
"Kau mencari ku Adrian?"
Suara berat sedikit serak agak becek itu langsung membuat tubuh Adrian mematung. Detik berikutnya Kirani dan Adrian berbalik menatap pria tua di belakang mereka.
"Pak Anthony!"
Adrian berucap dengan wajah pucat pasi. Dia melihat ke arah pengantin lalu kembali menatap Anthony. Tangannya bergerak menarik tangan Anthony membawanya keluar dari ballroom.
"Pak Anthony, maafkan saya jika saya lancang. Tapi kenapa Anda ke sini? Jika Byan tahu, pernikahan ini bisa kacau." Adrian bertanya dengan suara pelan.
Kirani menatap Anthony tajam. Dia benar-benar tidak suka melihat Anthony. Namun kenapa pria tua ini harus datang.
"Apa yang kau inginkan?" sarkas Kirani tanpa mau basa-basi. Dia tidak perduli jika dia sudah bersikap tidak sopan. Bagi Kirani bersikap sopan juga harus pada tempatnya.
"Aku ingin menemui anak ku. Aku ingin menemui Byan. Hampir 5 tahun aku menunggu untuk bisa bertemu dengannya. Kau selalu menyembunyikan Byan dariku. Dia anak ku. Darah daging ku. Aku harus memberitahu Byan kalau aku ini Ayahnya. Aku yakin, dia akan kembali padaku jika aku meminta maaf padanya."
Kirani tersenyum mengejek ke arah Anthony. 5 tahun, dia bilang 5 tahun. "Byan itu sudah 21 tahun Anthony. Dan apa kau bilang, kau baru ingin menemuinya 5 tahun terakhir ini, lalu, 16 tahun lainnya ke mana. Apa kau tidak berpikir jika kau ini sangat menjijikkan."
Adrian menarik tangan Kirani. Dia tidak ingin Kirani menyulut emosi Anthony lebih dalam. Anthony memang cukup baik. Namun jika dia sudah marah dan sudah bertekad ingin melakukan sesuatu, dia pasti akan melakukannya. Sama seperti ketika dia membuang Byan dahulu. Karena ambisi yang dia miliki, dia sampai tega membuang darah dagingnya sendiri.
"Pak. Sebaiknya Anda pulang dulu. Tidak baik jika Anda menemui Byan sekarang. Aku yakin, akan ada waktu di mana kalian akan bertemu. Kalau Bapak menemui Byan sekarang, dia akan hancur. Apa Bapak tidak sayang kepada Byan?"
Adrian berusaha untuk meyakinkan Anthony dengan cara memohon. Hanya itu yang bisa dia lakukan agar pria tua ini tidak berbuat nekat dan membuat Byan mereka sedih di hari bahagianya.
Terdengar suara helaan napas berat dari bibir Anthony.
"Biarkan aku menemuinya. Aku akan datang sebagai seorang tamu. Aku tidak akan memberitahu dia kalau aku adalah ayahnya. Aku tidak akan lama."
Kirani mendelik. Dia ingin kembali menyela namun Adrian menghentikannya. "Baiklah, Bapak boleh menemuinya. Tapi setelah memberikan selamat. Bapak harus langsung pergi."
Anthony mengangguk. Adrian mempersilahkan dia untuk berjalan lebih dulu. Dan pada saat mereka sampai di depan pengantin yang sedang berdiri di depan pelaminan, Adrian menarik tangan kirani untuk tidak mengikutinya.
"Biarkan saja Bu. Aku yakin dia masih punya hati nurani. Adrian memeluk pinggang Kirani seolah-olah dia sedang mengikat istrinya agar Kirani tidak bisa ke mana-mana.
"Byan!"
Byan dan Brian menoleh. Jika Byan tersenyum tipis kepada Anthony, lain lagi dengan Brian. Pria itu menatap Anthony tajam. Tangannya refleks menarik pinggang Byan agar istrinya bisa menjauh dari Anthony. Urat-urat lehernya bermuculan. Suara gemeretak gigi Brian membuat Byan menoleh.
"Om, Om kenapa?" Byan menyentuh rahang suaminya mencari ketenangan di sana. Brian mengalihkan pandangannya dari Anthony. Pria itu menunduk sembari tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Aku gak papa Baby!"
Byan mengangguk.
"Selamat untuk pernikahan nya Nak!" Anthony mengulurkan tangan di hadapan Byan. Gadis itu menjabat tangan Anthony ragu. Brian ingin mencegah Byan namun tidak mungkin. Jika dia melakukan itu Byan pasti akan curiga. Sebenarnya apa yang di lakukan para penjaga. Kenapa mereka membiarkan orang ini masuk. Apa mereka bosan hidup atau bagaimana.
"Terima kasih," ucap Byan ramah.
__ADS_1
"Kau sangat cantik."
Byan tersenyum agak sedikit kurang nyaman. Apalagi Anthony masih belum melepaskan tangan Byan meskipun gadis itu sudah berusaha untuk melepaskan tangannya.
"Anda menyakitinya Pak Tua."
Brian melepas paksa tangan Anthony dari tangan Byan. "Kau baik-baik saja kan?" Tanya Brian menatap lekat sang istri.
"Byan baik-baik saja Om. Kenapa khawatir berlebihan seperti itu."
