Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Masih Bisa Bertahan


__ADS_3

"Om, apa Om sewa badut? Kenapa dia ada di sini?"


Brian mengangkat kedua bahunya acuh. Dia tidak tahu apa-apa. Seharusnya Byan menanyakan itu pada temennya bukan?


"Byan!"


Navisa berlari sembari tersenyum. Memeluk Byan erat hingga orang yang di peluk hampir kehabisan napas.


"Kau menyakitinya."


Brian mendorong Navisa untuk menjauh dari Byan.


"Om!"


Byan menatap suaminya sembari menggelengkan kepala. Brian tidak perduli. Mau siapapun itu, kalau dia sampai menyakiti Byan, dia tidak akan pernah segan.


"Kau bawa siapa Na?"


"Kak Rendy!" ucap Navisa menyeka buliran bening di sudut matanya.


Semua orang kembali menatap Rendy yang masih berdiri di dekat pintu. Wajah pria itu hitam legam. Hanya mata dan giginya yang terlihat. Entah apa yang terjadi, namun itu malah membuat semua orang tertawa terbahak-bahak. Brian bahkan ikut tersenyum. Begitupun dengan Byan.


"Ekh Kak Rendy, Lo abis kecebur got atau gimana?" Anandita bertanya sembari menahan perutnya yang sudah sakit karena tertawa.


Rendy mendengus. Dia meminta bantuan pada Navisa namun gadis itu malah ikut terkekeh.


"Dia bukan kecebur got Dit, tadi itu kita lagi di rumah aku pas kamu ngabarin kalau Byan udah sadar. Karena motorku lagi ngadat, aku kepaksa minjem motor ayah. Kak Rendy maksa untuk ikut, jadi aku bawa. Ekh di tengah-tengah perjalanan motor itu mogok. Kak Rendy yang dorong. Tapi pas aku coba nyalain lagi sambil narik gasnya, kenalpot motor Ayah malah meledak. Ya jadinya seperti itulah."


Semua orang malah tertawa semakin menjadi. Mereka tidak bisa membayangkan bagaimana terkejutnya Rendy. Jadi karena asap kenal pot mukanya hitam seperti itu. Tapi entah kenapa Rendy malah terlihat sangat lucu.


"Astaghfirullah. Siap banget nasib Lo Kak! Tapi lucu. Jadi kayak beruk!" ucap Anandita semakin tertawa.


...----------------...


Semua orang sedang berbincang di sofa juga di atas karpet yang sengaja mereka gelar. Orang-orang itu benar-benar keterlaluan. Bukannya pulang dan membiarkan Byan istirahat, mereka malah seperti sedang berkemah di kamar rawat Byan.


"Makan sedikit lagi Nak!"


Kirani menyodorkan sendok berisi nasi dan sup ayam kepada Byan. Byan menggelengkan kepala sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan.


"Byan kenyang Bu. Nanti aja Byan makan lagi."

__ADS_1


Kirani mengangguk. Dia mengambil gelas berisi air putih, dan memberikannya pada Byan.


"Cepat sembuh Nak. Jangan lama-lama sakitnya. Kalau kamu di sini terus, nanti ketemu lagi sama dokter."


Byan tersenyum. "Byan udah gak takut sama dokter Bu. Yang rawat Byan adalah dokter Mahen. Teman Om Brian, dia baik kok."


Kirani mengusap kepala Byan lembut. Syukurlah kalau Byan baik-baik saja. Dia sudah sangat khawatir berlebihan. Namun melihat semua orang yang ada di ruangan itu begitu bersemangat untuk menemani Byan membuat Kirani sangat bahagia.


"Baby. Air hangatnya sudah siap. Kita mandi dulu ya. Semua keperluan udah di siapin sama Ibu Anjani. Aku juga sudah mengecek suhu airnya."


Brian memangku Byan tanpa menunggu persetujuan dari wanita itu. Byan menurut. Dia mengalungkan satu tangannya di leher sang suami dan tangan satunya memegang tiang infus serta menyeretnya. Namun, ketika mereka sampai di kamar mandi, Byan mulai berucap sesuatu kepada Brian.


"Om, Byan mau di mandiin sama Ibu Kirani, boleh ya!"


Brian mendudukkan Byan di pinggiran bathtub yang sudah berisi air hangat juga sudah di beri sabun. Byan menatap mata suaminya lekat. Meskipun Byan tidak merengek, namun dari tatapan nya Brian tahu kalau sang istri sedang memohon.


"Baiklah, aku akan memanggil Ibu Kirani. Sekarang, aku akan membantumu melepas semua pakaian ini, setelah kau berendam, aku akan keluar."


