
Brian tidak henti-hentinya menggerutu di dalam taksi. Dito dan supir taksi itu tidak ada yang berani mengeluarkan suara, bernapas pun mereka sangat sungkan. Melihat Brian yang seperti ini membuat Dito menyesal karena dia malah memperpanjang kontrak kerja.
"Apa gak bisa lebih cepat?" tanya Brian membuat sopir taksi jengah, di depan mobil mereka banyak mobil lain, mungkin semua orang juga sama, baru pulang dari tempat kerja mereka, jadi jalanan padat merayap.
"Kita akan sampai sebentar lagi Tuan Muda."
Brian mendengus, dari tadi Dito terus berucap sebentar lagi, namun kenapa mereka masih belum sampai? Ini benar-benar menyebalkan.
Dua puluh menit kemudian, taksi yang Brian dan Dito tumpangi berhenti di depan rumah besar milik keluarga Nugroho. Brian langsung melesat keluar tanpa ada basa, basi, busuk, dia melihat mobil yang tadi Byan Kendari terparkir di depan rumah, oh syukurlah, Brian pikir Byan akan pergi jauh darinya.
Brian masuk ke dalam rumah dengan langkah yang tergesa. Matanya berpendar memperhatikan area sekitarnya yang terlihat agak gelap, tidak semua lampu di rumah itu di nyalakan, sebenarnya kenapa, apakah semua orang pergi? Brian kembali menoleh ke belakang, melihat situasi di luar rumah, sepertinya tidak ada yang aneh, dia yakin dia tidak salah masuk rumah. Ya kali dia masuk rumah tetangga.
"Assalamualaikum! By! Baby! Sayang!"
Brian terus berjalan sembari memanggil-manggil istrinya. Tidak ada yang menjawab, sangat sepi.
"By, jangan menakuti ku. Kau ada di rumah kan?"
Masih tidak ada jawaban.
"Babyyyyy!" teriak Brian karena sudah tidak tahan ingin menemui istrinya.
Ting!
Duarrrrrrrr!
Seketika itu seluruh lampu ruangan menyala, di iringi dengan suara letusan confetti popper yang membuat ruangan itu di penuhi dengan glitter dan potongan -potongan kertas warna-warni.
Brian bergeming, semua orang kini mulai mengelilinginya.
🎶
"Happy birthday to you. Happy birthday to you. Happy birthday, happy birthday, happy birthday Daddy!"
Brian mendongak menoleh ke arah tangga. Seorang wanita muncul membawa sebuah kotak berukuran sedang di tangannya. Mata pria itu berkaca-kaca, nyanyian selamat ulang tahun yang Byan lakukan untuknya benar-benar terdengar sangat apik. Wanita itu juga berdandan dan menegangkan gaun malam yang sangat indah.
Aldi mendekati Brian tat kala lagu ulang tahun yang Byan nyanyikan akan segera berakhir, Anjani dan Nugroho tersenyum sembari memeluk pinggang satu sama lain. Bukan hanya Anjani yang ada di sana, tapi Kirani, Anandita, Tania, Navisa dan semua pasangan mereka turut menjadi saksi atas kejutan yang Byan siapkan untuk suaminya.
"Buat permohonan dan tiup lilinnya Om!"
__ADS_1
Brian mengangguk, memejamkan mata sejenak, lalu meniup lilin yang ada di atas cake yang Aldi bawa.
Tepuk tangan dari semua orang membuat suasana malam itu sangat riuh. Meskipun tidak mengundang banyak orang, namun hanya di hadiri orang-orang terdekat saja rasanya sudah lebih dari cukup.
"Selamat ulang tahun suamiku, semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan, panjang umur, dan memudahkan segala urusan Om."
Brian tersenyum, lagi-lagi dia bungkam karena tidak sanggup untuk berkata-kata. Dia hanya bisa memeluk Byan dan mengucapkan terima kasih berkali-kali. "Aku mencintaimu Baby, sangat!" bisik pria itu masih enggan untuk melepas dekapannya. Tubuhnya bergetar yang mana itu membuat Byan terpaksa harus menjauhkan Brian sedikit.
"Jangan menangis, ini adalah hari bahagia, kenapa Om sedih?" Byan mengusap air mata di pipi sang suami.
Cup!
Tanpa ada rasa malu dan canggung Byan berjinjit dan mengecup bibir suaminya sekilas, satu hal yang selalu dia lakukan jika suaminya sedang dalam situasi hati yang buruk.
"Maafkan aku By, aku pikir kau marah dan akan pergi meninggalkan ku. Aku salah karena membiarkan wanita sialan itu menyentuh ku. Maafkan aku By!"
Brian kembali memeluk tubuh Byan. Wanita itu mengangguk lalu menggelengkan kepalanya.
