Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Kegenitan Anandita


__ADS_3

🔥🔥🔥


Jangan lupa kembang sama kemenyan nya. Happy Reading Guys.


.


.


.


Byan sejak tadi terus memperhatikan Anandita yang lagi-lagi mencoba untuk menyentuh kakaknya. Sebenarnya tidak apa-apa sih, tapi apa tidak bisa kalau dia tidak lebih kalem sedikit. Kalau Haris nanti ilfil sama Anandita kan tugas Byan jadi semakin berat.


"Dit, kok Navisa gak di ajak?"


Byan bertanya karena biasanya Dita dan Navisa ini satu paket. Namun hari ini, Byan tidak melihat Navisa.


"Jangan sebut-sebut Navisa, aku sengaja gak ngajak dia. Bisa gawat kalau nanti Kak Haris suka sama Navisa." Anandita berbisik di telinga Byan, dan di anggukki oleh gadis itu.


"Sekarang kita mau ngapain. Makan udah, nonton juga lagi gak ada yang seru. Om, Om ada ide gak?"


Brian menggeleng. Tidak mungkin dia memiliki ide. Brian ini kalau tidak di rumah ya di kantor, kalau tidak di keduanya pasti ada di sirkuit atau di club malam. Tapi itu dulu, sekarang Brian sudah tidak pernah pergi ke club malam lagi.


"Aku ada ide!" Anandita tersenyum sembari mengedipkan matanya kepada Byan.


***


Anandita tertawa terbahak-bahak melihat wajah pucat pasi Haris setelah turun dari roller coaster setinggi 30 meter. Sedangkan Byan dan Brian. Mereka berdua terlihat menikmati permainan yang baru saja mereka naiki. Ya, tadi Anandita mengajak Byan dan yang lainnya main ke Dufan. Dia sengaja ingin menghabiskan waktu libur dengan bersenang-senang.


"Maaf Kak Haris, aku kira kau ini suhu. Tapi ternyata ... akh sudah lah. Sekarang kita mau naik apa By?"


"Aku mau naik itu!"

__ADS_1


Byan menunjuk salah satu wahana bermain dengan balok kayu yang meluncur dari atas ketinggian 20 meter seperti meluncurnya air terjun.


"Kalian main berdua dulu gak papa kan? Ada yang mau aku obrolin sama Kak Haris!"


Brian mengangguk. Dia mengusap kepala Byan lembut lalu membetulkan posisi masker yang Byan kenakan.


"Eumm," angguk Byan. Dia menarik tangan Dita lalu pergi ke wahana permainan yang selanjutnya.


Brian tersenyum di balik masker yang dia kenakan. Brian memberikan isyarat meminta Haris untuk duduk di salah satu kursi panjang yang ada di sana.


Senyum di bibir Brian semakin lebar tat kala dia melihat Byan yang bermain dengan begitu riang. Haris yang ada di sampingnya ikut tersenyum.


"Dia sangat lucu bukan, Byan itu adalah orang yang sangat berharga untuk kami. Sejak kecil kami selalu memanjakan dia dengan kasih sayang. Namun, karena Ayah terlalu menyayangi Byan, Byan sangat jarang bermain seperti ini. Apalagi setelah ibu sakit, Byan semakin banyak menghabiskan waktunya di rumah walaupun dia mungkin ingin bermain layaknya anak remaja seusianya."


Brian menoleh. Dia melihat raut wajah Haris dengan seksama. Brian tidak bisa membaca ekspresi yang di tunjukan oleh Haris karena kakak iparnya itu menunjukkan ekspresi yang berubah-ubah. Satu hal yang dia tahu, Haris ini sangat tulus dan dia begitu menyayangi Byan.


"Tolong jaga dia untuk kami Bi, hanya kau yang bisa kami andalkan sekarang." Haris berbicara sembari menatap Brian. Brian tersenyum lalu mengangguk.


Haris memutar tubuhnya. Sepertinya dia sudah yakin jika Brian adalah laki-laki yang tepat untuk Byan, bahkan Brian sudah memikirkan masa depan Byan, itu artinya Brian sangat memperdulikan adiknya.


***


Hari sudah semakin sore. Brian pamit lebih dulu karena dia tidak bisa membiarkan Byan pulang malam. Malam ini Byan masih harus belajar untuk ujian besok.


"Kakak, aku pergi ya, lain kali main ke rumah Om Brian. Jangan ketemu di luar seperti ini terus."


Haris mengangguk. Tangannya terulur mengusap kepala Byan ketika gadis itu memeluknya seolah tidak ingin pergi menjauh darinya.


"Belajar yang rajin. Semoga ujiannya lancar."


Byan mengangguk. "Kakak hati-hati kalau mengantarkan Dita pulang, dia itu terlihat seperti cat woman, tapi sebenarnya dia adalah vampir penghisap leher. Kalau dia macam-macam di jalan, lemparkan saja dia ke semak-semak."

__ADS_1


Haris terkekeh mendengar bisikan adiknya. Sementara Anandita, dia malah tersenyum seperti orang bodoh karena dia tidak tahu apa yang Byan katakan.


"Hati-hati Dita, awas kalau sampai Kak Haris lecet. Aku pasti akan memberi kamu pelajaran."


Dita mendelik tajam. Seharusnya Byan menghawatirkan dia bukan Haris. Jelas-jelas di sini Haris yang di untungkan, kenapa jadi dia yang di sudutkan.


"Ayo aku antar kamu pulang!"


Anandita yang berwajah masam kembali tersenyum. Dia mengangguk lalu mulai mengenakan helm yang Haris sodorkan.


***


Baru setengah perjalanan, tiba-tiba hujan turun sangat deras. Haris menepikan motornya di dekat halte bus. Mereka langsung berlari untuk berteduh. Kenapa juga tiba-tiba harus hujan, Haris juga tidak membawa jas hujan saat itu.


"Pakai ini!" Haris melepas jaketnya lalu menyelimuti punggung Anandita dengan jaket yang dia lepaskan. Anandita menatap Haris dalam, sangat dalam sampai dia tenggelam pada ketampanan laki-laki itu. Matanya berbinar dengan wajah yang memerah.


"Kau demam?" Haris menempelkan punggung tangannya di kening Anandita.


Deg!


Jantung Anandita berpacu semakin kencang, tangan hangat Haris membuat hatinya memanas bergejolak seperti sebuah air yang sedang di panaskan di atas kompor.


"Kau baik-baik saja kan?" kembali bibir Haris bergumam.


Dita menggeleng. Tanpa sadar hidungnya kembali mengeluarkan darah membuat Haris menjadi sangat panik.


"Hidungmu, hidungmu berdarah!" Haris menunjuk hidung Dita. Bukannya terkejut atau apa, Dita malah mengusap hidungnya menggunakan punggung tangan sembari tersenyum lebar seperti seekor kuda.


"Astaghfirullah, gadis ini kenapa, dia nggak kerasukan kan?" Haris bergumam dalam hati. Dia agak merinding namun tidak mungkin juga dia meninggalkan Anandita dalam kondisi seperti ini. Haris melantunkan ayat kursi, dan tiga surah kul di dalam hati.


"Lindungi hamba dari gangguan jin dan syaitan ya Allah."

__ADS_1


To Be Continued.


__ADS_2