Byan mengangguk. Dia menerima setiap perlakuan lembut Brian padanya, jujur saja, dia sempat berpikir kalau Brian akan berbuat nakal. Namun ternyata dia salah, Brian sangat memperhatikan nya hingga Byan tahu kalau Brian benar-benar menyayanginya.


"Tunggu sebentar. Aku akan memanggil Ibu."


Brian mengecup kening Byan sekilas setelah berhasil mendudukkan istrinya di dalam bathtub. Menit berikutnya, Kirani masuk, mengunci pintu lalu duduk di tepian bathtub.


Kirani berjalan agak memutar untuk mengambil handuk kecil yang bisa dia pakai untuk menggosok punggung putrinya. Byan merasa sangat nyaman. Sudah sangat lama sejak dia terakhir kali mandi bersama dengan ibunya.


"Bu!" panggil Byan lembut.


"Iya Sayang, ada apa?"


Byan menarik napasnya perlahan. "Byan ingin jadi Ibu seperti Ibu Kirani."


Deg!


Kirani sedikit tertegun, dia mematung untuk sesaat. Namun, saat dia sadar jika dia harus bersikap biasa saja supaya Byan tidak sedih, Kirani kembali menggosok punggung Byan sambil tersenyum.


"Iya Sayang, kalau sudah waktunya, kamu pasti akan menjadi Ibu yang baik."


"Byan masih memiliki harapan Bu. Janin ini baik-baik saja."


"Maksud Byan, calon bayi di dalam perutmu masih hidup?"

__ADS_1


Entah sejak kapan Kirani beralih duduk di depan Byan.


"Tadi, saat Om Brian tidur, Byan meminta bantuan kepada seorang suster untuk mengantarkan Byan ke dokter kandungan. Byan tidak rela kalau bayi ini sampai tidak bertahan." Byan berucap sambil menunduk dan mengusap perutnya yang masih rata. "Dokter mengatakan kalau janin ini baik-baik saja Bu. Byan bisa mempertahankan janin ini asal Byan bisa menjaganya dengan baik."


Kirani tersenyum sembari memeluk putri kesayangannya. Dia menangis haru karena tidak menyangka jika Allah masih memberikan putrinya kesempatan untuk memiliki janin ini.


"Apa Brian tahu Nak?"


Kirani sedikit mendorong tubuh Byan dan menatapnya lekat.


Byan menggelengkan kepala. Sedikit menunduk lalu kembali mendongak. "Byan akan memberi tahu Om Brian jika waktunya sudah tepat. Om Brian pasti merasa sangat bersalah. Byan ingin menghukum nya sebentar."


Kirani mencubit ujung hidung Byan gemas. "Kau ini memang sangat jahil By. Kasihan suami kamu, tapi gak papa sih, toh nanti juga dia akan tahu. Ibu harap, kalian semua sehat terus dan bahagia. Ibu gak mengharapkan apapun lagi selain itu."


...----------------...


Setelah selesai mandi, Brian kembali mendudukkan Byan di atas tempat tidur. Meskipun sebenarnya Byan tidak apa-apa dan sudah merasa lebih baik, namun Brian tetap memperlakukannya seperti seorang pasien.


"Om. Byan ingin minum jus lemon boleh gak?"


Brian diam untuk sejenak, namun saat melihat wajah sendu istrinya, dia menjadi tidak tega dan ... "boleh, tapi jangan pake es ya? Atau beli lemon madu hangat saja?"


Byan mengangguk antusias. Baginya, hangat atau dingin tidak masalah, yang penting dia bisa merasakan sesuatu yang asam.


"Aldi aja yang beli Kak!" Aldi berteriak menawarkan diri.


"Aku aja, Bima yang beli ya!"


"No, Aku udah janji kalau hari ini Kak Dito yang bakal beliin semua yang Byan mau. Biar Kak Dito aja yang beli."


"Enggak. Biar Ayah aja yang beli Bri. Ayah tahu cafe yang minuman nya enak di mana."


Semua orang menjadi sangat riuh. Byan hanya bisa tertawa melihat orang-orang itu begitu bersemangat untuk menyenangkan hatinya. Setelah semua yang terjadi, Byan merasa sangat bersyukur karena memiliki orang-orang yang sangat menyayanginya.


"Gue yang beli ya By. Lo tunggu aja."


Anandita berbicara tanpa suara. Dia berjalan mengendap-endap karena tidak ingin orang-orang tahu dan mereka akan kembali berebut untuk membelikan lemon madu hangat untuk Byan.


"Aku juga pergi," gumam Haris yang di balas anggukan oleh Byan.


"Apa kita sedang ternak bebek By, kenapa sangat berisik!" Brian berucap sambil menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Aku rasa," ucap Byan sedikit terkekeh.


To Be Continued.


__ADS_2