Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Protektif


__ADS_3

Kembang sama kemenyan jangan lupa. 💃💃


.


.


.


"Haciwwww."


"Haciwwww."


"Haciwwww."


Brian menggelengkan kepalanya. Dia berjalan mendekati Byan sembari membawa teh madu di tangannya. Dengan lembut tangan itu terulur mengusap kepala Byan dan memberikan gadis itu teh yang dia bawa.


"Maaf, aku gak tahu kalau hari ini akan turun hujan," ungkap Brian duduk dengan wajah yang merasa bersalah.


Byan menggeleng. "Gak papa Om, Byan gak papa kok. Kan Om bukan pawang hujan atau peramal cuaca. Di kira awan ini AC apa bisa Om kendalikan lewat remote."


Brian tersenyum tipis. "Terus gimana, besok juga gak bisa libur karena ujian. Kamu demam By!" Kembali bibir itu berucap dengan suara yang lemah.


Gadis itu menaruh gelas dari tangannya dan bergeser untuk memeluk sang suami. "Byan udah bilang Byan gak papa Om. Hari ini Byan seneng banget. Byan gak pernah sebahagia ini. Om jangan khawatir terus, hari ini Byan mau belajar tapi gak kuat kayaknya. Byan boleh minta tolong bacain ulasan pembahasan pelajaran untuk ujian besok gak Om?"


Brian mengangguk. Dia membantu Byan untuk berbaring lalu mengambil sebuah buku yang dia rasa itu adalah buku yang saat ini Byan perlukan.



"Katanya mau belajar, ini di simpen dulu!"


Brian mengambil buku yang ada di tangan Byan lalu duduk di tepian ranjang dan mulai membacakan beberapa materi. Baru 30 menit memulai, Byan sudah memejamkan mata sembari memegang satu tangan suaminya. Brian tersenyum. Dia menutup buku dan menyelimuti istrinya.

__ADS_1


"Selamat tidur sayang, semoga ujiannya lancar. Cepet sembuh!"


Cup!


Brian mengecup kening Byan sekilas lalu beranjak dari atas ranjang untuk membereskan beberapa pekerjaannya yang belum selesai.


***


Keesokan harinya, Byan benar-benar pergi ke sekolah. Sejujurnya Brian sudah mewanti-wanti Byan dan mengatakan kalau dia bisa saja membantu Byan untuk meminta izin. Namun gadis itu tetep kekeuh dengan pendiriannya.


"Byan sudah bilang Byan baik-baik saja Om."


Brian menggeleng. Dia menempelkan keningnya di kening Byan. Laki-laki itu menghembuskan napasnya kasar. "Kamu demam By, wajah kamu semakin pucat. Mana bisa aku tenang. Jangan sekolah saja ya, kita pulang lagi?"


Dito tersenyum memperhatikan betapa perhatian bosnya kepada Byan. Laki-laki itu bertingkah seperti orang lain. Dito merasa sangat senang jika tuannya sudah benar-benar berubah.


"Tuan, ini sudah jam 7 lebih, Nona Kecil bisa terlambat."


"Om Dito bener Om, Byan harus pergi sekarang. Om pergilah bekerja. Nanti Byan pulang sama Aldi aja, kan Byan pulangnya cepet."


Brian mengangguk. Dia mengecup bibir istrinya sekilas lalu membiarkan gadis itu pergi. "Hati-hati By, kalau gal kuat bilang aja sama gurunya."


***


Di dalam ruangan. Byan mulai merasa kurang enak. Kepalanya sedikit berdenyut. Dan parahnya lagi dia tidak satu ruangan dengan Navisa. Ada Anandita, tapi jarak meja mereka sangat jauh Byan tidak bisa meminta bantuan.


Sekarang sudah memasuki jam pelajaran kedua. Dan Byan sudah mulai kesulitan untuk fokus dan berkonsentrasi pada ujiannya.


Di tempat lain. Brian yang kala itu sedang ada di ruang rapat juga tidak bisa fokus. Dia menatap arloji di pergelangan tangannya. Masih jam 10, sepertinya sebentar lagi ujian Byan hari ini akan selesai. Tapi kenapa Brian tiba-tiba merasa tidak enak. Dia terus mengetukkan bolpoin pada berkas yang ada di atas meja.


"Jadi menurut Tuan Muda bagaimana? Bisakah kita meluncurkan produk baru kita bulan depan?"

__ADS_1


Tidak ada jawaban, bagaimana mungkin Brian akan menjawab sementara mendengarkan saja tidak.


"Tuan Muda! Tuan Muda bisa mendengar saya?" orang itu bertanya dengan nada suara sedikit kecewa.


"Tuan," Dito berbicara di samping Brian.


"Iya, kenapa?"


"Sebaiknya kamu pergi saja Brian. Ayah tahu pikiran kamu sedang tidak di sini. Pergi, biar Ayah yang mengurus ini semua."


Brian tersenyum. Dia langsung beranjak dan berlari dari ruangan itu.


"Dito pergilah! Temani dia, jangan sampai dia melakukan hal-hal bodoh!"


"Baik Tuan."


Belum sampai di luar perusahaan, Brian sudah mendapatkan panggilan dari Aldi. Hatinya yang sejak tadi merasa tidak tenang menjadi lebih tidak tenang lagi. Jantungnya berdegup tak karuan.


"Halo Aldi, Byan gak papa kan?"


.... .... ....


"What? Kenapa bisa, aku sudah mewanti-wanti semua orang yang aku pekerjakan di sana. Kalau melakukan hal seperti itu saja tidak becus, untuk apa aku menggaji mereka."


Brian langsung menutup panggilan teleponnya tanpa menunggu penjelasan dari Aldi.


"Biar saya yang menyetir mobilnya Tuan!"


Dito berlari, dia membukakan pintu untuk Brian dan masuk ke kursi kemudi.


To Be Continued.

__ADS_1


__ADS_2