
Kirani dan Adrian menatap gadis di depan mereka dengan tatapan bingung sekaligus tidak percaya. Anandita duduk tenang dengan senyum di bibirnya. Gadis itu tidak berbicara sepatah katapun. Hanya diam memperhatikan Kirani dan Adrian seksama.
"Ikh, kok malah pada diem sih, " ujar Kirani memecah keheningan. "Jadi, Nak Dita itu ada maksud apa datang ke sini?"
Anandita tersenyum. Dia mulai mencondongkan badannya sembari melambaikan tangan agar Adrian dan Kirani bisa lebih mendekat.
"Jadi, Dita mau kuliah di sini Ayah, Ibu. Dita akan tinggal bareng kalian."
Kirani dan Adrian melotot. Mereka saling tatap dan ....
"Apa?" pekik keduanya secara bersamaan. Anandita kembali tersenyum dengan anggukkan di kepalanya. Sementara Kirani dan Adrian saling tatap karena tidak yakin dengan apa yang baru saja mereka dengar.
"Maksud kamu, kamu akan tinggal bareng kita, di sini?" tanya Adrian memastikan. Masa iya anak perempuan bisa dengan mudahnya pindah tempat tinggal tanpa ada aba-aba seperti ini. Bukankah waktu itu dia marah, apalagi kedua orang tuanya yang sangat marah besar kala itu.
"Apa kau kabur lagi dari rumah?" Tanya Adrian menatap Anandita lekat. Gadis itu menggelengkan kepalanya membuat Adrian dan Kirani semakin bingung.
"Mama sama Papa Dita udah ngasih izin untuk Dita pergi dari rumah mereka. Kalau ayah gak percaya, nih Dita telpon kan Papa ya!"
Belum sempat membuat panggilan, ternyata sudah ada panggilan masuk ke ponsel Dita. Gadis itu semakin bahagia karena yang menelponnya ternyata adalah Stephani. Sang mama.
"Nah kan, panjang umur. Nih, Ibu aja yang ngobrol!"
Kirani mengambil ponsel itu dan menempelkannya di telinga. Dia melirik Adrian sekilas sebelum dia benar-benar bersuara.
"Halo Bu, ini saya Kirani. Ibunya Haris."
"Akh iya Bu. Saya mamanya Dita. Jadi saya mau titip anak saya sama ibu sama bapak, dia mengancam saya jika dia akan bunuh diri jika saya tidak mengijinkan dia pergi . Saya juga sedang mengembangkan usaha saya di Singapura. Tolong jaga Dita ya Bu. Saya janji. Saya akan mengirim uang untuk biaya hidupnya setiap bulan."
Kirani menatap Dita sekilas, tatapannya tidak seperti tadi, sekarang, tatapan itu berubah menjadi tatapan simpatik. Kirani tidak menyangka jika orang tua Dita bisa setega ini. Padahal, jika pun mereka ingin menitipkan Dita, seharusnya mereka sendiri yang datang ke rumah Kirani, bukan malah membiarkan Dita datang sendiri. Bisnis selalu menjadi alasan mereka untuk menelantarkan Dita. Pantas saja Dita Tidak betah di rumah dan enggan untuk tinggal bersama orang tuanya.
__ADS_1
"Ini ponselnya Nak!"
Anandita mengambil ponsel itu. "Ibu Ayah, tolong jangan bilang sama Kak Haris kalau Dita ada di sini ya. Dita gak mau Kak Haris salah paham."
Kirani dan Adrian mengangguk. "Mulai sekarang, kamu adalah anak kami. Jangan pikirkan hal-hal yang tidak penting. Seharusnya Ibu dulu mencegah kedua orang tuamu membawamu pergi. Kenapa Ibu malah membiarkan mereka menyeret mu seperti itu."
Kirani mengusap air mata di sudut matanya. Tiba-tiba saja dia merasa sangat sedih. Kasihan Dita, anak ini pasti sudah banyak menderita karena tidak mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari kedua orang tuanya. Memang benar kata orang. Anak itu kadang sengaja menyakiti hati orang tua mereka. Tapi orang tua, mereka terkadang tidak sadar jika mereka sedang menyakiti anaknya.