"Om tidak salah, memang tadi Byan sempat kesal, namun saat di pikir-pikir, Om tidak membalas pelukannya bukan, dan saat itu, bukankah Byan yang ingin menolong Tante itu!" ujar Byan menepuk punggung suaminya. "Sudah, jangan menangis. Byan punya hadiah untuk Om!"
Brian melepaskan pelukannya, mengusap buliran bening di sudut matanya lalu menatap Byan lekat.
Byan menyerahkan kotak berukuran sedang itu kepada Brian.
"Ini apa?" tanya Brian.
"Buka saja!"
Semua orang diam, semakin memusatkan perhatiannya pada kotak yang sedang Brian buka, penasaran? Tentu saja, mereka memang di minta untuk membantu Byan menyiapkan acara malam ini, namun apa yang ingin Byan berikan untuk Brian mereka sama sekali tidak tahu.
"Cepetan dong Om! Buka gituan aja lelet ban mmmmppp!" Anandita tidak bisa melanjutkan ocehannya karena Haris yang membekap mulut embernya segera.
"Jangan merusak suasana sayang!" Haris berbisik di dekat telinga Anandita.
Perlahan kotak itu terbuka, Brian mengambil sesuatu yang ada di dalam kotak itu, beberapa potong kertas dengan gambar hitam, putih, dan abu-abu Brian keluarkan. Keningnya berkerut, dia menatap Byan untuk mencari jawaban.
Byan mengangguk. "Iya, Om akan segera jadi Daddy untuk bayi-bayi kita!"
"Oh my goodness. Lo hamil beneran By!" Anandita memekik membuat semua orang sadar akan maksud hadiah yang Byan berikan.
__ADS_1
"Jadi?"
"Iya, Byan hamil, insyaallah bayinya kembar." Byan tersenyum sembari mengelus perutnya.
"Masyaallah!"
Brian melihat foto hasil USG itu sekali lagi lalu menatap Byan.
Brukkkkk!
Brian menghambur memeluk istrinya erat, tanpa sadar, dia mengangkat tubuh istrinya membawanya berputar-putar beberapa kali.
"Brian cucu Ibu!" Anjani memekik karena takut terjadi sesuatu dengan calon cucunya.
"Maafkan aku Baby, apa kau baik-baik saja?" tanya Brian sesat setelah dia menurunkan Byan. Brian juga berjongkok untuk meminta maaf kepada para bayi kecebong yang kini mulai berkembang menjadi cicak.
"Maafkan Daddy sayang, Daddy terlalu senang mendengar kalau kau masih bertahan di dalam sini, I love u baby twin's."
Kirani menyeka buliran air di sudut matanya, dia tidak menyangka jika anak yang dulu dia rawat sejak bayi kini akan memiliki bayi, belum lagi melihat Brian yang sangat bahagia dan antusias mendengar kabar kehadiran calon bayi-bayi mungil itu.
"Selamat sayang, ibu bangga padamu!" Anjani memeluk Byan erat. Detik berikutnya Anjani malah menangis sesenggukan hingga tubuhnya bergetar hebat.
"Ibu, kenapa Ibu menangis?" tanya Byan mengusap punggung Anjani lembut.
Anjani menggeleng. "Tidak apa-apa. Ibu hanya terharu, Ibu dan semua orang sudah berpikir kalau kau kehilangan bayi yang sedang kau kandung, namun ternyata takdir Allah berkata lain. Ibu sangat bahagia sayang. Terima kasih karena sudah membantu cucu,-cucu ibu bertahan sampai sejauh ini."
Byan tersenyum. Dia juga sangat bersyukur karena Allah masih mempercayakan bayi-bayi ini padanya. Byan berjanji, Byan akan menjaga kehamilannya dengan baik.
Malam itu semua orang terlihat sangat bahagia, meskipun berlinang air mata, namun mereka menangis bukan karena sedih melainkan karena terlalu bahagia. Mereka kini sedang duduk di antara meja panjang yang sudah di penuhi oleh berbagai jenis makanan. Berbincang sambil sesekali tertawa. Akhirnya apa yang mereka tunggu datang, doa yang selalu mereka panjatkan nyatanya terwujud.
...Janji Allah itu pasti, selama kau tetap berprasangka baik, insyaallah, Allah akan memberikan yang terbaik untuk mu. Namun ingat satu hal, apa yang baik menurut mu belum tentu baik menurut Allah. Jika apa yang kamu minta dalam doa-doa mu belum terkabul jangan sedih, karena bisa jadi apa yang kamu minta bukalah yang terbaik untukmu menurut Allah....
Tamat belum ini Guys. 🤣🤣🤣🤣
Visual Neneng kalau ngantor. 😍
__ADS_1