Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Impossible


__ADS_3

2 hari kemudian, Brian dan Byan sudah kembali ke rumah mereka. Seperti biasa, Brian akan memperlakukan Byan seperti seorang bayi yang tidak bisa apa-apa. Wanita cantik itu di larang untuk beraktivitas. Bahkan untuk ke kamar mandi saja harus Brian yang temani dan tentu saja harus dia gendong.


"Om!"


"Hemm!"


"Om keluar dulu!"


"Kenapa?" tanya Brian dengan wajah tak berdosa nya.


Byan mendengus, dia menatap suaminya malas. "Bagaimana aku bisa konsentrasi kalau Om terus di sini? Emang gak bau apa?"


Brian menggelengkan kepalanya, dia malah menyenderkan tubuh pada wastafel di kamar mandi sembari menunggu Byan yang sedang buang air.


"Om keluar gak! Kalau Om gak keluar, Byan nanti gak akan mau di urus Om Lagi, kotoran Byan mana mau keluar kalau Om terus di situ. Byan mau ngeden nih!"


Brian tidak perduli. "Ya kalau mau ngeden tinggal ngeden aja, semua ekspresi kamu itu aku udah tahu By, gak harus malu."


Byan menggeram dalam hati, bibirnya sudah berkedut ingin meneriaki suaminya, namun karena dia tidak ingin membuat keributan, Byan berusaha untuk menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan-nya perlahan.


"Om Brian, kalau Om gak mau jadi duda, sebaiknya Om keluar! SEKARANG!" geram Byan sudah merasa tidak tahan. Dia sedang menahan mules luar biasa saat ini, namun suaminya malah bertingkah seolah-olah tidak terjadi apa-apa.


"Ikh, selalu aja gitu ngancemnya. Gak ada yang lain apa!"


Dengan wajah agak kesal Brian terpaksa keluar dari kamar mandi, dia menutup pintu itu perlahan.


Byan bernapas lega, akhirnya dia bisa fokus dengan kegiatannya, namun saat dia sudah mulai ngeden, tiba-tiba pintu kamar mandi kembali terbuka.


"Jangan lupa panggil aku kalau sudah selesai!"


"Yakkkkkk!"


Byan berteriak karena sudah terlalu kesal kepada sang suami. Oh ayolah, apakah dia ini anak balita yang masih membutuhkan bantuan orang lain saat melakukan apapun, apa harus buang air saja sampai di keloni seperti itu. Benar-benar keterlaluan.


Di meja makan, Anjani sudah menyiapkan berbagai macam lauk pauk untuk menyambut kepulangan menantu tersayangnya.


Plakkkkkkk!


Anjani memukul punggung tangan Aldi yang hendak mengambil iga pedas manis yang sudah Anjani buatkan khusus untuk Byan.


"Jangan makan yang itu, makan yang lain aja. Ini makanan kesukaan Byan!"


Plakkkkkkk!


Lagi-lagi Anjani memukul punggung tangan Aldi saat dia hendak mengambil ayam pop.

__ADS_1


"Ini juga untuk Byan?"


Anjani mengangguk. Aldi menggelengkan kepalanya. Dia tidak jadi makan dan lebih memilih untuk bersandar pada sandaran kursi sembari menyilangkan kedua tangannya, bibirnya mengerucut kesal.


"Jangan marah, ini, makan ini aja!"


Bima mengambil piring berisi telor mata sapi dan memberikannya kepada Aldi.


"Hei! Taruh itu!"


Anjani menatap Bima tajam sembari menunjuk piring berisi telor mata sapi yang masih Bima pegang.


"Eisshhhh. Kalau semua makanan ini untuk Byan, lalu kita makan apa? Makan angin?"


Bima ikut-ikutan merajuk. Selang beberapa waktu, Brian turun dengan Byan yang ada dalam gendongannya.


"Tuh si Bayi besar udah turun!" ucap Aldi masih dengan nada ketusnya.


"Kalian Kenapa?" tanya Byan sesaat setelah Brian mendudukkan nya di atas kursi, Aldi dan Bima memalingkan wajah mereka dari Byan. Byan mengangkat bahunya acuh, merasa tidak perduli dan Byan rasa sudah menjadi hal yang lumrah kalau kedua orang ini merajuk tak karuan.


"Makan yang banyak ya Nak!"