Brian tidak perduli. Tangannya kembali menarik pinggang Byan tidak rela jika dia terus berdekatan dengan pria tua di hadapan mereka.
"Semoga kalian bahagia!"
Anthony pergi dari atas pelaminan. Byan menatap punggung itu agak lama. Mata pria tua tadi membuat perasaan Byan agak sedikit aneh.
"Loh, tadi Ayah melihat Anthony di sini. Kenapa dia tidak ada!"
Nugroho celingukan mencari keberadaan tamunya. Brian menghembuskan napas berat. Jadi ayahnya yang memberitahu Anthony. Pantas saja Anthony bisa masuk.
"Ayah!"
Bima memekik membuat Nugroho menoleh.
"Ada apa?"
Nugroho tersenyum. Dia menepuk pundak Bima sembari berbisik di telinga putranya. "Ibumu sedang mengantar Cole ke toilet. Pergilah jika kau ingin mengikutinya."
Bima tersenyum agak kikuk. Dia kembali berjalan menjauh dari Nugroho yang mana itu membuat Nugroho menggeleng-gelengkan kepala.
"Kau lihat Bri. Adik mu yang satu bulan lalu tidak menyukai Cole, sekarang malah terus menempel seperti lem."
Brian tersenyum tipis mendengar celotehan Nugroho. Dia masih kesal lantaran ayahnya malah mengundang pria tua yang sangat tidak ingin Brian temui.
"Nak Brian, Ayah ingin berbicara sebentar."
Adrian tersenyum ke arah Brian meminta menantu nya untuk pergi menemuinya.
"Aku pergi sebentar Sayang, jangan pergi ke mana-mana. Tetap di sini!"
Byan mengangguk. "Pergilah!"
Brian mengecup pipi Byan sekilas lalu pergi dari sana.
"Bunny!"
Anandita, Navisa, dan Tania berlari menghampiri Byan. Ketiga orang itu di ikuti 3 pria tampan di belakang mereka.
__ADS_1
"Kalian kenapa lama banget, abis dari mana dulu?" tanya Byan pura-pura memasang wajah sedih.
"Lah. Kita makan dulu dong, urusan nemuin manten mah bisa belakangan. Kan udah kaduluarsa."
Navisa menggelengkan kepalanya mendengar perkataan konyol Anandita.
"By, Lo belum bunting ? Apa pusaka suami Lo karatan ya?"
Byan memutar bola mata. Apakah harus membahas hal seperti itu di sini. Dita ini benar-benar. Mana suaranya udah kayak toa.
"Dita, kalo ngomong itu di saring dikit kenapa. Kebiasaan deh!"
Navisa mendelik heran ke arah sahabatnya. Namun tidak dengan Tania. Gadis itu malah mendukung Anandita dan ikut mengompori Byan.
"By, aku ada titipan dari Ambu dan Abah!"
Dito memalingkan wajahnya saat dia mendengar kata titipan dari mulut Tania.
"Ambu dan Abah nitip apa Tania?"
Tania menyerahkan paper bag kecil kepada Byan. Byan menerima paper bag itu dan mengintip isinya.
"Ini apa Nia?" tanya Byan kebingungan.
"Itu jamu kuat By!"
Semua orang yang ada di sana menahan tawa mendengar Tania menyebutkan Jamu Kuat.
Haris dan Rendy tidak bisa menahan senyum di wajah mereka. Sedangkan Dito, dia menepuk jidatnya pening. Dito sudah mengingatkan Tania untuk tidak memberikan itu. Meskipun Byan sudah dewasa. Namun dia pasti tidak mengerti jenis jamu-jamuan seperti itu. Dito tahu kalau Brian sangat bugar karena dia selalu menjaga tubuhnya juga sangat rajin berolahraga.
"Jamu Kuat untuk apa, aku gak sakit kok."
Navisa menyerah. Dia memilih untuk duduk di kursi pengantin karena tidak bisa lagi mengikuti alur cerita teman-temannya.
"Ikh, Lo masih aja bego By. Ini itu jamu kuat. Lo kasih ke Om Brian Lo, biar dia tahan semalaman. Abis itu, dia bisa menabur benih dengan maksimal. Kecebong-kecebong peliharaan nya juga pasti makin aktif kalau di kasih jamu ini."
"Iya bener By. Abis ini pasti kamu kewalahan sampai muntah-muntah. Ini udah terjamin. Standar Ambu sama Abah udah gak bisa di raguin lagi."
Tidak ingin semakin membuat Tania dan Anandita berbicara ngawur. Dito dan Haris menarik kedua gadis itu untuk menjauh dari Byan.
Byan mengangkat bahunya acuh. Jamu, kuat, menabur benih, dia tahu apa yang mereka maksud. Tapi, maksud dari jamu itu untuk apa dia masih agak sedikit bleng. Dia menaruh paper bag itu di antara tumpukan kado yang lain.
"Ekh, ini kan dari Abah sama Ambu. Pasti spesial. Jangan di gabung deh." Byan menaruh paper bag itu di kursi pengantin yang tadi sempat Navisa duduki.
To Be Continued.
Udah dulu deh. Nanti lanjut part duanya siang ya. 😂😂😂😂 Jangan lupa like dan Komentarnya Guys.
__ADS_1