
Rendy tersenyum saat melihat Brian masuk ke ballroom hotel tempatnya melangsungkan pesta pernikahan. Namun, beberapa detik kemudian saat dia melihat sepasang sejoli yang ada di belakang Brian, senyumnya luntur begitu saja.
"Selamat Bro. Sekarang udah gak jomblo lagi!" ucap Brian. "Udah gak boleh main solo ya!" bisik nya membuat Rendy tersedak.
Rendy membalas rangkulan Brian. Dia juga menepuk bahu sahabatnya beberapa kali dan mengucapkan terima kasih. Namun, lagi-lagi fokusnya teralihkan oleh Navisa, wanita cantik yang dulu hendak dia nikahi, Rendy tahu kalau Navisa ini memang lebih cantik dari istrinya. Andai dia bisa melawan orang tuanya dan menolak perjodohan ini. Rendy pasti akan meminta maaf kepada Navisa dan memintanya untuk memulai semuanya dari awal lagi.
"Selamat ya Kak. Berbahagialah dengan wanita yang kau nikahi. Jika kau tidak bahagia, maka kau akan rugi, karena aku juga sudah sangat bahagia bersamanya."
Tangan kanan Navisa menjabat tangan Rendy, namun tangan kirinya menarik lengan Aldi membuat Aldi terperangah. Navisa menoleh, memberikan senyum termanisnya untuk kekasih dadakannya tersebut.
Tanpa sadar Aldi pun ikut tersenyum, bahkan kini dia melepas paksa tangan Rendy dari tangan Navisa.
"Selamat untuk mu Kak. Terima kasih karena telah memberikan ku kesempatan untuk memiliki wanita secantik dan sebaik Navisa."
Redy tersenyum tipis, namun di balik punggung sang istri, tangannya terkepal kuat. Dia seperti sedang menerima ejekan dari orang-orang ini. Meskipun Rendy tahu jika Aldi ini adalah adik dari sahabatnya, namun rasanya Rendy sangat ingin memukul Aldi dan menjadikan pria itu samsak tinjunya.
Brian ikut tersenyum melihat gelagat Rendy dan juga adiknya. Sebenarnya Brian datang ke sini bukan hanya untuk menghadiri pesta pernikahan Rendy saja, namun dia memiliki beberapa klien penting yang harus dia temui.
****
Hari semakin larut. Navisa dan Aldi kini berada di lantai paling atas hotel tersebut. Infinite fool yang ada di sana memang sangat indah. Sangat cocok di jadikan tempat untuk menyembuhkan hati dari perasaan lama.
"Udaranya dingin!" ucap Aldi memakaikan jasnya pada Navisa. Wanita itu menoleh, ia tersenyum meski dengan senyuman tipis.
"Terima kasih Aldi, jika kalian tidak ada di sini, mungkin aku tidak akan percaya diri untuk menemuinya. Gaun ini juga sangat cantik, aku tidak percaya Kak Brian mempersiapkan ini semua untuk kita."
Aldi mengangguk, dia juga sebenarnya tidak tahu menau tentang pakaian yang sudah Brian siapkan. Yang dia tahu, Brian hanya mengajaknya pergi ke Singapura untuk menemui klien. Dia tidak menyangka, jika tujuan Brian sebenarnya adalah ingin mempertemukan dia dengan Navisa.
"Aku harap kau bisa move on Na, Rendy bukan yang terbaik untuk mu. Masih banyak laki-laki di luaran sana yang ingin menjadikan mu orang sepesial di hidup mereka."
Navisa tersenyum, menundukkan kepalanya lalu kembali mendongak. "Aku tidak berani mengharapkan apapun sekarang Al, aku hanya akan menjalani hidupku yang seperti ini. Aku senang jika aku memang masih belum di berikan jodoh, itu artinya, aku masih di berikan kesempatan untuk menemani Byan dan juga si kembar."
****
Byan menganggukkan kepalanya mendengar semua cerita dari sang suami. Jujur saja, dia masih merasa sangat bersalah kepada Navisa. Walau bagaimanapun, karena dia, Navisa batal menikah dengan Rendy. Byan tidak pernah berpikir jika Navisa akan melakukan hal gila seperti itu. Sekarang, Byan hanya bisa berharap dan berdoa kalau Navisa akan mendapatkan jodoh yang terbaik untuknya.
"Menurut Om, Aldi dan Navisa bagaimana?"