Anjani menaruh berbagai lauk di piring Byan, sementara Brian, dia membantu Anjani menaruh nasi di piring istrinya.


Byan tersenyum. Kini dia tahu kenapa Aldi merajuk pagi-pagi buta seperti ini.


"Eummm, iga nya enak banget Ibu, pedes, manis, gurih, semuanya pas. Ini benar-benar iga pedas manis terenak yang pernah Byan makan."


Byan sengaja mengompori Aldi yang kini sudah mulai melirik semua masakan Anjani kembali.


"Sudahlah, makan saja, tuh iganya masih banyak kok."


Tanpa menunggu basa-basi, Aldi dan Bima langsung menyerbu makanan yang tadi sempat ingin mereka makan.


"Jangan berebut!"


Anjani memekik karena Bima dan Aldi malah membuat meja makan berantakan.


"Terima kasih By!"


"Hei! Ibu yang masak."


Aldi dan Bima malah menjulurkan lidah mereka kepada Anjani, siapa suruh tadi Anjani melarang mereka untuk makan, alhasil, ungkapan terima kasih itu mereka sampaikan hanya untuk Byan.


Byan terkekeh melihat tingkah absrud kedua adik iparnya. Akhirnya dia bisa pulang lagi ke rumah dengan perasaan yang lebih lega. Tidak ada beban di dalam hatinya, dan dia juga akan memiliki seorang bayi.

__ADS_1


"By, apa dokter sudah memberikan kejelasan tentang kehamilan kamu?"


Tiba-tiba Nugroho berbicara hingga membuat semua orang menatapnya tidak suka, iya, karena semua orang sudah berusaha menahan diri agar mereka tidak bertanya meskipun mereka sangat kepo.


"Byan belum tahu Ayah, masih belum pasti."


Byan meminta maaf di dalam hati berkali-kali. Dia terpaksa harus berbohong karena dia ingin menghukum suaminya juga ingin memberikan sang suami sebuah kejutan.


Brian mengusap kepala Byan perlahan, menatapnya dengan tatapan penuh cinta dengan senyum menenangkan.


"Apapun hasilnya nanti, aku akan tetap berada di sisimu By. Kita semua akan selalu mendukung mu."


Byan mengangguk, entah kenapa dia menjadi merasa bersalah karena sudah merahasiakan ini dari semua orang.


"Maafkan Byan Om, tunggu sebentar lagi, kalau janin ini benar-benar bisa bertahan, Byan akan memberitahu Om."


"Kapan kamu mau nikah Bima?" tiba-tiba Anjani mengalihkan pembicaraan karena tidak ingin membuat Byan sedih.


"Lha, kenapa jadi Bima sih, nikah nanti aja, kerjaan aja belum pasti."


Nugroho mendengus. "Ayah udah bilang, kerja di perusahaan Ayah saja, Aldi juga ikut di sana kok, enak kan Al kerja di bagian keuangan?"


"Enak apanya Ayah. Aldi pengen gabung sama Byan aja. Repot kerja di divisi keuangan, selisih koma aja bikin kepala puyeng."


Brian terkekeh, lagipula Nugroho ini ada-ada saja, menghukum Aldi yang tidak mau bekerja dengan langsung memasukkan dia ke bagian keuangan, belajar saja dia malas, apalagi kalau harus hitung-hitungan tiap hari.


"Satu bulan lagi kamu harus bertahan di sana Al, kalau kamu bisa, selanjutnya kamu bebas mau kerja di divisi apa aja. Nah kamu Bima, kamu mau kerja apa?"


Bima mengerilingkan matanya. "Bima udah bilang, Bima ini pengen jadi pengembang Ayah, saat ini Bima sedang membuat game online sendiri, tapi Bima masih kekurangan sponsor. Ayah mau gak jadi investor di perusahaan yang sedang Bima kembangkan?"


"Ekh, kalau mau bikin usaha itu kerja keras, cari relasi dengan kemampuan kamu sendiri, ikuti jejak Brian, dia aja bisa narik investor dalam maupun luar negri, bahkan narik anak orang aja dia bisa. Mangkanya, belajar dari Kakak kamu."


"Kalau kamu mau, kenalan sama anak temen Ibu ya, dia cantik lho gak kalah lah sama Cole."


"Gak mungkin ada yang secantik Cole Ibu, Bima gak tertarik."


.


.


.


.


To Be Continued.

__ADS_1


__ADS_2