Dinikahi Sugar Daddy

Dinikahi Sugar Daddy
Pertandingan


__ADS_3

Hayo sajen mana sajen. Tebarkan bunga-bunga juga kemenyan yang kalian punya Guys. Semangat membaca ya. 💪🔥🏇🏇🏇🏇


Hari diaman Byan akan membantu Bima untuk melakukan pertandingan e-sport di kampusnya tiba. Byan keluar dari mobil Bima di susul Aldi, Anandita, dan Navisa. Aturan yang kampus berikan tidak seketat pertandingan resmi. Bima sebagai ketua kelompok boleh memilih siapapun yang akan ikut dalam kelompoknya dengan catatan 3:2 tiga untuk orang dalam dan 2 untuk orang luar.


Banyak mata tertuju pada Bima dan Aldi. Kedua laki-laki itu sangat tampan, sangat berkarisma juga tubuh tinggi mereka membuat para mahasiswi ketar ketir, sedang kan para mahasiswa merasa iri. Byan juga tak kalah jadi perhatian. Tubuhnya yang mungil dan wajahnya yang cantik dan masih sangat imut menjadi perhatian tersendiri. Apalagi saat ini gadis itu memakai riasan tipis di wajahnya, sudah pasti Byan akan terlihat lebih cantik dari hari-hari biasanya.


Bima, Byan, Aldi dan dua teman Bima sudah berdiri di atas panggung. Sedangkan Anandita dan Navisa, mereka berdua bersorak heboh di antara kursi para penonton.


"Semangat By!"


"Semangat!"


Tanpa menunggu atau basa basi. Mereka mulai duduk di kursi mereka masing-masing. Ketika lawan sudah menentukan Hiro mereka masing-masing, kelompok Bima juga sudah mengunci Hiro mereka. Keadaan terlihat begitu pelik karena ternyata, kelompok pesaing Bima ini tidak bisa di anggap remeh.


"Esmeralda, inget, kalau kamu kalah, nanti Brian pulang bawa cewek baru."


Bima berusaha mengompori Byan agar gadis itu lebih bersemangat. Dan benar saja, mengompori Byan dengan menyebutkan kata wanita lain adalah hal yang sangat berdampak.



Dengan dorongan kekomporan yang Bima berikan, Byan benar-benar bersemangat dan menggebu-gebu. Dalam beberapa serangan, dia bisa mengalahkan musuh.


Victory!!!!


Untuk ketiga kalinya kata itu terdengar oleh semua orang. Byan tersenyum bahagia. Dia melepas earphone yang dia kenakan lalu melompat ke arah Aldi dan Bima untuk memeluk kedua orang itu.

__ADS_1


"Kita menang guys, kita menang!"


Semua orang bersorak dengan ramai. Tanpa Byan sadari, di bangku penonton paling atas, suaminya sudah memperhatikan dia, meskipun kloter pertama Brian ketinggalan, namun kloter ke dua dia bisa melihat istrinya bermain dengan begitu lincahnya.


3:1 menjadi skor terakhir pertandingan itu. Bima menerima sebuah piala juga banner uang sebesar 50 juta yang diberikan oleh dekan-dekan yang ada di kampus.


Byan mengambil ponselnya yang bergetar di saku jaket yang dia kenakan.


"Keluar sebentar! Tangga darurat lantai 14"


Byan mengerutkan keningnya. Namun dia tidak banyak berkomentar. Dia menepuk pundak Bima meminta izin untuk ke toilet. Byan celingukan, dia mencari tangga darurat di sekitar lift. Dia membuka pintu itu lalu masuk, namun ketika dia hendak menutup pintunya kembali, tangannya di tarik oleh seseorang, Byan ingin berteriak namun orang itu membekap mulutnya dan memojokan Byan ke dinding.


"Sssttttt! Ini aku!" suara berat nan manly milik Brian membuat Byan langsung tersenyum. Dia melompat memeluk leher suaminya erat.


"Om, Om udah pulang, kenapa gak bilang sama Byan, Byan pikir Om masih lama di Bali."


Brian berbicara di samping leher istrinya, menghirup aroma wangi yang sudah 6 hari 6 jam tidak bisa dia rasakan. Byan ini benar-benar membuat Brian hampir gila. Brian yang pada awalnya terus menyangkal jika dia tidak mencintai gadis ini, sekarang mulai sadar dan mulai mengerti kalau Byan adalah satu-satunya sosok yang bisa membuat dia hilang akal. Brian belum pernah seperti ini sebelumnya. Meskipun dia kerap bergonta ganti wanita, namun dia belum pernah di buat gila seperti apa yang Byan lakukan padanya.


"Om, geli ikh, jangan cium di sana!" Byan mendorong bahu suaminya namun Brian malah menarik pinggangnya semakin erat. Laki-laki itu menatap Byan dengan napas yang memburu. Bibir ranum ini, kenapa terlihat sangat merah dan mempesona. Rasanya, Brian begitu ingin melahap bibir itu dan menggigitnya gemas.


"Om kit,-"


"Eumh!"


Byan memukul dada suaminya berusaha melepaskan tautan mereka. Jujur saja, Byan juga merindukan ciuman memabukkan yang selalu Brian berikan, namun tidak di tempat seperti ini, Byan takut ada yang tiba-tiba datang dan menuduh mereka melakukan hal-hal tak senonoh.

__ADS_1


*Bukannya itu emang tak senonoh ya By* 🥴 otakmu kek mana si.


"Om, Eumh,"


Brakkkkk!


Pintu darurat itu di buka dari luar. Brian langsung menyembunyikan Byan di balik coat yang dia kenakan. Sementara Byan, dia menunduk sembari menutup wajahnya yang panas dengan kedua telapak tangannya.


"Permisi!"


Seorang cleaning servis berjalan melewati Brian dan Byan. Cleaning servis itu terus berjalan, namun sebelum dia benar-benar menghilang, dia kembali mendongak melihat ke arah Brian.


"Siapa ya, kok rasanya gak asing." gumam cleaning servis itu lalu pergi.


Blam!


Brian bernapas lega. Dia menurunkan coatnya lalu mengangkat dagu Byan.


"Jangan lihat Byan Om, Byan malu. Byan mau pulang."


Brian terkekeh. Laki-laki kembali memeluk Byan dan mengecup pucuk kepala gadis itu beberapa kali. "Maafkan aku, aku selalu hilang kendali jika sudah berada di dekat mu."


*Akh modus ae Lo mah Bang.🤣*


To Be Continued.

__ADS_1


See you all ....


__ADS_2