__ADS_1
Brian menautkan alisnya. Menyentuh wajah sang istri dan mengelusnya lembut. "Aku tidak pernah keberatan Aldi mau menikah dengan wanita manapun, asal dia bahagia, aku akan selalu mendukungnya."
Byan tersenyum, merentangkan tangannya meminta Brian untuk menghambur ke dalam dekapannya. Byan semakin bangga bersuamikan Brian, selain cerdas dan tampan, ternyata dia juga adalah orang yang sangat bijak, di mana Brian tidak akan menempatkan sebuah kebahagiaan di atas uang dan kemewahan.
Keluarga Nugroho membuat Byan yakin, jika tidak semua orang kaya di dunia ini hanya memandang uang dan kekayaan. Nyatanya, kebahagiaan dan cinta terkadang jadi fokus tujuan mereka. Byan harap, suatu hari nanti, akan semakin banyak orang kaya yang memiliki pemikiran netral seperti keluarganya.
"Terima kasih Om. Byan bangga punya Om. Mulai sekarang, Om adalah aset yang sangat berharga untuk Byan."
Mereka berdua terhanyut dalam perasaan mereka masing-masing. Sama-sama mensyukuri satu sama lain, dan juga saling berjanji jika mereka akan menjadi pasangan yang setia untuk selamanya.
...----------------...
"Apa yang sedang kalian lakukan?"
Aldi memekik lantaran melihat Ammar dan Ameera sedang menempelkan telapak tangannya di tembok. Bukan karena apa, telapak tangannya itu penuh dengan cat air. Alhasil, tembok rumah dan lantai menjadi sangat berantakan.
"Om Aldi, Om Aldi itu jangan bentak-bentak kami, kalau Om Aldi malah, Om halus istigfal, Om gak boleh malahin Ammal dan Ameela. Kami masih kecil Om."
"Erggghhhh!"
Aldi mengepalkan kedua tangannya di samping tubuh, giginya gemeretak beradu karena menahan kesal agar tidak meluap pada bocah-bocah kecil yang ada di depannya.
Aldi menunjuk kanvas yang ada di depan para bocil tersebut. Namun, namanya juga anak kecil, mana bisa mereka di tertibkan dengan cara seperti itu.
"Om Aldi, canvas ini tidak menarik, Ameera dan Ammar lebih suka menempelkan warna di tembok. Ini lebih luas dan lebih memungkinkan untuk menampung banyak cap."
Mata Aldi membola saat mendengar penjelasan dari Ameera. "Sangat luas, nampung lebih banyak?"
Jantungnya berdegup kencang. Jangan bilang kalau Ammar dan Ameera.
"Yakkkkkk!"
Lengkingan itu terdengar saat Aldi melihat sekeliling rumah. Hampir semua tembok di penuhi dengan cap tangan-tangan kecil yang lebih mirip tangan cicak. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi. Apa yang harus dia lakukan.
"Mangkanya jangan pacalan mulu Om. Jadi kan gak bisa ikutan main, gimana hasil kerja keras Ammal sama Ameela, bagus kan?"
Aldi menghembuskan napas kasar. Tiba-tiba dia membaringkan tubuhnya di atas lantai, meraung-raung sambil menggoyangkan tangan dan kakinya seperti seorang bocah.
__ADS_1
"Kak Brian! Kak Byan! Aku menyerah. Aku tidak ingin mengawasi bocil-bocil ini lagi. Aku menyerah. Aku gak sanggup."
Ameera dan Ammar saling menatap. Mereka berdua tersenyum saat melihat Aldi terlentang di atas lantai.
"Satu!"
"Dua!"
"Tiga!"
Hap!
Ameera dan Ammar menempelkan telapak tangan penuh cat mereka di wajah Aldi. Laki-laki itu hanya bisa pasrah meskipun mulutnya tidak bisa berhenti mengumpat dan memarahi bocah-bocah kecil itu.
Hahahaha. Hahaha. "Om Aldi lucu, Om kayak badut."
"Ya Tuhan, kenapa kau kirimkan aku keponakan yang sangat pintar seperti ini."
"Aku bukan Om kalian. Huaaaaaa. Ibu, tolong anak mu Bu!" .....
To Be Continued.
Gaun malam neng Navisa.
Setelan Akang Aldi.
Setelan Om ganteng. 😍😍😍
Ammar
__ADS_1
Ameera