mereka tidak ingin menganggu waktu Byan bersama dengan Anthony. Meskipun Mahen orang luar, namun selama 4 tahun ini dia mengerti dan tahu jika Byan sebenarnya memiliki hubungan darah dengan Anthony.


"Hei pria tua!"


"Kau bilang kau ingin menemuiku kan, kau ingin meminta maaf padaku. Sekarang bangunlah, jangan terus tidur seperti ini. Aku sudah berjanji untuk mempertemukan mu dengan cucu-cucu mu. Apa kau tidak ingin melihat mereka?" Byan berbicara dengan nada tingginya. Dia benar-benar bingung saat ini, dia membenci Anthony, tapi dia juga tidak bisa mengabaikannya. Byan akan baik-baik saja jika Anthony sehat. Namun jika seperti ini, Byan tidak terima.


Byan ambruk di samping ranjang ayah kandungnya. Brian yang melihat kejadian itu hendak masuk dan menenangkan istrinya, namun ketika dokter Mahen menarik lengannya, Brian kembali pada posisi semula.


"A ... ayah. Bangunlah! Bangun agar aku bisa memaki mu. Aku akan memaafkan mu jika kau mau membuka mata. Aku tidak akan marah lagi, tolong dengarkan aku. A ... yah. Bangunlah agar kau bisa menebus dosa-dosa mu padaku."


Byan mulai terisak dengan tubuh yang bergetar hebat. Kedua tangannya mencengkram kuat jubah yang ada di atas pahanya. Dadanya sesak jika memikirkan kemungkinan terburuk yang mungkin saja akan terjadi.


"Tolong bangun Ayah, maafkan aku. Maafkan aku karena datang terlambat. Maafkan aku Ayah, 4 tahun ini, aku juga telah menelantarkan anakku. Aku tidak mengurus mereka, aku tidak mengasihi mereka. Aku bahkan tidak pernah menggantikan popok mereka sekalipun. Aku tidak ikut menemani mereka bergadang. Yang aku lakukan hanya tidur dan menyusahkan mereka. Namun setelah 4 tahun itu berlalu, aku mengharapkan kasih sayang dari mereka. Sekarang aku sudah sama jahatnya dengan mu. Kau tidak sendirian lagi ayah. Akupun melakukan kesalahan. Dan mereka memaafkan aku. Sekarang bangun, minta maaf padaku. Aku akan langsung memaafkan mu Ayah."


Byan semakin tertunduk dengan Isak tangisannya. Dia tidak sadar, jika Anthony sedikit menggerakkan jemarinya. Bahkan, sudut matanya berair. Lelaki itu menangis dalam tidurnya. Namun, beberapa detik setelah itu, Byan mendengar suara monitor detak jantung ayahnya berhenti. Hanya ada satu nada yang dia dengar.

__ADS_1


"Ayah!" gumam Byan. Dia berdiri dan melihat ke arah monitor tersebut.


"Ayahhhhh. Ayah apa yang kau lakukan, aku menyuruhmu untuk bangun. Aku tidak meminta mu pergi. Ayah jangan lakukan ini. Byan tahu Byan salah, jika ada kata-kata Byan yang membuat Ayah terluka, Byan mohon maafkan Byan. Ayah bangunlah. Byan mohon bangun Ayah. Ayahhhhh!"


Byan mengguncang tubuh Anthony. Ketika itu terjadi, Mahen dan Brian masuk. Mahen memencet tombol darurat dan mulai membantu Anthony. Sementara Brian, dia memeluk sang istri dan menariknya untuk sedikit menjauh.


"Om Ayah, Ayah. Dia pergi. Ayah marah kan sama Byan, kalau ayah gak marah sama Byan, ayah gak akan pergi. Kenapa Ayah ingkar janji. Bahkan, Ayah tidak menunggu Ammar dan Ameera. Kenapa Ayah melakukan ini kepada Byan Om. Apa Byan sudah keterlaluan selama ini. Apa yang harus Byan lakukan agar Ayah bisa mendengar permintaan Byan. Om ... kenapa Om diem aja, Om jawab Byan. Om jawab Byan Om."


Brian ikut menitikkan air mata merasakan sesak yang saat ini sedang di rasakan istrinya. Dia mendekap tubuh itu semakin erat tat kala Byan semakin tak terkendali. Di depan sana, para dokter dan juga perawat sedang membantu Anthony. Namun apapun yang mereka lakukan, nyatanya Anthony sudah tidak bisa di selamatkan.


"Jam 07 : 35 menit , adalah waktu kematian pasien." Mahen menutup seluruh tubuh Anthony setelah mengumumkan waktu kematiannya.


"Tidak, jangan lakukan itu. Ayah hanya tidur sebentar, apa kalian lupa, aku juga tidur seperti itu selama 4 tahun. Dia akan bangun. Jangan lepas apapun yang ada di tubuhnya. Bantu dia agar bisa tetap hidup. Aku mohon dokter aku mohon!"


Byan terus meronta untuk keluar dari dekapan suaminya. Namun Brian tidak melepaskan pelukan itu, hingga, beberapa detik kemudian, dia merasakan tubuh istrinya semakin lemah dan merosot ke bawah.


"Baby, By. Bangun Sayang!"


"Bawa dia ke IGD Brian!"


Mereka tidak mungkin memeriksa Byan di sana karena Anthony masih belum di pindahkan. Terlebih, alat-alat bantu belum di seterilkan. Dan yang lebih parahnya lagi, mungkin saja tempat ini akan menjadi tempat yang sangat Byan benci.


To Be Continued.


Ada yang ngabisin tisu gak sih. 😭😭😭

__ADS_1


__ADS_2