"Kau sudah makan belum? Makan sama ayam pop buatan Ibu ya, ibu ambilkan dulu di dapur."
Anandita mengangguk dengan Antusias. Sedangkan Kirani, wanita paruh baya itu berjalan dengan tergesa. Dia sudah tidak bisa menahan air matanya lagi.
"Ayah akan membantu Ibu dulu."
Lagi-lagi gadis itu hanya mengangguk.
"Ada apa sayang? Kenapa kau malah menangis seperti ini hmm? Bukankah seharusnya kita seneng karena dapat anak gadis lagi?"
Kirani berbalik, menatap mata suaminya sengit, lalu menunduk memeluk Adrian. "Ibu merasa sangat kasihan kepada Anandita Ayah, kenapa kedua orang tuanya begitu tega. Apa mereka tidak sayang sama Anandita. Kenapa mereka membiarkan Anandita dita tumbuh tanpa kasih sayang seperti itu?"
Adrian mengangguk-angguk kan kepalanya. Jadi karena ini istrinya menangis. Jujur saja, Adrian juga tidak terlalu suka kepada kedua orang tua Dita, mereka egois dan hanya memikirkan tentang uang, uang, dan uang. Padahal Dita adalah anak tunggal di keluarga itu, namun keberadaannya malah tidak di perdulikan sama sekali.
"Ibu yang sabar. Ibu tahu, dari kejadian ini. Kita bisa tahu kenapa Anandita sangat tidak suka tinggal dengan kedua orang tuanya. Mulai sekarang, kita yang akan merawat Dita. Ibu yang tenang ya!"
Sepasang suami istri itu malah semakin terlarut dengan perasaan mereka masing-masing. Sementara Dita, gadis itu malah sedang asyik tertawa dengan kedua sahabatnya yang ada di balik video call yang mereka lakukan.
"Tebak, gue lagi ada di mana?" Tanya Navisa menunjukkan sudut-sudut di ruangan itu.
Navisa mendekatkan wajahnya ke ponsel, dia meneliti setiap bagian dari sudut ruangan yang Dita tunjukkan.
__ADS_1
"By, lihat, itu anak malah lagi nongkrong di rumah kamu. Gak bener emang, di ajak ngikut ke sini gak mau, ekh malah ngungsi ke rumah kamu."
Anandita terkekeh mendengar ocehan dari Navisa. Namun tidak dengan Byan. Gadis itu terlihat sangat lesu. Dia malah kembali menarik selimut dan memejamkan mata.
"Si Bunny kenapa Na? Lagi dapet dia?" Tanya Anandita penasaran.
"Hei keong racun. Kamu itu gak ada akhlak emang. Di sana sudah jam 8 pagi. Di sini masih jam 3 be go. Mikir dikit kenapa sih?"
Anandita menekuk wajahnya heran melihat emosi Byan yang beda dari biasanya.
"Dia ke sambet Na? Pedes banget mulutnya."
Navisa hanya terkekeh. "Dia lagi marah Dit, kamu tahu sendiri, dia bilang dia kan menceraikan Brian karena dia masih gak rela di mutasi ke sini. Apalagi kita yang tiba-tiba di kasih tahu kalau kita saat itu gak jadi ke Korea Selatan. Byan marah dan sejak saat itu, seperti inilah dia. Seminggu di sini telah membuat anak kelinci kita berubah jadi anak singa."
Anandita tertawa mendengar penuturan dari Navisa. Jika dia jadi Byan, Dita juga pasti akan sangat kesal dan marah. Apalagi, saat dia tahu, jika sang suami sengaja memutuskan hubungan dengan dia.
"Hei induk kecebong. Molor ae Lu. Suami Lo buat gue aja ya. Lumayan lah, dapet ATM berjalan."
"Yak! Jangan-jangan berani-berani sentuh Om Brian. Kalau kau melakukan itu. Aku pasti akan membunuh Kak Haris."
Satu hal yang Byan tahu, alasan Dita tidak ikut adalah Haris. Jadi sekarang dia tahu kartu as gadis itu.
"Bunuh aja sana. Emang gue pikirin. Wleeee!"
"Ishhhh, dasar keong racun. Dita Lo nyebelin ...."
Tut!.
To Be Continued.
__ADS_1