Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Terbongkar


__ADS_3

Anandita dan Navisa menatap pemandangan di depan mereka dengan tatapan luar biasa. Kedua gadis itu saling pandang dan di buat terheran-heran. Bisa-bisanya Byan menipu mereka. Pantas saja Byan banyak uang dan selalu memakai barang-barang mewah, ternyata gadis itu sudah menikah. Dan gilanya lagi, dia menikah dengan calon pewaris perusahaan terkenal. Belum lagi pria itu sangat tampan. Baru kali ini Navisa dan Anandita melihat ketampanan yang paripurna bak seorang pangeran dari kayangan. Meskipun wajah pria itu terlihat tidak bersahabat, namun ketampanannya membuat Navisa dan Anandita meleleh seperti gula yang dicairkan.


"Jangan lupa kabarin Byan kalau udah nyampe. Nanti Byan tidur sama Ibu aja, jadi Om gak usah khawatir."


Brian tersenyum. Dia menarik pinggang Byan lalu mengusap dagu istrinya dan sedikit mengangkat dagu itu. Dia menghujami wajah Byan dengan kecupan-kecupan manis. Terakhir, dia menye sap bibir mungil itu sekilas. Sekilas dan tidak lama karena dia tahu semua orang sedang melihat mereka dari jauh.


"Jaga diri baik-baik. Kalau ada apa-apa langsung kabarin aku ya, Bima sama Aldi akan menjagamu selama aku pergi. Jangan terlalu banyak makan ice cream. Satu hari satu cup kecil saja."


Byan mengangguk. Dia memeluk leher Brian lalu berjinjit dan mengecup bibir suaminya. "Ya sudah, Om pergilah! Hati-hati, jangan lupa baca do'a dulu."


Byan berusaha melepaskan tangan suaminya, namun sepertinya suaminya itu sangat enggan melepaskan dirinya. Dengan sedikit usaha, Byan berhasil melepaskan tangan Brian lalu memasukkan suaminya ke dalam mobil. "Om Dito, titip Om Brian ya, kalau dia macam-macam, tinggalin aja Om Brian di sana. Buang ke laut biar gak bisa balik lagi."


Brian memanyunkan bibirnya. Tega-teganya Byan berkata seperti itu. Sejahat apapun Brian, masa harus di lempar ke laut juga.


"Dadah Om. Hati-hati!"

__ADS_1


Byan melambaikan tangannya mengantar kepergian sang suami. Dia kembali ke teras rumah. Kembali tangan itu di kibaskan di depan wajah Anandita dan Navisa.


"Kenapa bengong?" Navisa dan Anandita terperanjat. Mereka berdua menatap Byan dengan wajah memelas hampir menangis.


"Kenapa kehidupan mu sangat sempurna By, mengiri aku!" Navisa berbicara sambil Menarik tangan Byan. Byan hanya tersenyum. "Kita lanjut ngobrol di kamar aja. Bu, Byan ajak mereka ke kamar dulu ya!"


Anjani mengangguk. "Nanti Ibu akan suruh Mbok Jum bawa makanan ke atas. Yang betah ya di sini biar Byan ada temannya."


Anandita dan Navisa membungkuk canggung. Mereka pikir keluarga Nugroho ini adalah keluarga yang sombong karena kekayaan yang mereka miliki, namun sepertinya mereka salah, Anjani terlihat sangat baik dan ramah. Dia juga sangat menyayangi Byan. Sungguh beruntung Byan ini.


"Wah By, gila, Lo bener-bener beruntung. Selama ini gue selalu bermimpi untuk jadi orang kaya. Melihat ini aja Gue udah seneng, apalagi kalau gue yang kaya. Lo bener-bener beruntung Beib."


Byan menggelengkan kepalanya. Dia menarik Anandita dan Navisa untuk duduk di atas ranjang. "Karena kalian sudah tahu, aku akan jujur, sebenarnya cerita novel yang aku sebutkan waktu itu adalah cerita hidup ku sendiri."


"What? Jadi Elo di jodohin, tapi kok Gue lihat sepertinya suami Lo sayang banget sama Lo By, dia seperti sangat mencintai Lo."

__ADS_1


Kembali Byan menggelengkan kepalanya. "Gak kayak gitu, sebenarnya Om Brian baik kaya gitu belum lama ini, dia emang perhatian dan juga selalu berusaha nurutin apa yang aku mau. Tapi,-"


"Dia belum bilang kalau dia cinta sama kamu?" tanya Navisa menatap Byan yang memasang wajah sendu. "Kamu gak usah khawatir By, aku yakin, kamu bisa bikin dia jatuh cinta sama kamu. Kita janji, kita akan bantu kamu merebut hati Om Brian mu itu."


Byan menatap kedua sahabatnya. Anandita dan Navisa mengangguk kepada Byan. Byan tersenyum lalu memeluk kedua sahabatnya. "Terima kasih, kalian memang yang terbaik."


"Tapi gimana caranya supaya aku bisa bikin Om Brian jatuh cinta?" Byan melepaskan pelukannya namun dia masih menatap kedua sahabatnya itu lekat.


Anandita melirik Navisa, setelah itu, dia kembali menatap Byan sembari menaik turunkan alisnya.


"Ngapain kayak gitu?" Byan bertanya dengan wajah polosnya.


"Nanti juga kamu akan tahu," ucap Anandita dengan seringai di wajahnya.


To Be Continued.

__ADS_1


__ADS_2